Tuhan Yesus terima kasih untuk tangan kecil ini.
Tuhan Yesus terima kasih Engkau selalu memegang tanganku, tangan kananku.
Tuhan Yesus terima kasih Kau jadikan tanganku indah seperti tanganMu.
Tuhan Yesus terima kasih untuk tangan kecil yang tadinya tidak indah, tapi Kau buat menjadi indah.
Tuhan Yesus terima kasih untuk tangan kecil yang Kau berkati, untuk menjadi berkat.
Tuhan Yesus terima kasih untuk tangan kecil yang sudah tidak kecil lagi,
karena Kau percayakan untuk melakukan hal-hal yang besar.
Tuhan Yesus terima kasih biar lewat tangan yang Kau buat indah ini,
senantiasa memuji dan menyenangkanMu, berkenan, berbuat demi namaMu
sampai akhir hidupku.
Terima kasih Tuhan.
Sarah Sie Cindria Bramantyo,
- 4 September 2025 -
Sebagai kata-kata penutup,
“Jika aku mengerti, aku tidak mengerti.
Tapi, di dalam ketidakmengertianku,aku dibuat-Nya mengerti”
Sarah Sie Cindria Bramantyo,
- 13 September 2025 -
🌸 LoveSeed by Sarah 🌹Muliakanlah Allah : Berbuah dan Buahmu Tetap.Syalom saudara/i LoveSeed by Sarah yang terkasih di dalam Kristus,
Renungan hari ini saya ambil dari ayat berikut:
📔 Exodus 1:12 (NIV)
But the more they were oppressed, the more they multiplied and spread; so the Egyptians came to dread the Israelites📖 Keluaran 1:12 (TB)
Tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu.
Dalam terjemahan versi alkitab yang lainnya, kata ‘oppressed’ di sini diterjemahkan sebagai ‘mistreated’, artinya ada perlakuan yang tidak adil, dalam konteks ini, di tanah Mesir, setelah Yusuf meninggal dan raja yang baru yang tidak mengenal Yusuf memerintah.
Kata ‘spread’ dalam terjemahan versi alkitab yang lainnya, diterjemahkan sebagai ‘took over more land’, artinya daerah Bangsa Israel meluas.
Kemudian saya berpikir, “Tuhan ini kok lucu ya, orang semakin ditindas, kok semakin bertambah banyak, semakin berkembang”. Tapi, saya tahu, bukan Tuhan namanya kalau tidak buat sesuatu yang ajaib kan? Jadi, yang lucu ya: pertanyaan saya 🤭. “Siap! Tuhan gak pernah salah 🫡”.
Anyway, kemudian saya teringat akan janji Allah kepada Abraham dan istrinya, Sarah, yang ada di Kejadian pasal 22, mengenai akan diberikan kepada mereka: berkat yang melimpah, keturunan yang sangat banyak, dan keturunan mereka akan menduduki kota-kota musuh. Betapa kerennya Allah ya. Janji yang diberikan saat Abraham masih hidup di Kejadian pasal 22 digenapi Allah di kitab Keluaran 1, jauh setelah Abraham meninggal. Meskipun, Abraham sudah tidak ada, tapi Allah setia terhadap janjiNya dan janjiNya kekal. Firman ini menunjukkan kepada kita semua, bahwa Dia Allah yang tidak pernah lupa dan tidak akan lalai menggenapi janji dan sumpahNya, bahkan kekal sampai turun-temurun, sampai kita keturunan Abraham, Israel rohani, yang hari ini. Apa yang sudah Dia tetapkan, tidak akan berubah dan pasti Dia lakukan. Dia sangat tahu apa yang Dia rencanakan, dan rencanaNya tidak pernah salah, tidak pernah gagal.
Kalau kita perhatikan dalam Kejadian pasal 22, sejak awal Abraham tahu betul dengan jelas bahwa Ishak lah yang Tuhan minta untuk dijadikan korban bakaran. Sehingga, Abraham tidak membawa anak domba untuk korban bakaran. Bahkan dikatakan setelah sampai di gunung di tempat yang dikatakan Allah di tanah Moria, Ishak bertanya kepada ayahnya, “Bapa, di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” Abraham mengenal betul siapa Allah yang dia sembah. Makanya, jawab dia: “Allah yang akan menyediakan”. Inilah salah satu pribadi Allah yang dapat kita kenali dari perjalanan hidup Abraham.
Hal yang menarik untuk direnungkan adalah 2 perkataan Abraham ketika sebelum dia dan anaknya naik ke gunung yang ditunjukkan Tuhan di Kejadian 22:1. Ayat 5,
kepada kedua bujangnya itu: ”Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.”2. Ayat 8,
Kepada Ishak: ”Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
Saya rasa kalau itu hanya jawaban dari iman seorang manusia biasa saja, atau hanya kata-kata motivasi untuk menguatkan diri sendiri saja, atau kata-kata denial saja, maka tidak mungkin Abraham sangat teguh lakukan perintah Allah; naik, ikat Ishak dan mengambil pisau untuk sembelih Ishak. Dia lakukan pasti karena mengenal dan mengasihi Allahnya, maka Abraham diberi kekuatan untuk bisa tidak goyah, berani percaya, berkata-kata dengan penyerahan penuh, taat dan rela berkorban kehilangan segalanya demi melakukan kehendak Allah. Seperti Yesus yang naik ke atas kayu salib. Dan, seperti yang Abraham imani terjadi. Sesaat Abraham menyembelih Ishak, Allah hentikan dia. Allah sediakan tepat waktuNya, domba jantan yang tanduknya tersangkut dalam belukar sebagai korban bakaran ganti Ishak.
Renungan yang bisa saya bagikan adalah janji Tuhan buat kita pasti yang terbaik. Kita tidak perlu takut, karena Tuhan Yesus sudah kalahkan maut maka tidak ada kuasa yang melebihiNya dan semua ada di dalam kendaliNya. Di dalam Dia ada kehidupan, sebab Dia lah hidup, dan di dalam kehendak dan rencanaNya kita pasti berkemenangan. Pengikut Kristus tidak akan rugi apa-apa jika hidup untuk kemuliaan-Nya. Meskipun, untuk menerima janji Allah, pasti ada harga yang harus dibayar. Segala kedagingan, keinginan, kenyamanan, pengertian sendiri dan kepentingan pribadi. Tapi, semuanya itu tidak sebanding dengan kemuliaan yang Tuhan sediakan dan mahkota yang akan kita terima, bila kita mau menukarnya dengan ketaatan, memutuskan untuk mengandalkan Tuhan dan memandang Tuhan Yesus saja di atas segala masalah dan ketakutan, mengejar perkenanan-Nya dan selalu mau menyenangkan-Nya; hidup menjadi serupa dengan Tuhan Yesus Kristus. Maka, kita dapat menyaksikan kuasa, mujizat dan kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui kehidupan kita sebab Dia yang memilih kita.
Tinggallah di dalam Kristus, Pokok Anggur yang Benar, dan berbuah banyak sehingga Bapa dipermuliakan.
Yohanes 15:8 TB
Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.

Tuhan Yesus senantiasa menyertai dan memberkatimu.
🌸 LoveSeed by Sarah 🌹Menyangkal Diri, Memikul Salib dan Mengikut Tuhan Yesus Adalah Panggilan Bersaksi (Kesatuan di Salib) : Kasihi Allahmu dan Kasihi Sesamamu.Syalom saudara/i LoveSeed by Sarah yang terkasih di dalam Kristus,
Renungan hari ini saya ambil dari ayat berikut:
📔 Yohanes 15:27 (TB)
Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.
Ini perkataan Yesus kepada kedua belas murid-Nya ketika mempersiapkan mereka sebelum Yesus ditangkap. Kata ’tetapi’, menunjukkan seolah murid-muridNya, yang juga adalah banyak dari kita hari-hari ini, belum memahami bahwa panggilan dasar kekristenan adalah bersaksi bagi Kristus, bukan sekedar beragama. Ya, itulah panggilan untuk gerejaNya; kita orang percaya. Bersaksi tentang apa? Tentang iman keselamatan yang ditemukan di dalam Kristus. Roh Kudus memberitahukan, yang saya juga baru tahu ketika mempersiapkan renungan ini, bahwa ada yang namanya ‘marturia’, yang artinya “panggilan dasar bersaksi”.
Kata ‘dari semula’ pada ayat ini sebetulnya merujuk pada kedua belas murid yang sejak semula sudah ada bersama Yesus dalam pelayanan. Tapi, kali ini saya menangkap yang lain. Ketika membaca kata ‘dari semula’, saya teringat kata ‘pada mulanya’ pada ayat yang menyatakan, bahwa Firman itu ialah Yesus Kristus sendiri. ’Pada mulanya’ adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah (Yohanes 1:1-2). “WOW! Berarti sebuah kehormatan kalau murid-murid-Nya, saudara/i dan saya, dianggap setara, disetarakan dengan Yesus, sebagai "FIRMAN ALLAH yang hidup”. Dalam arti, saudara/i dan saya adalah surat Kristus yang terbuka bagi semua orang, yaitu pelayan-pelayan perjanjian baru (2 Korintus 3:3 TB). Tindakan kita harus mencerminkan Firman-Nya, dan itulah ibadah yang sejati. Kita disetarakan-Nya, dilayakkan-Nya, dibenarkan-Nya, itu semua semata-mata karena Allah Bapa melihat Kristus yang ada di dalam kita. Ketika orang melihat kita, mereka melihat Allah, seperti yang Kristus sudah contohkan. Kita cuma Alat. Lewat pekerjaan baik yang Roh Allah kerjakan di dalam kita, maka Bapa dipermuliakan. Maka, betullah Firman-Nya berkata, bahwa jangan ada orang memegahkan diri (Efesus 2:8-10 TB), sebab segala sesuatu adalah *dari-oleh-kepada Dia (Roma 11:36), segala kemuliaan hanya bagi Allah, bagi Dia yang bertahta dan Anak Domba, segala puji dan kemuliaan, hikmat, ucapan syukur, kehormatan, kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita untuk selama-lamanya. Amin! Haleluyah! Karena kita dilayakkan-Nya, maka kita pun mendapat bagian di dalam Yesus, yaitu satu dengan Allah dan hidup kekal di sorga (Efesus 2:4-7). Itu bagian kita yang iblis coba curi, dan teerus coba memisahkan kita dari kasih karunia-Nya. Tapi firman-Nya di Roma 8:38-39 TB berkata, tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. WOHOO! Ini lah keyakinan iman kita, puji Tuhan! Firman-Mu selalu menyatakan kebenaran dan memberikan kepastian, sehingga iman kita tidak goyah.
Sulit? Mustahil untuk jadi surat Kristus yang terbuka? Bagi Allah tidak ada yang mustahil (Matius 19:26 TB, Lukas 1:37 TB), karena Yesus berdoa bagi kita (Yohanes 17:9 TB), Yesus pembela kita, dan Yesus pemelihara kita di dalam nama Allah. Sehingga, kita beroleh hidup kekal di dalam pengenalan akan Allah dan Kristus yang Dia utus dan kita tidak akan binasa selain daripada dia yang telah ditentukan untuk binasa (Yohanes 17:12 TB). Siapa yang pasti binasa? Iblis. Jadi, jangan ikut jejaknya, tapi lawan iblis, maka dia akan lari dari padamu (Yakobus 4:7-8 TB).
📖Keluaran 1:12 (TB)
Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang ”jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang ”dekat”, karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.
Senin, 12 Mei 2025 pada dini hari itu saya membaca seluruh pasal dalam kitab Efesus 2 dan belum mengerti apa yang Roh Kudus mau bicarakan, sampai di tengah hari muncul kata “mengalah” ketika saya menjemur baju. Itu salah satu kata yang beberapa saat sebelumnya suami saya katakan, yang padahal saat dikatakan pun bukan suatu kata yang penting dan menjadi topik perbincangan. Sampai kemudian, tiba-tiba muncul kalimat di hati saya: “Mengalah VS Mengasihi. Mengalah itu harus ada yang kalah”. Saya mengerti, itu artinya: ada yang mengalahkan dan ada yang dikalahkan. Kedua kata tersebut memiliki konotasi yang kurang baik: mengalahkan-dikalahkan, ada yang superior tapi ada yang inferior (selfish/egois). Sedangkan, mengasihi hanya ada kasih: yang mengasihi dan yang dikasihi. Kedua kata tersebut sama-sama memiliki konotasinya baik, tidak ada satu di atas yang lain (selfless/tanpa pamrih). Menangkap ya bedanya?
Ternyata, kata ‘mengalah’ dan ‘mengasihi’, terlihat sama-sama ‘memberi’. Tapi, sebetulnya berbeda. Salib harus terdiri dari 2 garis; vertikal dan horizontal, yang menggambarkan keterkaitan hubungan manusia-manusia dan manusia-Allah. Saya diajar mengerti, bahwa Yesus naik ke atas kayu salib itu karena mengasihi, bukan mengalah. Kalau kita sadar betul kasih-Nya, pastilah kita tidak bisa menolak untuk mengasihi sesama, yang mungkin secara pandangan manusia tidak layak dikasihi. Tapi, sadarlah bahwa tidak ada seorang pun dari kita yang layak dikasihi. Tetapi, kita semua dilayakkan-Nya dan dikasihiNya secara sempurna, karena Dialah itu Kasih.
Kata ‘kalah’ yang saya ingat sepanjang membaca firman pun, hanya ada ketika Yesus memerintahkan kita untuk mengalahkan iblis, bukan manusia. Seringkali, saya perhatikan manusia suka katakan, “tapi saya sudah selalu mengalah”. Apa sebetulnya yang dia kalahkan? Sesamanya. Dengan dalih, “saya yang sudah mengalah!”. Ini sikap passive-agressive, memiliki maksud tersembunyi, dan berpura-pura kalah; kalah untuk menang. Padahal, dalam hatinya dia merasa menang dan paling benar (self-centric). Saya berdoa pembaca di sini adalah orang-orang yang mau mengasihi dengan tulus seperti Yesus mengasihi setiap kita (1 Yohanes 4:19 TB). Di dalam Kristus tidak pernah diajarkan ‘mengalah’ kepada sesama, tetapi ‘mengasihi’. Tidak juga diajarkan untuk merasa benar sendiri, karena Amsal 21:2 TB berkata, “setiap jalan orang lurus menurut pandangannya sendiri”. Rasa benar sendiri merupakan bibit sikap hati yang menghakimi. Lalu selanjutnya pada ayat tersebut dikatakan, “tetapi Tuhanlah yang menguji hati”. Artinya, pandangan kita sendiri seringkali salah.
Kristus mengajarkan untuk kita melakukan segala pekerjaanmu dengan kasih! (1 Korintus 16:14 TB) dan dengan hati yang murni. Kita perlu mengoreksi diri dan membenahi hati kita, sehingga kita bisa dipakai-Nya untuk jadi saluran berkat. Firman Tuhan bukan dipakai untuk menunjuk orang, tetapi untuk membersihkan yang ada di dalam kita masing-masing. Berlomba-lomba dengan tekun, menanggalkan beban dosa dan menujukan mata kepada Yesus sebagai contoh utama dalam kesempurnaan iman dan kesabaran, mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia yang duduk di sebelah kanan takhta Allah (Ibrani 12:1-3 TB). Menuruti kebenaran (Galatia 5:7 TB). Jangan mau kalah dalam perjuangan iman kita, tetapi kalahkan kejahatan dengan kebaikan (Roma 12:21 TB). Lebih berbahagia memberi daripada menerima (Kisah Para Rasul 20:35 TB).
Di dalam mengasihi ada penyerahan penuh, tanpa batas, tidak setengah-setengah. Mengasihi tidak bersyarat dan tidak mengharap balasan. Mengasihi berfokus pada kepentingan surgawi dan memuliakan Allah, bukan egois dengan kepentingan dan kemegahan diri sendiri. Tidak ada siapa kalah dan siapa menang, tetapi memberi diri, melakukan dengan sukarela, rela berkorban, dan mencari kemenangan bersama demi memenangkan jiwa, demi kemuliaan Allah (Jesus-centric). Mengasihi berarti memberi dengan sukacita, mengajar/menegur/menasehati dengan rendah hati dan lemah lembut, tidak tinggi hati, tidak rasa benar sendiri dengan berpura-pura mengalah yang ternyata hitung-hitungan/transaksional/membangkit-bangkitkan. Mengasihi itu mendampingi, bukan menghakimi. Mengasihi menuntun, bukan menuntut. Di dalam mengasihi yang ada hanya mengajar dan menegur, karena kasih.
Sejauh saya membaca firman dan pengalaman pribadi berjalan bersama Tuhan, tidak pernah Dia katakan, “sudah mengalah saja dulu”. Tapi Dia perintahkan, “kasihi” atau “berikan”. Dalam kata “berikan” pun seringkali artinya, memberikan seluruhnya, sepenuhnya, segalanya, bahkan ‘nyawa’, yang saya pikir “the end nih”. Tapi, kemudian tanpa saya mengerti, dgn cara tidak disangka-sangka, justru ketika memberi kasih seringkali menjadi kunci terobosan, sebuah perubahan terjadi, doa mulai dijawab. Dalam memberi kasih, kita menanggalkan keakuan, gengsi, dan ego. Betul-betul seperti domba yang kelu, nurut saja mau digiring kemana pun oleh Gembalanya. Dia tidak khawatir besok makan apa, minum di mana, cukup tidak ya. Tidak perhitungan. Hanya lakukan saja. Jangan salah mengerti saya, bahwa membuat perhitungan dalam perencanaan itu perlu dalam kasus tertentu dan sebagai bagian dari tanggung jawab. Tapi, saat ini saya sedang berbicara, bahwa perintah Tuhan adalah untuk mengasihi, bukan mengalah. Perintah-Nya: “Mengasihi Tuhan Allahmu dan mengasihi sesamamu”. Sebab, tidak ada hitungan kasih yang sepadan dengan kasih yang sudah terlebih dahulu Dia berikan kepada kita, sehingga kita merasa berhak untuk menahan/menolak memberikan kasih kepada sesama dan kepada Tuhan.
Mungkin dalam hidup saudara/i pernah dihadapkan dengan orang-orang yang sangat keras hatinya. Mau dengan hikmat Tuhan pun, dinasehati dan ditopang dengan kasih, tetap saja malah bikin marah. Bukan artinya hikmat Tuhan tidak berkuasa mengubahkan seseorang. Tetapi, terkadang hikmat Tuhan bekerja dengan cara ditanam dahulu dalam memori orang itu dan akan dimunculkan/diingatkan kembali di waktu dan ukuran rohani dia yang tepat sehingga lebih muda untuk dia mengerti. Seperti menabur benih.
Kalau saudara/i orang yang marah saat menghadapi seseorang sangat keras hatinya seperti ini, bertobatlah. Mungkin ini saatnya saudara mengasihi dalam bentuk yang lain, yaitu dengan diam, dengan tidak membalasnya dengan kekerasan hati juga, supaya saudara/i tidak jatuh ke dalam pencobaan. Berjaga-jagalah. Kuasai dirimu, jadilah tenang, supaya bisa berdoa (1 Petrus 4:7 TB). Jangan biarkan iblis menggagalkan kesempatan memenangkan jiwa ini dengan mendompleng amarah kita. Perkatakan iman dan doamu, karena hidup dan mati dikuasai lidah (Amsal 18:21 TB).
Kalau saudara/i adalah orang yang sangat keras hati, bertobatlah juga. Biar kita menjadi sesama, keluarga, yang saling membangun di dalam Kristus, bukan jadi batu sandungan. Belajarlah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, supaya saudara/i mengenal Allah, dikenan Allah dan beroleh hidup kekal. Kuk yang Kupasang enak dan beban-Ku ringan (Matius 11:29-30 TB). Kasihi Allahmu dan jangan lupa kasihi sesamamu, karena salib berbicara kesatuan: kasih vertikal dan kasih horizontal.
Lewat renungan ini, saya baru mengerti tentang apa yang saya lihat sebelumnya pada hari Minggu, 11 Mei 2025 lalu.Yang saya lihat:
Yang saya mengerti sebuah benda seperti Pedang, tapi saya menangkap kata ‘Belati’, dan saya Google, ada yang namanya ‘Bayonet’. Ukuran pisaunya tidak terlalu panjang tapi juga tidak terlalu pendek dengan arah pisaunya tegak lurus menghadap ke bawah seperti posisi tertancap. Lalu, saya melihat seperti sepasang sayap berwarna putih dengan posisi terbuka seperti berbentuk hati. Ukuran pisaunya sepanjang dari sudut hati yang atas ke sudut hati yang bawah.Yang saya tangkap:
Sayap bicara perlindungan, naungan. Jaminan perlindungan kita yang sempurna hanya di dalam Kristus.Sayap bentuk hati juga bicara hati kita. Apa yang ada dalam hati kita dan apa yang jadi fokus hati kita?Pedang Roh yang tertancap adalah Firman Tuhan jadi fokus hati kita. Iman percaya yang penuh hanya bisa dibangun atas dasar Firman Allah, yaitu Yesus Kristus sendiri, batu karang yang teguh.

Gambar hanya sebagai ilustrasi
Saya pelajari dalam hidup saya, ternyata manusia itu tidak bisa kok punya iman percaya yang penuh kepada Allah dan tentang Allah. Karena, manusia hanya bisa menggunakan kekuatan sendiri, yang mana itu terbatas dan tidak akan pernah bisa sampai kepada kesempurnaan/kepenuhan/keutuhan. Ternyata untuk kita bisa beriman yang sungguh-sungguh itu hanya bisa dilakukan melalui karya kuasa dan kekuatan Roh Kudus. Lewat tantangan-tantangan hidup yang kita lalui bersama Tuhan Yesus dan hanya di dalam-Nya, dan lewat berdoa, kita dikuatkan-Nya. Kita tidak hanya didewasakan, tapi kita diajar mengerti identitas kita di dalam Dia dan apa kehendakNya serta tuntunanNya untuk setiap kita. Lewat perjalanan bersama Dia, dengan tunduk kepada tuntunan Firman dan Roh-nya, dan dengan berdoa, kita bisa menyaksikan kuasa & karya mujizat yang tertulis dalam setiap Firman-Nya itu menjadi nyata di setiap level hidup yang kita lalui. Penghibur, Roh Kudus yang diutus Bapa dalam nama-Nya, yang akan membawa kita pada kemenangan demi kemenangan dan pada kebenaran yang membuat kita memiliki iman percaya yang benar, bahkan iman percaya kita ditingkatkan-Nya. Tanpa karya-Nya, tanpa dimampukan, dan tanpa dikuatkan-Nya, kita manusia tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak akan sampai pada level iman percaya yang penuh.Lalu untuk apa pedang firman itu dan iman percaya yang penuh itu? Firman-Nya adalah untuk kita mengetahui kebenaran dan berjaga-jaga, dan dengan iman percaya yang penuh dapat memampukan kita untuk melawan iblis, menghancurkan rencana dan kerajaannya. Lewat apa? Berjalan bersama Tuhan, menang atas setiap pergumulan dalam pimpianan Roh Kudus dan bersaksi memuliakan Allah dengan penghormatan yang penuh; hanya dari-oleh-kepada Dia.
Kasihi sesamamu seperti Yesus Kristus mengasihi kita. Minta Roh Kudus untuk mengajar kita mengerti arti mengasihi. Minta Dia tolong kita melakukan kasih yang sempurna itu, karena manusia itu tidak bisa dan tidak mengerti untuk mengasihi pada dasarnya, karena definisi kasihnya manusia itu bersyarat. Berbeda dengan buah Roh yang pertama, yaitu kasih yang sempurna, yang murni dan tulus, yang Tuhan mau kita miliki. Jangan biarkan tipu muslihat iblis membuat kita menyia-nyiakan kesempurnaan kasih karuniaNya yang sudah disediakanNya. Lawanlah iblis! Izinkan Tuhan memberi kemenangan kepadamu, ketika kamu memenangkan dan mengasihi sesamamu. Sehingga, hidupmu lebih indah dan lebih berharga.
Efesus 2:8-10 TB
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Segala kemuliaan bagi Allah, Tuhan Yesus memberkatimu.
🌸 LoveSeed by Sarah 🌹"SANCTIFY" - Dikuduskan.Syalom saudara/i LoveSeed by Sarah yang terkasih di dalam Kristus,
Renungan hari ini saya ambil dari kesaksian penglihatan Pastor Philip minggu lalu tentang kereta ke Gunung Sion. Awalnya saya tidak mengerti seperti apa itu kereta India, dan saya google. Ternyata sesak sekali ya, sampai ke atap dan keluar-keluar penumpangnya. Saya sukacita sekali melihat gambaran kereta India itu, karena artinya banyak sekali orang yang akan bersama-sama ke tempat Bapa. Saya berkata dalam hati, “Tuhan, pada saat itu tiba, aku ingin jadi salah satu yang ada di dalam kereta itu ya, datang ke perjamuan pesta-Mu”. Kemudian, saya teringat firman-Nya di Lukas 14:23 berkata, ‘Rumah-Ku harus penuh’. Itu kerinduan-Nya. Lalu kata "Sanctify" bergema di hati saya.
📔 John 17:17 (NIV)
Sanctify them by the truth; your word is truth.📔 Yohanes 17:17 (TB)
Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.📖 Matius 5:8 TB
'Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.'
Seperti dalam kitab Lukas 14:5 TB, Kemudian Ia berkata kepada mereka: ”Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?”. Ayat ini mengingatkan saya tentang satu domba hilang yang dicari dan tentang satu dinar yang dicari.
Dalam kitab Lukas 14:10,13 (TB) yang berbicara tentang perumpamaan tamu undangan yang diberi hormat oleh Allah, mereka disebut sahabat. Mereka bukan sahabat / tetangga / saudara / kaum keluarga yang kaya, tetapi mereka ialah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh, orang-orang buta. Siapakah mereka? Kita, yang gak punya apa-apa yang bisa dibanggakan, dengan remuk dan rendah hati mengaku dosa dan tetap datang ke hadapan Allah dan berkata, ‘Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku! (Lukas 18:38 TB). Seperti kita berkata, "Tuhan Yesus, aku perlu Engkau, tolong aku. Darah Yesus sucikanku, darah Yesus sembuhkan aku, darah Yesus ubahkanku". Kita yang dikhususkan atau dikuduskan-nya, harus mau membaca, merenungkan firman-Nya dan dibersihkan oleh firman-Nya setiap hari sampai kita segambar dan serupa dengan Allah.
Jiwa yang hancur adalah korban sembelihan kepada Allah dan hati yang patah dan remuk tidak Dia pandang hina (Mazmur 51:19 TB). Tuhan dekat dengan orang-orang yang patah hati dan yang remuk jiwanya, Ia selamatkan (Mazmur 34:19 TB). Dia, yang bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus, Yang Maha Tinggi dan Yang Maha Mulia, Yang bersemayam selamanya, Yang Mahakudus nama-Nya, ada bersama orang yang remuk dan rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk (Yesaya 57:15 TB).
Firman-Nya dalam Matius 5:3 TB berkata, ‘Berbahagialah *orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga’, bukan orang kaya dan terhormat menurut dunia. Tetapi dalam Lukas 14:18-20 TB dikatakan, menjelang perjamuan itu dimulai, satu per satu berdalih dengan segala alasan, urusan, kesibukannya dan meminta maaf tidak jadi datang. Murkalah Tuan Rumah itu dan tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Nya.
Pertanyaan-Nya, Mau jadi orang yang manakah saudara? Selagi kita menantikan kedatangan-Nya, renungan ini kembali mengingatkan kita masing-masing untuk hidup kudus, sehingga hidup kita dapat menebarkan bau harum dan layak dipersembahkan kepada Pribadi-Nya yang Maha Kudus. Renungkan dalam hati saudara dan buatlah keputusan, ‘Apakah saya mau jadi orang yang terhormat di mata dunia atau jadi sahabat Allah?’
1 Korintus 6:11 TB
Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.

Haleluya, Tuhan Yesus menjamah dan senantiasa memberkatimu.
🌸 LoveSeed by Sarah 🌹Harta Rohani dalam Bejana Tanah Liat : Pelayan-Pelayan Perjanjian BaruSyalom saudara/i LoveSeed by Sarah yang terkasih di dalam Kristus,
Renungan hari ini saya ambil dari ayat berikut:
📔 2 Korintus 5:5 (TB)
Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita.
Saya juga membaca keseluruhan konteksnya dari kitab 2 Korintus pasal 3 sampai pasal 5, yang berbicara tentang pelayan-pelayan perjanjian baru dan harta rohani dalam bejana tanah.
Pada dasarnya tanah liat tidak berguna kalau tidak ada orang yang memakainya untuk suatu tujuan. Kalau kita perhatikan ketika seorang pengrajin membentuk tanah liat menjadi sebuah bejana/tembikar, dia membutuhkan air. Saya pelajari juga, bahwa air punya peranan penting yang digunakan untuk menjaga tangan sang penjunan untuk tetap basah. Namun, tanah liatnya juga tidak boleh terlalu basah karena akan sulit bentuk. Sambil mejanya diputar, jari-jemari pengrajin akan memberikan tekanan-tekanan pada tanah liat itu, sehingga terbentuk suatu karya. Tekanannya pun tidak boleh berlebihan ataupun kekurangan, karena tekanan itu menentukan hasil akhirnya apakah terbentuk sesuai bentuk yang diinginkan dan sesuai kebutuhan.
Demikian kita seperti bejana tanah liat di tangan Tuhan, Sang Penjunan. Dalam pembentukan lewat masalah, tekanan, kesesakan, pergumulan, dan pengajaran, seringkali air mata kita menetes. Tapi, air mata itu dibutuhkan, supaya hati kita dilembutkan dan dapat dibentuk sesuai tujuan-Nya. Supaya kita memiliki penundukkan diri, tidak jalan suka-suka sendiri, ngatur sendiri.
Selain itu, Tuhan Allah kita adalah Allah yang setia, sehingga Dia tidak akan membiarkanmu dicobai melampaui kekuatanmu. Artinya, Sang Penjunan tahu seberapa kuat Dia izinkan pencobaan untuk menekanmu. Semua masih dalam kendali jari-jemariNya, kuasaNya. Jadi, tekanan itu pasti seimbang, tidak berlebihan, karena Tuhan sendiri Allah yang adil dan, yang menurut bahasa saya sering saya sebut, seimbang. Dia tahu kemampuan kita dan tidak akan dibiarkan tekanan itu melebihi kemampuan kita, karena Dia kenal setiap ciptaan-Nya. Dia yang paham latihan seperti apa yang paling tepat untuk membentuk setiap kita. Dia sudah berfirman, bahwa pencobaan yang kamu alami adalah pencobaan BIASA dan Dia yang akan memberikan kepadamu JALAN KELUAR, sehingga kamu DAPAT menanggungnya (1 Korintus 10:13-16 TB).
Pencobaan diizinkan untuk apa? Karena, lewat penderitaan, melewati air mata, dari dalam gelap, akan terbit terang. Itu yang dikatakan Firman-Nya sendiri, bahkan jauh sebelum RA Kartini mengatakannya. Tuhan gunakan kesusahan, penderitaan, kesesakan dan tekanan, JUSTRU untuk menunjukkan kepada kita siapa Dia, bahwa Dia lah Tuhan, kehadiranNya terbukti dan JUSTRU di saat sepeti itu lah di mana kita bisa melihat setiap firmanNya hidup.
Bejana tanah liat yang rusak atau tidak sesuai tujuan awal dibuatnya, maka harus dihancurkan terlebih dahulu, baru kemudian bisa dibuat kembali yang baru sesuai tujuan-Nya. Demikian juga manusia yang sudah rusak karena dosa, Dia ingin membentuk kita ulang. “You are not broken. You are made anew” - ini kata-kata yang kuat dan memberkati saya yang saya pernah tangkap untuk seseorang, sekarang saya mau bagikan kepada saudara pembaca. Dia perlu membentuk kita kembali, SEHINGGA di dalam diri kita, DIA SEMAKIN BESAR dan aku semakin kecil. He must increase, but I must decrease. Kesombongan, ketidakpercayaan, kekerasan hati dan segala kedagingan kita perlu diremukkan untuk kita bisa dibentuk jadi pribadi yang tahu diri dan sadar bahwa kita butuh Tuhan setiap hari dan tidak bisa lakukan apapun tanpa Tuhan. Dia mau membentuk kita jadi pribadi yang takut akan Tuhan, mengerti untuk hormat kepada Allah, mengandalkan Tuhan, bertambah kuat dan mengakar imannya di dalam Dia, sehingga kita dapat bertahan mengatasi segala cobaan dan goncangan hidup. Semuanya bertujuan untuk kebaikan pembentukan karakter kita, menjadi sama seperti karakter Kristus.
Kesimpulannya, dalam titik terendah justru kita akan bertemu Allah, kita akan menerima harta yang paling berharga, harta rohani. Kalau saudara lihat di Alkitab, Allah hadir dan menunjukkan diriNya, mujizatNya dan kemuliaanNya, justru ketika dalam dapur api, dalam penjara, saat mau dilempari batu, mengalami kebutaan, sakit keras, pendarahan, lumpuh, tuli, kesepian. Tapi melewati itu semua, kita tidak Dia tinggalkan sendiri. Tuhan mau katakan, “bersama Aku, melewati api pun kamu tidak akan terbakar”. Memang betul, Tuhan tidak merancangkan cobaan, tapi yang mau saya katakan, lewati cobaan pun Tuhan Yesus ada dan Dia pelihara. PertolonganNya selalu ada dan jadikan semuanya baik tepat pada waktuNya. Sebab alkitab berkata,Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, dan yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya (Mazmur 126:5-6 TB).danDiberkatilah org yg mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah (Yeremia 17:7-8 TB).
Semuanya Tuhan izinkan terjadi dalam hidupmu, supaya cahaya injil itu nampak, dan kemuliaan Allah dapat diberitakan. Selain itu, supaya kita menanggalkan pakaian yang lama dan kita menjadi pelayan-pelayan perjanjian baru. Mungkin dalam perjalanannya, ada banyak hal yang harus saudara tanggalkan, yang harus saudara letakkan, dan saya mengerti itu tidak enak dan tidak mudah. Tapi, percayalah kepada Allah alam semesta yang memegang tanganmu dan pasti semuanya tidak akan sia-sia. Dia Allah yang selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anak-Nya. Jangan melawan, sebab semakin saudara dan saya melawan, akan semakin sakit. Seperti firman-Nya daalam Amsal 19:21 TB berkata, 'Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhan lah yang terlaksana’. Kejarlah perkenanan-Nya. Dalam hidup saya, Tuhan juga suka berbicara lewat pujian-Nya karena di dalam pujian terkandung firman-Nya. Renungkan juga lirik pujian yang berjudul “Tiap Langkahku”:
Tiap langkahku diatur oleh Tuhan
Dan tangan kasih-Nya memimpinku
Di tengah badai dunia menakutkan
Hatiku tetap tenang teduh
Tiap langkahku kutahu yang Tuhan pimpin
Ke tempat tinggiku dihantar-Nya
Hingga sekali nanti aku tiba
Di rumah Bapa surga yang baka
Sebagai penutup, inginkan dan izinkan terangNya yang ajaib itu menerangi dan menuntun setiap langkahmu pada jalan keluar. Dengan perbuatanNya yang ajaib itu, Dia menuntunmu pada kemerdekaan. Seperti dalam ayat renungan kita hari ini, Penjamin itu, RohNya yang besar dan yang kudus sudah diberikanNya di dalam saudara dan saya. Maka, ketika terang RohNya yang ajaib itu memerintah dalam hatimu, engkau bisa tetap tenang teduh menghadapi apapun, sehingga harta rohani di dalammu, cahaya Injil itu, akan terpancar. Kitalah bejana tanah PEMBAWA cahaya injil itu. Pancarkanlah cahaya injil itu dan bersaksilah dalam lingkungan dimana kita berada dan kepada segala bangsa.
Tuhan Yesus sudah memilih kita. Jangan takut dengan kesusahan dan penderitaan, jangan takut dengan tantangan hidup, tapi percaya bahwa Yesus Dia satu-satunya Allah yang memberi kita jalan keselamatan. Roh KudusNya yang menerangi hati kita yang percaya kepada Dia, sampai kita dibawaNya kepada kemah kediaman kekal di sorga yang sudah disediakanNya.
Mazmur 37:23-24 TB
Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya.

Haleluya, kiranya Roh Kudus berbicara lebih lagi kepada sauudara dan Tuhan Yesus senantiasa memberkati kehidupanmu.
Sabtu, 25 Juli 2025
🌸 LoveSeed by Sarah 🌹Tiang Awan, Tiang Api : “Bangunlah, angkat tilam-mu dan berjalanlah”Syalom saudara/i LoveSeed by Sarah yang terkasih di dalam Kristus,
Renungan hari ini saya ambil dari ayat berikut:
📔 Keluaran 13:21 TB
Tuhan berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam.📖 Nehemia 9:12 TB
Dengan tiang awan Engkau memimpin mereka pada siang hari dan dengan tiang api pada malam hari untuk menerangi jalan yang mereka lalui.📔 Efesus 2:8-9 TB
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.📖 Lukas 6:46 TB
"Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?"
Ketika harus mengalami suatu kejadian yang tidak enak dan mendadak dalam hidup, seringkali kita cemas dan takut. Pertanyaan yang paling sering muncul ada 2:
1. “Bagaimana nanti hasil akhirnya?”, dan
2. “Kapan selesainya?”.
Pasti rasanya ingin sekali keadaan itu cepat berakhir. Kita ingin sesuatu yang pasti kelihatan jelas dulu, dengan jalan termudah dan singkat, sebelum melangkahkan kaki pada jalan keluar.
Padahal, rahasia yang mau saya katakan: jalan keluarnya sudah pasti ada dan sudah ditentukan dari sisi Tuhan, tidak ada yang mendadak bagi Tuhan. Hanya, kita yang belum melihatnya, karena dibutuhkan iman untuk dapat melihatnya. Iman yang benar dan teguh dalam pimpinan Roh Kudus-Nya menghasilkan doa yang menggetarkan surga dan yang memanifestasikan iman yang tidak terlihat menjadi kenyataan.
Saya pelajari:
1. Jalan yang benar kadangkala bisa melewati lembah yang kelam.
TAPI, hasil akhirnya sudah pasti baik. Karena, Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka terpanggil sesuai rencana Allah. Dan, rencana Tuhan itu pasti terjadi.2. Mengikuti tuntunan Tuhan tidak selalu berarti ada kepastian, kemudahan dan kenyamanan.
Tuhan tidak selalu menuntunmu melalui jalur yang paling singkat. TAPI, ujungnya pasti selesai, karena FirmanNya sudah katakan, segala sesuatu ada masanya.
Yang membuat kita semakin berat dalam menjalaninya adalah karena apa yang menjadi kehendak kita belum sejalan dengan kehendak Tuhan. Sekalipun Tuhan tidak selalu menuntunmu melalui jalur yang paling singkat, paling nyaman, paling mudah, seperti yang kita inginkan, tetapi Allah izinkan itu DENGAN TUJUAN untuk kita BELAJAR SESUATU dan BERUBAH di sepanjang perjalanan itu. Ada transformasi hidup yang terjadi untuk membuat kita menjadi serupa dengan Kristus yang sembah.
Kadangkala, Tuhan hanya mau melihat keseriusan kita dalam mempercayai-Nya untuk berani melangkah maju, dengan tidak lagi gunakan kekuatan sendiri tetapi percaya Dia lah Tuhan yang memegang kendali atas seluruh hidupmu. Bila kita meresponi dengan langkah yang tepat dan berani dalam setiap tuntunan Tuhan, disitulah kepastiannya; setiap tuntunan-Nya pasti membawa kita semakin dekat dan pasti akan membawa kita pada jalan keluar.
Seperti bangsa Israel, berapa lama pun juga awan itu diam di atas Kemah Suci, selama itu jg orang Israel tetap berkemah dan tidak berangkat; tetapi apabila awan itu naik, barulah mereka berangkat. Jadi berjalan di padang gurun yang penuh ketidakpastian dan tandus, itu HANYA MEDIA yang baik untuk mengeluarkan apa yang tidak baik ynag masih ada dalam kita; apakah itu tata cara, kebiasaan dan pemikiran yang buruk yang kita sendiri tidak sadari, atau tidak terlihat saat semua keadaan baik2 saja. Hal yang buruk ada dalam kita misalnya, amarah, kepahitan, kekerasan hati, ketidakpercayaan, kekhawatiran, ketidakteguhan hati, mempertanyakan Tuhan, belum sepenuhnya percaya, dll. - sehingga ketika yang tidak baik itu dimunculkan ke permukaan, bersama Tuhan, kita dapat lepaskan dan berubah dari cara-cara hidup kita yang tidak baik itu. Dari sana, akan terbangun rasa percaya dan hidup bergantung penuh kepada Tuhan, sabar dan tekun, dan juga akan terbangun ketaatan kepada Tuhan. Semuanya Dia lakukan semata-mata hanya untuk kita supaya dapat sepenuhnya mengikuti Kristus dan menjadi serupa sepertiNya, dan untuk bisa menduduki tanah perjanjian.
Kiatnya apa? Selalu pandang Yesus dalam hal apapun. Bersabar, bertekun dalam Tuhan dan melakukan firman-Nya, responsif dan berani melangkah dalam setiap yang Dia suruh, taat, percaya.
Saya teringat ketika saya dahulu depresi. Setiap hari hiduup saya rasanya seperti ma ti; ada rasa ingin cepat selesai dan mengakhiri semuanya karena tidak enak, tidak mau pusing terus, sakit kepala terus, tidak mau menangis terus. Maunya saya, bisa tidak sih hidup ini tenang, lurus-lurus, lempeng-lempeng saja. Demikian juga ternyata banyak dari orang-orang depresi lainnya yang saya temui, mempertanyakan hal yang sama, yaitu 2 pertanyaan besar itu: “Ini gimana ujungnya? Mau sampai kapan begini terus?” dan “Kapan selesainya?. Tapi, saya mau katakan, stop bertanya kapan selesai. Stop minta tanda yang kelihatan mata atau yang dapat dipahami dahulu, tenang bagaimana ujungnya, baru mau percaya dan melangkah. Tapi, mulailah melangkah meski belum mengerti, meski belum melihat.
Dahulu, ketika saya begitu sangat tidak nyaman dan tidak berdayanya, justru sampai tidak sadar kalau saya itu mengalami depresi. Saya sampai tidak bisa mengeluh, akhirnya pun saya bisa sedih tapi sudah tidak bisa menangis, karena sudah tidak bisa keluar air mata lagi. KERING. Karena apa? Sampai lelah untuk marah, kesal, dan tidak terima dengan keadaan. Pada akhirnya, kita harus sadar kita itu bukan Tuhan dan kita tidak bisa mengendalikan segala sesuatu. Ada banyak diantara kita yang sering mengeluh, bahwa sepertinya hidup kita kok begini-begitu. Tetapi, saya mau katakan, justru kalau ada yang masih bisa kita keluh kesahkan, berarti ada maksud dan tujuan ilahi dr apa yang kita sedang alami. Dan, kalau masih punya tenaga buat mengeluh, berarti lebih baik gunakan tenaga yang terbatas itu untuk sesuatu yang lebih bermanfaat dan yang jelas bisa membawa kita pada jalan keluar. Maaf kalau saya katakan ini sedikit tegas. Intinya, jangan banyak mengeluh, stop mengeluh. Hidupmu terlalu mahal Tuhan Yesus tebus di atas kayu salib, kalau hanya saudara dan saya gunakan untuk mengeluh. Dengan mengeluh, sama saja kita tidak menghargai pengorbanan dan karya salib-Nya bagi hidup kita.
Tuhan pasti dengar keluh kesah kita dan betul, kita harus katakan apa adanya di hadapan Tuhan dalam doa-doa kita. Tetapi, menjadi percuma kalau kita terperangkap dalam perasaan dan keluh kesah. Itu tidak akan membawa kemana-mana. Ada saatnya bersedih dan kalut, tapi ada saatnya BANGKIT! Tuhanlah sumber kekuatan kita. Berdoa itu bukan hanya kita datang untuk jujur di hadapan Tuhan akan apa yang kita rasakan dan mengatakan yang kita minta. Tetapi, dalam doa kita perlu ingat kita sedang berkomunikasi dan itu dua arah. Perhatikan postur hatimu dalam berdoa, yaitu kita butuh mendengar Tuhan lebih daripada menyampaikan perasaan-perasaan kita, sehingga kita beroleh hikmatNya yang menuntun kita pada jalan keluar. Mungkin saudara dan saya tidak mengerti awalnya bahwa yang Dia katakan adalah bagian dari membuka benang-benang kusut, tapi kembali saya katakan, taat dan percaya saja. Selalu pandang Yesus. Bersabar, bertekun dalam Tuhan dan melakukan firman-Nya, responsif dan berani melangkah dalam setiap yang Dia suruh.
Saya ingat, saat suami saya konseling dengan Ps. Philips, salah satunya berbicara tentang yaang dia lihat saya orangnya disiplin saat teduh, berbeda dengan dia, katanya. Tetapi, yang dia tidak tahu, itu semua ada proses di belakangnya. Yang dia lihat hanya ketia sudah bagus hasilnya, sudah tekun dan disiplin saat teduhnya. Waktu dulu, memang saya bersekolah di sekolah kristen dan setiap sebelum mulai kegiatan belajar mengajar selalu dimulai dengan saat teduh dahulu. Tetapi, program di sekolah kristen itu tidak menjadikan saya Kristen, apalagi punya kebiasaan saat teduh. Saat itu saya menjalani saat teduh hanya sebagai bagian dari program sekolah yang, mau tidak mau, harus dilakukan saja. Jadi, kalau saya tekun saat teduh hari ini, itu justru lahir dari hasil gemblengan padang gurun saat depresi itu.
Hari berikut setelah konseling itu saya ambil setumpuk buku2 saat teduh dan saya tunjukkan pada suami, dan saya katakan kalau saya juga pernah seperti dirinya, yang tidak bisaa disiplin saat teduh. Saya tunjuukkan buku renungan tahun 2011, yang hanya saya baca beberapa lembar. Kemudian, saya tuunjukkan buku renuungan tahun 2012 , yang saya lompat-lompat bacanya. Terlihat dari lipatan yang saya tandai di halaman yang saya terlewat saya pikir mau dikejar ketertinggalannya. Tetapi, sampai 2025 ini tidak pernah saya kejar ketertinggalan itu, hanya terlewat beegitu saja. Sampai buku renungan berikutnya yang saya miliki 8 tahun kemudian, yaitu tahun 2020. Baru sejak tahun 2020 saya bisa saat teduh rutin setiap pagi dan sebelum turun tempat tidur. Karena apa? Karena, ketika depresi itu di tahun 2017 sampai 2019, saya isi dengan hanya khotbah dan pujian penyembahan dari Youtube. Itu saja yang bisa saya “makan” dan itu saja tidak direncanakan, karena saya tidak tahu kalau Firman-Nya adalah jalan keluar dari depresi saya. Saat itu, tiba-tiba muncul di hati saya berkata, “Klik aja ah khotbah atau pujian apa pun yang muncul paling atas di youtube, setiap hari”. Dan yang paling atas itu khotbah. Saya juga tidak menyangka depresi itu jadi jalan saya bertemu dan mengalami Tuhan. Saya pasang Youtube itu 24 jam setiap hari selama 2 tahun depresi itu, hanya untuk bisa “BERNAPAS” tiap detik dan mampu jalani hari. Saya ingat saat itu saya sampe tidak tahu mau apa dalam hidup ini dan tidak tahu mencari siapa lagi untuk menolong dan menghibur saya. Bukan tidak ada. Saya ada teman-teman yang menghibur dan mendukung, dan mereka sangat berperan. Tapi, rasanya saat itu ada yang kosong, yang tidak bisa digantikan oleh teman dan bahkan pacar (suami saya saat itu). Tiap hari begitu saja terus dan entah bagaimana selalu pas topik khotbahnya dengan kegundahan yang hari itu saya hadapi atau rasakan. Jadi, saya selalu menerima jawaban yang membentuk iman dan menguatkan saya setiap hari, bahkan Firman-Nya menolong saya melawan suara-suara yg negatif setiap muncul. Lalu setelah dua tahun depresi itu dibangun iman lewat pujian dan khotbah, akhirnya di tahun 2020, saya tiba-tiba teringat lagi, bahwa gereja di mana saya berjemaat selalu keluarkan buku renungan setiap tahun yang selama ini saya gak selesai-selesai bacanya. Saya pikir boleh dicoba lagi deh dan teringat juga, eh kan dulu waktu SD suka renungan setiap pagi, kok bisa samaan ya keduanya ada renungan? Karena saya tidak mengerti dan hanya karena teringat, saya coba lah renungan. Sejak itu saat teduh pagi jadi moment yang saya nantikan setiap bangun tidur, karena saat depresi itu setiap bangun pagi rasanya sudah berat, tidak punya semangat, dan lewat saat teduh saya selalu rasakan ada kekuatan baru. Maka, sejak itu saya mulai punya kebiasaan saat teduh, sampai sekarang.
Masa-masa menanti di padang gurun itu seperti ketika tiang awan diam di atas Kemah Suci, dan Bangsa Israel juga diam. Demikianlah saya dalam ketidakpastian, tidak tahu harus kemana, saat tiang awan masih diam, ya saya diam di kemah suci dan justru dibentuk menjadi kemah suciNya (bait Allah). Saya dierami oleh Firman dan pujian penyembahan. Sampai kemudian tiang awan bergerak, saat itu saya tiba-tiba merasa ada dorongan kuat untuk langsung secepatnya di baptis. Tidak pikir panjang, meski saya tahu akan bertentangan dengan orang tua, tapi tetap bulatkan tekad saya memutuskan harus dibaptis. Karena, saya teringat dahulu 5 SD mau baptis tapi dilarang orang tua dan saya tidak jadi dibaptis. Saat itu saya berpikir, kalau saya dibaptis artinya saya berdosa karena melawan kehendak orang tua. Sejak itu sampai saya umur 27 tahun, baru mengerti, bahwa dibaptis dan memilih Kristus adalah sebuah keputusan. Kemudian, saya dibaptis, dan yang tidak saya sangka adalah sejak itu rasanya cepat sekali saya dipulihkan dan keluar dari padang gurun. Saya dipulihkan tidak dengan psikolog psikiater mana pun dan tidak dengan obat apapun. Karena, seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa saya tidak sadar juga, bahwa yang saya lalui itu depresi juga, karena terlalu “hancur berantakan” yang saya rasakan dan saya tidak bisa menampungnya. Tetapi, karena itulah, buat saya, semakin menunjukkan, bahwa Tuhan, Dialah Tabib dari segala tabib. Segala kemuliaan hanya bagi nama Allah kita Yesus Kristus.
Seringkali juga muncul pertanyaan, selain yang 2 pertanyaan besar tadi, yaitu “Apakah yang saya jalani sudah benar atau tidak?” Jawabannya, itu hanya Tuhan yang tahu dan kita akan dibuat mengerti. Gambarannya seperti ini. Sampai hari ini pun saya juga masih suka diasah dengan banyak hal ketidakpastian hidup. Lewat proses itulah saya semakin dimurnikan untuk tetap berani melangkah, tetap memiliki ketaatan hati hamba. Bahkan, Tuhan tidak berhenti hanya sampai membentuk saya taat sebagai hamba saja, tetapi Dia pun mau untuk saya meminta seperti seorang anak. Ya, ikuti saja. Yang penting, kembali lagi ke poin kiat tadi: selalu pandang Yesus dlm hal apapun, lakukan semua yang berkenan dan semua yang menyenangkan Dia. Biarkan Roh KudusNya bergerak bebas mengarahkan kita pada jalan-jalan kebenaran-Nya.
Terkadang ketika kita menjadi dewasa, kita lupa bagaimana menjadi anak. Bukankah baik menjadi dewasa? Ya, tetapi terkadang tanpa sadar kita jadi mengandalkan diri sendiri. Ada yang jadi si “rasa paling tahu sendiri”. Atau, tau ada yang jadi si “rasa paling tidak tahu apa-apa”, tapi malah jadi kepinteran cari solusi sendiri karena rasa tidak tahu apa-apa: alias jado orang yang resourceful (banyak akal). Resourceful baik, tapi bersama Tuhan. Menjadi manusia yang resourceful itu bagus, tapi ingat, di dalam kata “resourceful” *di tengahnya ada kata “source”, artinya Allah tetaplah sumbernya. Dari kata Re-source-ful, Manusia hanya bisa melakukan bagian “(re-)” dan “(-ful)”, artinya seperti mendaur ulang lagi (re-cycle, re-write, dsb.), bukan menciptakan solusi. Manusia hanya mencari akal, dengan memaksimalkan dari apa yang dia tahu dan digunakan semaksimal mungkin sampai optimal atau full (“ful”). Jadi, manusia tidak bisa pakai kekuatan sendiri, karena idenya, kepintarannya, sebetulnya bersumber dari Allah sendiri, sang “Source”.
Setiap orang bisa menjadi tua, tetapi tidak semua orang pasti menjadi dewasa. Berbeda antara mentalitas anak dan mentalitas kekanakan. Tuhan mau ajarkan kita dewasa jadi hamba yang bergantung penuh kepada Dia Allah, tetapi juga kita percaya kepadaNya, mengenalNya, menghormatiNya, seperti anak kecil kepada Dia Sang Bapa. Jalan yg benar bukanlah tentang apa perjalanannya, ataupun bukanlah berdasarkan pengertian kita, atau orang lain, tentang apa yang benar yang seharusnya kita lalui. Tapi, jalan yang benar adalah ketika kita berjalan bersama Allah, meskipun kita belum mengerti, dengan gagah berani dan tidak gentar seperti seorang pahlawan. Menyadari Dia lah Tuhan yang berjalan di depan kita yang membawa pada kemenangan.
Tapi pertanyaannya, “Maukah kau sembuh?”. Banyak orang gagal membebaskan diri dari sakit, keterpurukan dan kehancuran, karena lebih suka tetap tinggal di kubangan luka, perasaan, meratap dan banyak beralasan. Padahal, yg Tuhan perlukan hanya jawaban, “YA, aku mau sembuh”.
Jiwa seorang prajurit adalah pantang menyerah, fokus pada tugas yang Tuannya berikan, tidak memusingkan (kepentingan) dirinya sendiri dengan soal-soal penghidupannya, supaya ia berkenan kepada Komandannya (2 Timotius 2:4 TB). Diperlukan prajurit yang gagah berani menerobos serta berkarakter kuat dan mulia untuk menjadi seorang pahlawan. Dan pesan Tuhan yang saya mau bagikan untuk kita hari ini, “Bangkit, angkat tilam-mu dan berjalanlah” - 25 Juli 2025.
Sebagai penutup, Bersama Tuhan kita tidak akan kekurangan. Kita terpelihara sempurna, kita dikenyangkan, dahaga kita dilegakan, jiwa kita disegarkan, dan selalu dihiburkan. PengurapanNya ada di dalam kita, kita milikNya, minyak dan anggur tidak dapat dirusakkan. Ia menuntun kita di jalan yg benar oleh karena namaNya, sehingga dalam kekelaman kita tidak perlu takut bahaya, tapi penuh sukacita pengharapan, makan sehidangan dengan Dia di hadapan lawan-lawan kita. Sampai pada akhirnya, kita bisa bersaksi bagi kemuliaan namaNya, bahwa kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa (Mazmur 23:6 TB).
Yohanes 5:8 TB
Kata Yesus kepadanya: ”Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah”.

Tuhan Yesus senantiasa memimpin langkahmu dan memberkati seluruh kehidupanmu.
Sabtu, 2 Agustus 2025
🌸 LoveSeed by Sarah 🌹“NATIVITY” : Engkaulah kekuatan, perlindungan dan perisaiku.Syalom saudara/i LoveSeed by Sarah yang terkasih di dalam Kristus,
Renungan hari ini saya ambil dari ayat berikut:
📔 Maleakhi 3:7 TB
Sejak zaman nenek moyangmu kamu telah menyimpang dari ketetapan-Ku dan tidak memeliharanya. Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu, firman Tuhan semesta alam. Tetapi kamu berkata: ”Dengan cara bagaimanakah kami harus kembali?"
Di renungan kali ini, saya diberikan sebuah kata “Nativity” atau asal usul. Biasanya, misalkan saya berasal dari Jepang, maka kalau saya ditanya “nativity” saya apa? Maka, saya menjawab, “Jepang”. Saya pikir apa hubungannya antara Yesus, hal rohani, dengan asal usul seseorang? Saya coba cek apakah ada di alkitab yang membicarakan kata “nativity”? Tapi, ketika saya googling kata itu, betul-betul hasil pencariannya semua hanya identik dengan Kristus saja, yaitu nativity scene yang adalah “manger”, palungan, seperti hiasan yang biasa suka ada di perayaan natal, yang terdiri dari Maria, Yusuf, bayi Yesus, Gembala, malaikat, 3 orang majus, palungan, bintang, kandang.
Meski kita tidak sedang merayakan natal, tapi kita seperti kembali diingatkan kembali, bahwa mau dari mana pun kita, nativity/asal usul kita, kelahiran manusia, kembali merujuk kepada Pribadi Yesus yang sejatinya merupakan natur atau unsur alami yang ada di dalam setiap manusia, karena kita ciptaan tanganNya yang dibuat segambar dan serupa dengan Allah dan sudah seharusnya kita kembali hanya kepada Dia, tidak ada yang lain. Hanya Dia satu-satunya Allah.
Saya pelajari,
1. Efrata, tempat kelahiran Yesus, bukan sekadar nostalgia yang indah.2. Efrata adalah tempat yang dipilih Allah untuk kelahiran Yesus Kristus, yang dengan ketaatan-Nya membuahkan keselamatan untuk umat manusia. Dan, untuk itu Ia menerima kehormatan dari Allah Bapa dan dikatakan duduk di sebelah kanan Allah (Bukan berarti harafiah, bahwa Allah ada dua, tapi pengutusan Yesus kristus sebagai tangan kanan Allah dan hanya Allah sendiri yang bisa melakukan pekerjaan besar dan mulia seperti itu, tidak mungkin manusia biasa).3. Efrata juga adalah panggilan bagi kita untuk menaati Firman Allah dan BERBUAH untuk kemuliaan-Nya, dan untuk itu kita akan dimuliakan bersama dengan Yesus Kristus. Seperti tertulis dalam Roma 8:30 TB, “Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”
Ulangan 8:5 TB
Maka haruslah engkau insaf, bahwa Tuhan , Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya.

Dalam kasihNya kuasa Roh KudusNya menuntunmu kepada terang dan jalan kebenaran yang kekal.
Tuhan Yesus memberkatimu.
Sabtu, 9 Agustus 2025
🌸 LoveSeed by Sarah 🌹AMAZING GRACE : “Pergunakan keselamatan dan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya”Syalom saudara/i LoveSeed by Sarah yang terkasih di dalam Kristus,
Renungan hari ini saya ambil dari ayat berikut:
📔 Zakharia 4 TB
Ayat 1, Datanglah kembali malaikat yang berbicara dengan aku itu, lalu dibangunkannyalah aku seperti seorang yang dibangunkan dari tidurnya.Ayat 6, Maka berbicaralah ia, katanya: ”Inilah firman Tuhan kepada Zerubabel bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman Tuhan semesta alam.📖 Kisah Para Rasul 20:17-38 TB
Ayat 24, Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.Ayat 35, Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”
Setelah kita menerima anugerah dan panggilan keselamatan, seringkali mungkin kita ingin melakukan banyak hal untuk Tuhan. Kita punya banyak ide untuk kita persembahkan bagi kemuliaanNya. Tapi, tanpa kita sadari, sebetulnya tidak ada yang bisa kita persembahkan kok memuliakan Bapa, kalau bukan Bapa sendiri yg menunjukkan kemuliaan-Nya dengan mengarahkan kita dengan hikmat-Nya dan memperlengkapi kita sebagai pekerja-Nya. Misalnya, kita tidak bisa selesaikan tugas sesuai jadwal, karena waktu rasanya terbatas, atau karena fisik kita terbatas. Mau sebaik apapun kita usahakan, dipaksa pun tidak bisa selalu sempurna. Meskipun kita bisa merencanakan, tapi tidak mudah menyelesaikan sesuai rencana kita. Terkadang kita punya keinginan cemerlang dan terlihat keren tentang bagaimana memuliakan Bapa tapi tidak sesuai takaran kita.
Maka dari itu, kita perlu sadari bahwa kita perlu kemurahan hati Allah untuk dapat melakukan dan memaksimalkan waktu yang ada untuk melakukan kehendak Allah. Semua bisa jadi, hanya kalau Tuhan berkehendak. Jadi tidak ada alasan untuk kita, kawan sekerja Allah untuk sombong. Kita hanya bisa memelihara keselamatan yang diberikanNya DALAM PEMELIHARAAN-Nya. Ya, pemeliharaan-Nya lah yang menyanggupkan kita melakukan semuanya. Yang ada pada kita itu semua milik Dia; dari, oleh, dan kembali kepada Dia, untuk kemuliaan Dia.
Di samping itu coba perhatikan, dalam kita berperan sebagai pekerja, seringkali kita yang mendapatkan panggung dan pujian, seolah kita yg hebat dan bagus kerjanya buat Dia. Padahal, Dia yang modalin semuanya. Misalnya, Dia percayakan kepada kita nama baik, gelar, kedudukan, kekayaan materi, kesehatan, tenaga, waktu, pekerjaan, anak, suami/istri, jemaat, dan sebagainya. Padahal, semuanya Dia percayakan untuk dikelola dan digunakan bagi kemuliaan NamaNya, “Apa yang dahulu kuanggap berharga dan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi dan sampah karena pengenalan akan Kristus” (Filipi 3:7-11 TB). Setiap kita Dia panggil dan Dia pilih untuk tujuan yang lebih mulia bagi KerajaanNya.
Seperti saya katakan tadi, yang memberi modalnya adalah Allah, Yesus sendiri, sebagai yang Sulung. Murid Tuhan Yesus ke mana pun dan di mana pun harus menyandang ciri khas dan menjaga kehormatan seperti yang sudah Yesus Kristus contohkan. Gaya hidup sebagai murid Kristus, cerminan dari Yesus Kristus, inilah modal yang Allah berikan kepada kita untuk dapat menggerakkan orang lainnya untuk dapat melihat, mengenal dan mau ikut Kristus juga. Kita perlu kuasa Roh Kudus yang mengajar, dan membentuk kita untuk akhirnya kita bisa dipakai-Nya.
Kalau kita dipanggil menjadi pelayan-Nya, itu semua hanya karena anugerah kasih karuniaNya, bukan karena kuat dan gagah kita. Pekerjaan Roh Kudus yang akan mengubah hati setiap manusia. Dia akan menyatakan kebenaran, keadilan, dan penghakiman Tuhan dengan seruan peringatan sehingga orang-orang bertobat dan kembali kepada Allah, bukan karena seberapa kita mahir dalam menyampaikan firman. Kristus menaklukkan kerajaan-kerajaan dunia, bukan dengan kekerasan dan peperangan, tapi dengan menjadikan kita dan mereka Kerajaan Imam (Royal Priesthood), melalui pengaruh firman Tuhan yang masing-masing kita hidupi dalam keseharian, menabur kasih dan melakukan kebenaran, akan mengembalikan hati mereka kepada Tuhan.
Karena itu pantaslah kita katakan seperti sepenggal pujian ini, “T’rima kasih, Yesus. Yesus, t’rima kasih (I am here oleh Maria Shandi)”. Begitu nyata kebesaran anugerah keselamatan dan anugerah pemeliharaan-Nya yang menyadarkan dan menggerakkan kita untuk bisa memuji Dia selamanya. Kita dapat memuji Dia melalui pemenuhan panggilan amanat agung: pergi memberitakan injil, membaptis dan mengajar orang percaya melakukan apa yang diperintahkan Yesus.
Pertanyaannya, harus mulai dari mana dan bagaimana memulainya?
1. Mulai dari setia melakukan perkara kecil.
Sebelum Dia percayakan kepada kita yang lebih besar, jadilah orang yang dapat dipercaya mulai dari hal yang kecil. Koreksi-koreksi kecil yang kita terapkan dalam kehidupan rohani kita pribadi juga dapat berdampak besar bagi kita, bahkan orang di sekitar kita. Taat dan lakukan saja firman-Nya. Meskipun di depan kita belum jelas, dan ada padamu kelihatannya terbatas dan mustahil, tapi kabar baiknya Dia Allah pencipta yang kreatif. Karena Dia Allah, maka Dia bisa pakai apa yang ada pada kita menjadi sesuatu yang besar. Dia yang memperlengkapi kita, Dia Allah yang mengubah “tongkat kayu menjadi tongkat Allah”, yang dapat membelah Laut Teberau atau Laut Merah. Pertolongan Allah, bisa “menyulap” apa yang ada padamu dari yang buruk diubah jadi baik, yang sebelumnya tidak ada menjadi ada, selama hatimu tertuju hanya pada-Nya. Sesuatu yang biasa dapat diubahNya menjadi luar biasa, sebab “YESUSKU LUAR BIASA”, semuanya untuk mendatangkan sukacita besar dan kesaksian bagi memuliakan namaNya.2. Tidak ada lagi tempat untuk mementingkan kepentingan dan pikiran sendri.
Keinginan manusia belum tentu sama dengan kehendak Allah yang sempurna. Firman dan kasih karuniaNya lah yg berkuasa membangun dan menganugerahkan, kepada saudara dan saya, bagian yang ditentukan bagi kita semua, orang yang telah dikuduskanNya. Bangun hubungan dengan-Nya dan melekat pada-Nya; miliki waktu khusus setiap hari untuk berdoa, memuji menyembah dan merenungkan firman-Nya,. Kosongkan dirimu, kenali kehendakNya, isi kehendakMu dengan kehendakNya, dan lakukan Firman-Nya. Jadilah tawanan Roh-Nya.
Parameter yang keliru kalau mengukur kehendak Tuhan berdasarkan apakah menyenangkan atau lancar tidaknya ketika kehendakNya kita dilakukan. Misalnya, pemahaman yang keliru kalau kita berpikir bahwa, benar yang kita lakukan ini kehendak Tuhan kalau membawa pada sesuatu yang menyenangkan/lancar, sedangkan bukan kehendak Tuhan kalau yang harus kita lalui adalah penderitaan bahkan nyawa taruhannya. Tidak seperti itu. Kuasa Roh KudusNya yang akan menolongmu mengerti apakah itu kehendak Tuhan bagimu untuk saudara dan saya lakukan atau bukan. Kita akan mengetahuinya karena mengenal. Bagaimana? Poin nomor 1 dan 2 tadi. Sadari dan ketahui tujuan Dia menciptakanmu*, lewat firman-Nya. Bukan perasaan, bukan buah pemikiranmu, ataupun bukan untuk memuaskan nafsumu sendiri. Teladani sifat Allah Bapa, yang tidak memuliakan diri-Nya sendiri, melainkan memuliakan Anak. Teladani sifat Allah Anak, yang menundukkan diri kepada Allah Bapa. Teladani sifat Allah Roh Kudus, yang memuliakan Allah Anak. Masing-masing Pribadi dalam Allah Tritunggal bergiat bagi Pribadi yang lain. Biarlah kerinduan yang paling besar yang ada di dalam diri kita adalah melihat seluruh bumi sujud kepada Kristus, Raja kita. Seluruh bumi menjadi tempat di mana nama-Nya yang agung dan Kerajaan-Nya yang penuh kuasa dinyatakan. Seluruh bumi hidup berdasarkan perintah-perintah dan pengajaran-pengajaran firman-Nya.
Lakukanlah segala sesuatunya dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Jangan mencari keuntungan sendiri dan jangan mengingini upah dari siapapun, tapi rela hati dalam pelayananmu. Kita memberi cuma-cuma, karena kita menerima yang berharga itu dengan cuma-cuma juga dari Allah (1 Korintus 9:18 TB). Terlebih berbahagia memberi daripada menerima (Kisah Para Rasul 20:35 TB), karena menjadi berkat dan memuliakan Dia untuk itulah kita diciptakan dan itulah yg membuat kita hidup. Lakukanlah semuanya dengan hati yang menyembah dan tulus, maka Tuhan sendiri yang akan menyempurnakan semuanya lewat apa yang ada pada kita. Tuhan melihat hati. Modal hati yang tulus dan penuh kasih adalah modal utama untuk kuasa Allah bekerja melalui saudara dan saya dalam mengerjakan segala sesuatunya. KuasaNya membuat jalan-jalan kita berhasil, bahkan hasilnya menjadi luar biasa di luar yang bisa kita bayangkan. Mendapatkan kesempatan untuk melayani-Nya adalah sebuah berkat dan kehormatan. Upah kita adalah kebahagiaan Tuan kita (Matius 25:21 TB). Upah kita tidak akan hilang, tapi justru terjamin pada Allah (Matius 10:42 TB, Yesaya 49:4 TB).
Sebagai contoh, pada tahun 2019, saya dipercayakan untuk menggantikan seorang shadow teacher/guru pendamping yang cukup dikenal di dunia anak berkebutuhan khusus. Saya menggantikan dia sebagai guru yang sehari-hari mendidik anak dengan autisme mengejar pelajaran sekolanya dan juga sebagai pelatih motorik maupun sikap. Bayangkan, saya tidak punya background pendidikan maupun pengalaman di situ sama sekali. Kenapa saya terima pekerjaan itu? Hanya satu, nazar saya adalah saya ingin merasakan memberikan buah sulung dan persembahan dengan rasa syukur. Saat itu adalah saat-saat, tanpa saya sadari, saya sendiri sedang mengalami depresi sejak 2017, karena masalah di tempat pekerjaan dan keluarga. Dunia saya rasanya tidak punya siapa-siapa, tidak tahu harus kemana dan bagaimana, tidak punya gairah dan harapan untuk hidup, dan sebagainya yang dialami seseorang depresi. Tapi, justru lewat depresi itu saya bertemu Tuhan ☺️, dan saya dipulihkan lewat mengajar anak berkebutuhan khusus juga, puji Tuhan. Singkat cerita, secara ajaib anak ini menunjukkan perubahan yang baik dan signifikan hanya dalam 7 bulan saya mengajar dan melatih dia. Dia mampu melakukan dan menunjukkan banyak kemajuan di berbagai hal yang sebelumnya, dilatih bertahun-tahun, tidak bisa. Banyak hal tentang diri anak ini yang tersingkap untuk kemajuan yang lebih baik buat anak ini. Itu semua bisa terjadi karena keajaiban Tuhan, bukan karena saya pintar ataupun berpengalaman. Itu pertama kalinya Dia tunjukkan pirbadiNya yang mampu lakukan segala sesuatu dari yang tidak mungkin menjadi mungkin, dari yang tidak ada jadi ada. Modal saya, hanya hati, kasih. Doa saya saat itu, yang pertama, hanya untuk mengembalikan kebaikan Tuhan yang selama ini saya rasakan tapi saya belum mengerti dan telah saya sia-siakan. Saya tidak pernah memuliakannya dengan apa yang saya terima, karena saya pun tidak mengerti apa itu arti bersyukur. Doa saya yang kedua, saya minta tolong Tuhan pimpin, karena saya tahu saya tidak bisa apa-apa, tapi saya mau tolak pun kerjaan itu, rasanya kasihan anak itu butuh pengganti cepat dan melihat anak itu ada sesuatu yang menyentuh hati saya maka saya lakukan pekerjaan itu, semata-mata hanya karena Tuhan. Tapi yang saya tidak pernah bayangkan, Dia kembalikan kepada saya berkali lipat. Saya bertemu dan mengenal Dia hari demi hari, saya perlahan pulih dari depresi, saya bisa berpenghasilan lagi sehingga saya bisa persembahkan untuk Dia setelah dua tahun saya menganggur (karena setiap saya mau melamar pekerjaan di keahlian yang saya punya, tubuh saya menolak dan saya akhirnya harus cari bidang yang lain dan yang jam kerjanya masih memperbolehkan saya bisa menikmati ibadah minggu tanpa terganggu lagi). He is my Lord and Saviour, He is the God my healeth thee. Dia Allah dan penyelamatku, Dia Allah penyembuhku.
Utamakan kepentingan Kerajaan Sorga dan untuk kemuliaan nama Tuhan. Fokus untuk berlari mencapai garis akhir, ambil bagian dalam pertandingan iman, untuk memperoleh mahkota yang kekal. Beritakan kesaksian tentang injil kasih karunia Allah dan jangan lalai beritakan maksud Allah kepada mereka, supaya Allah dapati kita bersih tidak bersalah terhadap siapapun yang akan binasa. Jangan hiraukan nyawamu sedikit pun, untuk memenangkan sebanyak-banyaknya jiwa. Sebab, Dia Allah yang menepati Firman-Nya dan Dia pasti datang.
Biarlah pekabaran injil, kita lakukan dengan semangat, gairah, dan kerinduan untuk melihat nama Allah dipermuliakan, Kristus ditinggikan, dipuji dan disembah sebagai Raja di seluruh bumi. Peliharalah anugerah keselamatan yang kita terima dan pergunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Kandil Emas yang melambangkan kuasa Roh Kudus dan Dua Pohon Zaitun yang melambangkan minyak urapan dalam kepemimpinan Kristus, demikianlah jaga pelita kita terus menyala dan kerjakan tugas kita yang dari Allah sebagai Imamat yang Rajani untuk mempersiapkan kedatangan-Nya. Penuhi bumi dengan pengetahuan akan Injil dan jadi perantara kasih & kebaikan Tuhan untuk membawa banyak jiwa menerima keselamatan di dalam Kristus Yesus. Hidup saleh dan kudus, berdoa dan mempersembahkan korban yg tidak bercela bagi Tuhan agar namaNya bersemayam di bumi. Bukan hanya bersaksi tentang Kristus, tapi jadilah saksi Kristus. Dan, bukan hanya menjadi saksi Kristus dalam diam, tapi juga bersaksilah tentang Kristus. Supaya, mereka melihat imanmu lewat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu di sorga (Matius 5:16 TB).
Memenuhi panggilan menjadi saksi Kristus dan bersaksi bagi Kristus bukan hanya sebuah kewajiban, tapi adalah sebuah kehormatan dan anugerah terbesar. Selalu ada yg bs kita nikmati kalau kita mau berjalan bersama Tuhan dan di dalam kehendak dan panggilanNya. Pasti ujungnya lebih indah dan ada sukacita besar, lebih mulia, dan membuat hidup kita jd lebih berarti, sebab Yesusku luar biasa.
Matius 5:16 TB
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.

Jadilah terang, Tuhan Yesus senantiasa menguatkanmu, menyertaimu dan memberkati setiap langkahmu.
Sabtu, 6 September 2025
🌸 LoveSeed by Sarah 🌹With One Voice Heaven and Earth Are Singing Hallelujah : Membangun dalam kasih antar pekerja, membangkitkan pekerja-pekerja di ladangNya dan menuai jiwa sampai pada kekekalan.Syalom saudara/i LoveSeed by Sarah yang terkasih di dalam Kristus,
Renungan hari ini saya ambil dari ayat berikut:
📔 2 Timotius 2:7,9-13, 14-16, 19-26 (TB)
Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus.Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu.Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.Benarlah perkataan ini:
”Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia;
jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia;
jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita;
jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya. Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan.Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: ”Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya” dan ”Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.” Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia. Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni. Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.
Saya bersyukur kalau hari ini saya boleh membagikan renungan yang berkenaan dengan kitab 2 Timotius 2 TB, yang buat saya adalah hal sangat indah dan memberkati ketika saya menghadapi ketakutan dalam hal menjawab panggilan yang Tuhan taruh dalam hati saya. Mungkin, ada dari saudara/i yang juga sedang ada dalam ketakutan ataupun keraguan dalam menjawab sebuah panggilan, atau yang dulu sudah pernah dipanggil tapi sedang diingatkan kembali untuk meresponi, saya berdoa malam ini saudara/i juga semakin diteguhkan, menerima berkat sukacita dan kekuatan yang terkandung di dalam Firman-Nya.
Kira-kira selama dua minggu ke belakang, tanpa saya sadari sebelumnya, ternyata saya dibawa mengerti lewat kejadian yang ada di sekitar saya. Studi kasus lah ya 😂, sehingga memudahkan saya mengerti pesan yang ingin disampaikan-Nya kepada saya dan juga kita semua. Puji Tuhan, Tuhanku keren.
Demikian kita seperti bejana tanah liat di tangan Tuhan, Sang Penjunan. Dalam pembentukan lewat masalah, tekanan, kesesakan, pergumulan, dan pengajaran, seringkali air mata kita menetes. Tapi, air mata itu dibutuhkan, supaya hati kita dilembutkan dan dapat dibentuk sesuai tujuan-Nya. Supaya kita memiliki penundukkan diri, tidak jalan suka-suka sendiri, ngatur sendiri.
Sebelum saya membagikan studi kasusnya, izinkan saya menjelaskan dalam bahasa Inggris, supaya lebih jelas perbedaannya: bahwa, panggilan (calling) berbeda dengan tujuan (purpose). Setiap kita memiliki tujuan Ilahi yang sama dalam Kristus, yaitu memuliakan Allah; mengenal Allah dan memperkenalkan Allah dengan mencerminkan Kristus. Tetapi, setiap kita memiliki panggilan Ilahi yang spesifik untuk mencapai tujuan yang sama dalam Kristus. Panggilan adalah cara yang unik untuk menghidupi tujuan Ilahi tersebut, baik dengan waktu, talenta, harta maupun dengan segala sesuatu yang saudara/i dan saya punya untuk dipersembahkan bagi kemuliaanNya. Tujuan Ilahi menjawab perihal untuk ‘apa’ kita melakukan sesuatu. Tetapi, panggilan menjawab perihal ‘bagaimana’ untuk mencapai tujuan Ilahi itu. Tujuan Ilahi tidak pernah berubah, tetapi panggilan Ilahi dapat berubah dari musim ke musim. Panggilan tidak ditunggu, tetapi dapat langsung dimulai dari hal kecil, dimulai dari mengelola (‘stewarding’) dari apa yang ada padamu. Mengelola artinya dengan iman mengatur dan melipatgandakan apa yang sudah Allah percayakan kepada saudara/i dan saya, baik waktu, talenta, dan hartamu bagi kemuliaan-Nya. Mengelola itu berbicara tentang tanggung jawab dan rasa kepemilikkan, memahami bahwa semuanya milik Allah dan kita hanya pengurus dari segala modal/sumber daya yang berasal dari Allah (seperti renungan sebelumnya yang saya pernah bahas pada tanggal 3 Agustus 2025). Baru kemudian setelah kita memulainya lewat hal kecil, dari apa yang saya alami, Tuhan akan menuntun kita melakukan panggilan yang lebih spesifik untuk kita lakukan dari musim ke musim.
Jadi, studi kasusnya begini. Waktu itu 22 Agustus 2025, saya melihat salah satu postingan seorang hamba Tuhan yang mengabadikan momen dia melakukan panggilannya, di luar jadwal pelayanan dia di gereja. Yang dia lakukan adalah berdiri di satu titik di pinggir jalan yang ramai dilalui orang-orang, menunggu dan sambil memegang poster sederhana berupa tempelan kertas print yang bertuliskan, “Aku Hamba Tuhan yang, disuruh Tuhan untuk, Mendoakan Kamu, MAU?” Begitu saya melihat itu, Tuhan jamah hati saya. Saya bersyukur postingan itu menginspirasi saya disaat diperlukan dan waktuNya yang tepat. Saya sungguh merasakan sukacita melihat ada seseorang, yang introvert menurut pengakuannya, tetapi akhirnya memutuskan untuk berani mengambil langkah dan menjawab panggilan-Nya, melawan dirinya dan melakukan dari hatinya untuk Tuhan. Dia sempat bergumul selama tiga bulan. Awalnya, maju mundur, melawan berbagai ketakutan akan resiko apa yang akan dia hadapi, yaitu hujatan, cacian, makian, disalah mengerti, dan keluar dari zona nyamannya.
Saya mengerti, pastilah pergumulan itu sangatlah tidak mudah dihadapi. Mungkin tidak sedikit yang menyerah sebelum memulai, bila diperhadapkan dengan tantangan ketakutan yang demikian. Tapi, dalam perenungan ini, lewat apa yang dilalui hamba Tuhan ini, tiba-tiba ada suara lembut dalam hati saya seperti mengarahkan, “kelemahanmu bisa jadi kekuatan buat orang lain” - (28 Agustus 2025). Perkataan ini mengingatkan saya pada 2 Korintus 12:10 TB yang berbunyi, 'Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.’
Benar saja, saya baca kolom komentar, pelayanannya justru diperluas setelah dia berhasil melawan ketakutannya dan memilih untuk taat saja. Dia tidak hanya mendoakan orang di pinggir jalan itu, tetapi juga jadi banyak orang dari luar kota yang meminta untuk didoakan secara online. Selain itu, banyak juga dari mereka yang tadinya ragu menjawab panggilannya, jadi terinspirasi lagi untuk memulai panggilannya. Bahkan, ada juga yang mau ikut bergabung melayani bersama di pinggir jalan itu. Saya pelajari, dimulai dari ketaatan satu orang, seketika saja, saya melihat semangat melayani berkobar dan api kegerakan itu menyambar. 'Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar’ (Roma 5:19 Tb). ‘Satu biji gandum mati dan menghasilkan banyak buah’ (Yohanes 12:24 TB). 'Tetapi jawab Samuel: ”Apakah Tuhan itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara Tuhan? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan‘ (1 Samuel 15:22 TB). 'Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.’ (Matius 9:13).
Di satu sisi karya dahsyat-Nya dapat kita nikmati, tapi di lain sisi tetap ada saja oorang yang tidak suka. Ada yang dua hal yang jadi perhatian saya, ternyata:
1. Tidak sedikit orang yang mengatakan salut dan memberikan pujian, karena mereka sudah dipanggil namun tidak berani melangkah. dan;2. Tidak sedikit pula yang menuduh dan menghakimi apa yang dilakukan hamba Tuhan ini, baik dengan mengutip sepotong ayat firman yang di luar konteks, yaitu menuduh bahwa hamba Tuhan ini tidak melakukan apa yang diajarkan firman, yaitu berdoa di balik pintu tertutup.
Saya melihat ada hubungan sebab-akibat di sini, antara oknum yang menuduh dengan orang-orang Kristen yang memutuskan untuk tidak menjawab panggilan-Nya. Puji Tuhan, memang jumlah yang menuduh dan menghakimi tidak lebih daripada jumlah orang yang diberkati karena kembali dibangkitkan semangat melayani-Nya. Tapi, yang mau saya jadikan pembelajaran buat kita semua di sini, adalah suara dari tuduhan dan penghakiman (soal yang dicari-cari, yang menimbulkan pertengkaran) bisa menjadi suara yang cukup keras untuk mengacaukan pendengarnya, menggoncangkan iman dan merusak damai sejahtera yang sudah Allah berikan untuk membangun iman mereka.
Saya berpikir, bisa jadi bahwa salah satu faktor pekerja Tuhan dikatakan sedikit, adalah karena ulah oknum Kristen sendiri. Bisa jadi, ada pekerja baru yang dipilih Allah, tetapi tidak berani melangkah dalam panggilan-Nya karena alasannya, bukan karena malu, bukan karena dia kurang mengasihi Tuhan, tapi karena takut dengan mulut oknum-oknum ini. Sebab, mereka menyaksikan bagaimana perkataan yang tidak membangun keluar dari mulut mereka yang merasa paling tahu kebenaran dan merasa paling suci, terhadap sesama. Sehingga, ketika ada orang yang dipanggil, dia tidak siap untuk menjawab-Nya, karena dia sudah menjadi goyah lewat mulut oknum yang pernah disaksikan, semakin merasa tidak layak, takut dan terintimidasi. Meskipun, bukan dia yang diperlakukan tidak layak secara langsung, tetapi dengan menyaksikan perilaku oknum saja cukup untuk membuat imannya goyah, jadi hambatan, bahkan menolak menjawab panggilannya. Kesimpulan saya, bisa jadi karena ulah segelintir oknum Kristen seperti ini yang menyebabkan, seperti Firman katakan: ’banyak yang terpanggil tapi sedikit yang terpilih’ (Matius 22:14 TB). Kalau saya boleh menggambarkan, ini bukan lagi masalah level global, tapi sudah level universe/universal 😂. Karena, ini berbicara soal pekerjaan Tuhan dan keselamatan jiwa-jiwa. Sudah sedikit, bukannya jadi berkat, tapi karena ulah oknum juga, eh malah semakin berkurang pekerja-Nya.
Pertama, efeknya pun dapat berimbas, ke mereka yang sedang menjalani panggilannya malah menjadi goyah. Kedua, dampaknya juga dapat membuat mereka yang sudah dipanggil, tetapi masih bimbang, malah menjadi semakin enggan memenuhi panggilannya setelah melihat kekacauan dalam tubuh Kristus yang ada. Ketiga, secara tidak langsung berdampak ke mereka yang akan dipanggil di kemudian hari, karena terekam dalam ingatannya akan kisruh apa yang terjadi di tengah saudaranya, sehingga menjadi takut dan lebih baik menolak panggilanNya sejak awal. Ternyata, untuk golongan orang yang ketiga ini, tanpa disadari yang berawal dari hati yang terluka dan sedih karena menyaksikan bagaimana perbuatan oknum Kristen yang tidak saling membangun, menyebabkan gambaran tentang pelayanan yang seharusnya mulia, menjadi rusak dan menyeramkan baginya.
Saya tidak bermaksud untuk mengabaikan tanggung jawab pribadi dalam memperjuangkan keselamatan kita masing-masing yang salah satunya menjawab panggilan-Nya, ya. Tapi, saya mengajak kita melihat juga dari sisi yang lain, yaitu tanggung jawab perilaku dan perkataan kita dapat berdampak positif atau negatif, dapat mempengaruhi saudara seiman lainnya yang menyaksikan. Saya tahu, tetap syukur bagi Allah karena dari pengalaman buruk pun yang Dia izinkan untuk kita saksikan dapat mengasah iman kita. Tapi yang mau saya tekankan di sini adalah, usahakanlah berikan sumbangan yang baik pada perjalanan iman seseorang. Kita diberkati, untuk menjadi berkat dan membawa damai. Jangan sampai karena ucapan kita, yang kita pikir mau menyatakan kebenaran, tapi ternyata kita yang jadi batu sandungan bagi orang lain yang telah dipilih Allah. Jangan-jangan kitalah yang Tuhan dapati tidak layak jadi perabot emas dan perak, bukan orang yang kita hakimi, karena Tuhan melihat hati (1 Samuel 16:7 TB).
Bagi kita yang suka menghakimi, sikap kita:
poinnya bukan tidak boleh menegur ataupun berpendapat, tetapi gunakanlah cara yang benar dan berhikmat dalam menyampaikan pendapat:1. Budayakan bertanya lebih dahulu, bukan langsung menuduh.
Opini kita rentan dengan kebenaran diri sendiri, bukan kebenaran Firman-Nya. Bertanya itu untuk mencari kebenaran dan meluruskan potensi kesalahpahaman kita terhadap sesama. ‘Sebab jalan orang lurus menurut pandangannya sendiri’ (Amsal 21:2 TB). Jangan menghakimi hanya karena konteks yang salah. Jangan melakukan yang satu, tetapi mengabaikan yang lainnya (Matius 23:23 TB).2. Uji segala sesuatunya dan peganglah yang baik (1 Tesalonika 5:21 TB).
Bukan saja menguji orang lain, tapi juga menguji ucapan dan hati sendiri. Tidak semua apa yang muncul dalam hati kita, apalagi pikiran, itu berasal dari Tuhan. Jangan sampai kita bertindak atas nama Tuhan, tetapi sebenarnya kita tidak sama sekali mewakili ataupun mencerminkan hati Tuhan.3. Bila mau menegur, tegurlah dalam kasih dan keramahan, jadilah teladan, baik (apalagi dalam forum terbuka), supaya menjadi berkat bagi siapa pun yang menyaksikan (saudara seiman maupun yang masih di seberang) dan nama Allah yang dimuliakan.
Karena tujuannya, adalah memenangkan jiwa, bukan memenangkan perdebatan. Jadi tidak elok dan menyedihkan. Tidak ada jiwa dimenangkan dari hasil perdebatan. Tetapi, hati bisa diubahkan dan jiwa dimenangkan melalui injil yg dihidupi. Bagaimana dimenangkan jiwanya, bila belum apa-apa mereka, sudah melihat, bahwa tubuh Kristus sibuk saling menusuk satu sama lain, tidak ada kasih terhadap sesama, tidak sesuai apa yang diajarkan Kristus. Sehingga, mereka menjadi enggan mendengar tentang Kristus. Firman-Nya jelas tertulis, bahwa Hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Cakap mengajar dan sabar, dengan lemah lembut menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat. Memimpin mereka mengenal kebenaran, sehingga mereka sadar kembali dan terlepas dari jerat iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya (2 Timotius 2:24-26 TB).
Ayat ini juga berlaku bagi mereka yang dihakimi, untuk tidak membalas dan bersilat kata, tapi kenakanlah kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (Kolose 3:14 TB), sebab kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap (1 Korintus 13:1-13 TB).Hamba Tuhan bukan hanya pendeta, tapi kita semua yang sudah menerima kasih karunia-Nya dan dipercayakan panggilan mulia-Nya. Saya mengerti, melakukan 3 hal ini tidak mudah dilakukan bagi sebagian orang, tapi bisa dibiasakan karena mengerti bahwa itu yang baik dan benar untuk dilakukan. Dikatakan dalam kitab 2 Timotius 2:15 TB, “Usahakanlah”. Kita menjadi Kristen bukan karena sudah dibaptis saja dan mengecap kasih keselamatan dari Tuhan Yesus. Tetapi, kita disebut Kristen kalau kita bisa turut menghidupi teladan Kristus, ambil bagian, yang membawa banyak jiwa masuk dalam keselamatan kekal bersama-sama. Tidak egois, tidak self-centric, dan tidak melakukan perbuatan yang tidak bertanggung jawab, tidak sesukanya, tidak melakukan hal yang bertentangan dengan firman-Nya dan sadar akan dampak perbuatannya apakah memihak bagi kepentingan Kerajaan Sorga.“Kasih adalah kehidupan. Yesus Kristus adalah kasih, maka apapun yang Dia ‘sentuh’, menjadi ‘hidup’. Demikian bila kita dipenuhi dan menghidupi kasih Kristus, apapun yang kita ‘sentuh’ pasti diberkati, pasti hidup, pasti berbuah pada waktuNya” - (28 Agustus 2025).Menjadi pribadi yang membawa damai, tidak hanya perlu dilakukan di kalangan pendeta saja, tetapi siapa pun kita yang sudah terpanggil dan terpilih di dalam Kristus. Supaya, orang di sekitar kita tidak melihat kehadiran pekerja-pekerja Allah sebagai gangguan. Misalnya, belum apa-apa, “Duh jangan bicara rohani-rohani deh sama saya, malas debat dan diceramahin”. Hanya karena, perkataan dan perbuatan pekerjaNya tidak sinkron dengan Firman. Padahal, Tuhan-nya tidak pernah salah dan kehadiran-Nya selalu membawa berkat, meskipun kehadiran Tuhan Yesus sendiri tidak selalu diterima oleh mereka yang tidak suka dihardik kefasikannya. Seringkali, kelakuan orang Kristennya ini yg mempersulit eksistensi Kristus untuk diterima, seolah-olah kehidupan rohani dan jasmani adalah dua hal yang terpisah. Akibat dari pertengkaran, sehingga buahnya pun tidak membangun, dan malah meninggalkan luka dan menambah ‘pekerjaan rumah’ buat kita pelayan- pelayanNya.4. Segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu berguna. Segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu membangun.
Bila ditemui ada yang tidak benar, selain menegur dengan kasih, doakan juga saudara di dalam Kristus (1 Timotius 2:1-4 TB).5. Kenakan jubah kebenaran.
Jangan beraasumsi sendiri dan bertindak atas kebenaran sendiri. Jangan sampai Allah dapati kita menjadi orang yang tidak mengenakan pakaian pesta pada perjamuan kawin, sehingga kita tolak dan dicampakan-Nya ke dalam kegelapan yang paling gelap (Matius 22:11-14 TB). "Yang dipilih" adalah dalam arti mereka betul menjadi milik Tuhan, milik yang diselamatkan, apabila kita sungguh beriman dan sungguh dalam pertobatan.
Bagi yang dihakimi, yang diperlakukan tidak adil, ataupun yang ragu menerima panggilan, sikap kita:
bertekun dan bersiap dalam panggilan, rela untuk menderita memikul salib. Sadari bahwa menghadapi pengajar yang sesat bukanlah merupakan hal yang perlu ditakutkan. Karena, menerima panggilan Tuhan dapat membawa kita pada pertumbuhan iman.
Saya pahami, ternyata ketakutan saya selama ini karena saya melihat banyak orang percaya jatuh karena mendapat perilaku dari pelayan Tuhan yang tidak mencerminkan firman-Nya. Ketika mendengar teman bercerita atau bahkan menyaksikan langsung kejadiannya, saya memang tidak bereaksi agresif dan negatif, seperti langsung anti dan menjadi memiliki stigma negatif terhadap kekristenan dan pelayan Tuhan. Tapi, saya justru sedih menyaksikan itu. Saya tidak diam dan saya tetap berdiri di antara korban dan pelaku, dengan meminta maaf kepada korban atas nama pelaku, meskipun tidak saya kenal. Saya merangkul hati korban yang luka dan mengajak korban untuk tetap pada imannya, melepaskan pengampunan, sehingga tidak ada kepahitan yang berdampak tidak baik untuk pertumbuhan imannya. Saya juga tidak sama sekali menghakimi pelaku, dan justru memberikan pengertian kepada korban, bahwa pelayan Tuhan juga manusia yang masih berproses dan kita tidak pernah mengetahui apa yang pelayan Tuhan itu hadapi dalam hidupnya, meskipun saya tidak membenarkan perbuatannya. Saya pun mengajak korban justru mendoakan pelaku. Saya lakukan itu karena saya tahu Allah menghendaki semua orang selamat, lawan kita bukan darah dan daging (Efesus 6:12 TB). Saya rindu melihat tubuh Kristus bersatu, saling mengasihi, hidup rukun, saling mengerti dan saling membangun.
Tetapi, ternyata yang tidak disadari, saya tetap terluka karena sering menyaksikan tubuh Kristus yang terpecah-pecah. Hamba Tuhan satu membicarakan hamba Tuhan lain, denominasi satu membicarakan denominasi lain. Jemaat satu membicarakan hamba Tuhan lain, jemaat satu membicarakan jemaat Tuhan lain, pelayan Tuhan yang satu membicarakan pelayan Tuhan yang lain, dsb. Memang dampaknya tidak secara langsung, saya takut, dan baru terlihat ketika saya dipanggil mendekat untuk melayani dalam lingkungan rohani, bukan hanya dalam keseharian seperti biasanya. Karena itu, saya tidak mau mengambil bagian dalam pelayanan tetap apalagi terlihat.
Saya berpikir, mungkin bisa jadi pendeta lain juga awalnya mengalami ketakutan seperti saya tidak ya? Takut, karena bisa saja menjadi batu sandungan buat orang lain, karena menyakiti dan menyesatkan sesama dengan ajaran yang salah. Apalagi saya sadar, bahwa latar belakang saya ibu rumah tangga. Meskipun latar belakang pendidikan dan sertifikat saya segunung, tapi saya tidak punya latar belakang pendidikan teologia sama sekali. Saya tahu diri saja, ibaratnya pendeta yang punya latar belakang teologi saja tetap masih bisa jatuh. Di pikiran saya, semakin dipercayakan lebih, seharusnya saya bertanggung jawab lebih dengan mengambil STT. Maka dari itu, sangat logis kalau saya berpikir, tanpa gelar sarjana teologi akan semakin menyulitkan saya, tantangannya lebih banyak dan semakin rentan jatuh. Memang sempat beberapa tahun lalu, saya sangat ingin mengambil STT, tapi setelah beberapa kali mencoba, saya sadari itu bukan yang Tuhan mau untuk saya pribadi, Dia punya rencana. Jadi, daripada saya jatuh, daripada saya gagal karena saya bukan orang yang akan menempuh STT, saya berpikir lebih baik untuk tidak menjawab panggilan itu.
Mungkin sebagai gambaran ketakutan saya sama seperti dahulu, ketika pertama kali saya dipercayakan posisi manajemen, saya ada takut dan bimbang menerima tawaran posisi itu, karena saya tidak mau asal terima tawaran jabatan bagus tanpa yakin dahulu bahwa saya bisa memenuhi tanggung jawabnya dan berhasil. Tapi, tanpa melangkah dengan iman, ketakutan hanya tetaplah hanya jadi sebuah ketakutan. Demikian dengan pendeta lain mungkin ya, dalam pikiran saya, mungkin mereka sadar bahwa mereka pun tidak sempurna, tapi karena diberi tanggung jawab yang besar, yaitu menjadi wakil Allah dalam menggembalakan umat-Nya, jadi mereka melangkah saja dengan iman. Mungkin awalnya mereka juga tidak punya ide ya, bahwa kemana Tuhan mau bawa mereka dan bagaimana. Tapi, respon yang Tuhan inginkan hanya, taat dan beriman.
Puji Tuhan pada satu waktu Tuhan ajar saya mengerti. Saya sadari juga kalaupun memang itu kehendak Allah untuk saya menempuh jalur STT, kerinduan saya yang sangat mendalam adalah saya melakukannya hanya didasari oleh keinginan untuk betul-betul hanya memandang Allah saja, untuk mengasihi Allah lebih lagi, untuk mengenal Allah lebih lagi, untuk menyenangkan Allah saja, dan untuk berkenan kepadaNya. Karena, saya tahu saya tidak akan mampu lakukan panggilan-Nya tanpa Dia yang pegang tanganku. Bukan tidak akan mampu untuk lulus STT, tapi saya tidak akan mampu melakukan seperti yang Dia mau untuk saya lakukan kalau bukan karena campur tangan dan kuasa-Nya. Tapi tetap, yang saya tangkap bukan menempuh STT yang Tuhan mau untuk saya pribadi, Dia punya rencana yang lebih indah dan mulia lewat bagaimana Dia memakai saya 🥰.
Setelah Dia pelan-pelan ajar saya mengerti dan saya renungkan, panggilan Tuhan sebagai pelayan Tuhan itu ternyata bukan hal kesalahan, tidak mengerikan, bahkan Allah punya maksud indah dan tujuan mulia dalam rencanaNya, yang seharusnya setiap kita meresponi dengan positif panggilan melayani Tuhan. Hanya yang jadi kendalanya dalam prakteknya, yang kita sering temukan di lapangan, bisa bermasalah dan salah. Dan, rasa sedih saya pun ternyata bisa jadi berbahaya, membuahkan ketakutan dan lari dari panggilan. Padahal, saya yang hanya mendengar cerita dan melihat langsung, bukan korban.
Lalu, kemudian saya bertanya ke diri saya sendiri, “Bukankah memang itu yang iblis mau? Semakin berkurang, bahkan tidak ada, yang mau bekerja. Semakin sedikit juga jiwa yang bisa dijangkau dalam waktu singkat, karena semakin sedikit pekerja, sedangkan pekerjaanNya banyak. Selain itu, yang tidak menjawab panggilan dan tidak bekerja pun akan bersama iblis dalam kebinasaan. EH….. Kurang ajar sekali iblis ya, sekali mendayung, dua pulau terlampaui. Hampir-hampir aja aku terkelabui”.
Maka dari itu saya bangkit, karena saya tidak mau menguntungkan iblis. Dan, saya sadari, meskipun gelar STT itu penting sekali, tapi belajar dari rasul-rasul pun, mereka semua tidak bergelar dan tidak se-profesi. Ada Paulus seorang pemimpin, ada Matius seorang pemungut cukai, tapi ada Simon Petrus yang nelayan. Saya melihat begitu uniknya Tuhan memilih murid-muridnya, dengan beragam latar belakang, saling melengkapi dalam pekerjaan Allah dengan kelebihan dan kekurangan mereka, tapi semua membawa semangat Injil yang sama dan pengalaman yang sama, yaitu dengan berjalan bersama Yesus maka orang banyak mengenal Kristus. Satu hal lagi, sebelum memanggil mereka, Yesus sudah berdoa di bukit. Artinya Dia tidak asal memilih sehingga hasilnya kok ada Yudas, ada Petrus, ada Thomas. Tapi, semua Dia jadikan baik adanya, tidak selalu yang menurut kita baik itu lah yang terbenar dan terbaik.
Seketika setelah membaca surat Paulus kepada Timotius ini, perlahan-lahan ketakutan itu Tuhan ubahkan dengan kasih dan kerinduan kepada jiwa-jiwa, kerendahan hati dan kelemah lembutan, dan semangat serta kekuatan untuk melayani. Puji Tuhan. Lalu, bagaimana sikap kita ketika mau menerima ataupun sudah berjalan dalam panggilan tapi takut menerima hujatan dan penghakiman? Sikap kita harus tetap percaya, bahwa:1. “Kasih mengalahkan ketakutan” - (24 Agustus 2025)
Tetap menabur kasih dan saling membangun sesama yang dipercayakan pelayanan Kristus (2 Timotius 2 TB). Dasar dari semangat api lawatan itu karena kasih. Dalam kitab 1 Timotius 1:7 TB (tentang ajaran sesat) dan 2 Timotius 1:7 TB (tentang dorongan untuk beriman) berbicara, bahwa semakin engkau dipercayakan lebih oleh Tuhan, artinya semakin diperlukan lebih lagi iman. Semakin Tuhan bawa engkau ‘naik’, artinya semakin engkau tidak bisa melihat yang di depanmu, karena perbuatanNya besar dan tidak terselami. Apakah akan berhasil atau tidak, tersedia atau tidak (tidak hanya materi)? Tapi, saya mau katakan, percaya saja! Lakukan saja! Taat saja! Fokus dan hanya andalkan Tuhan!Firman-Nya, Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh
yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (2 Timotius 1:7 TB). Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih (1 Yohanes 4:18).There is no fear in love [dread does not exist]. But perfect (complete, full-grown) love drives out fear, because fear involves [the expectation of divine] punishment, so the one who is afraid [of God’s judgment] is not perfected in love [has not grown into a sufficient understanding of God’s love] - (1 John 4:18 AMP).Kalau Tuhan mau engkau melayani Dia, sadari bahwa itu karena Dia mengasihimu. Tujuannya supaya saudara/i dan saya sampai kepada Dia dan tidak ada lagi ketakutan pada saat penghakiman nanti, karena sudah mengerti kasih Allah yang sempurna (‘God’s love’) dan bekerja di ladang yang Dia tentukan. Bila kita masih merasa takut dalam menerima panggilanNya, bisa jadi karena kita masih ragu akan kasih-Nya.Dari Surat Paulus kepada Timotius, saya pelajari ternyata ketakutan dalam menjawab panggilan itu sudah ada sejak zaman rasul. Mungkin Paulus pun alami sendiri, tetapi ketika menulis surat kepada Timotius, dia sudah berhasil melewatinya. Sehingga, Paulus dapat menguatkan pelayanan Timotius lewat suratnya.
Mendengar, melakukan firman dan kemudian memenuhi panggilan dalam pemberitaan injil, akan mengasah iman kita menjadi sempurna di dalam Tuhan. “Tanpa pertobatan (yang ditunjukkan melalui perbuatan), iman (kepada Kristus) tidak sempurna” - 28 Agustus 2025. Ini seperti yang ada dalam Kitab Yakobus 2:14-26 TB.Banyak orang sulit melihat indahnya melayani Tuhan dan sukacitanya membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan, karena tanpa kelahiran baru dan tanpa memakai kacamata rohani, orang-orang tidak akan bisa mengerti hal ini. Dikatakan, satu orang berdosa yang bertobat, ada sukacita di sorga lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan (Lukas 15:7 TB). Sukacita yang terbesar sesungguhnya adalah melihat pertobatan jiwa-jiwa. Kita berbahagia ketika kita melakukan kehendakNya, dipakaiNya untuk menjangkau jiwa-jiwa. Artinya, tanpa taat menjawab tanggung jawab panggilan Ilahi-Nya dan tanpa taat setiap perintahNya, iman seseorang tidak sempurna. Bersihkan dulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih (Matius 23:26 TB).
2. “Peliharalah kasih” - (24 Agustus 2025)
Biarlah hanya kasih saja yang menjadi landasanmu menerima panggilan itu dan melayani bagi keselamatan jiwa-jiwa, serta hanya ingin menyenangkan Allah saja yang jadi keinginan dalam hatiMu, sehingga apa pun yang kamu kerjakan berhasil, apapun kamu lakukan hanya untuk Tuhan.
Firman-Nya, Peliharalah kasih persaudaraan! (Ibrani 13:1 TB).Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: ”Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Ibrani 13:6 TB).Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu (Ibrani 13:17 TB).Pemimpin disini, selain orang-orang yang ada di sekitar saya, dan yang terutama adalah Tuhan Yesus sendiri. Tuhan Yesus yang bertanggung jawab atas saya. Saya merasa lega ketika mengerti bahwa Tuhan tidak suruh saya pertanggung jawabkan diri saya sendiri kalau apa yg saya lakukan salah, karena Dia sendiri, Bapa yang penuh kasih, yang akan bertanggung jawab melindungi dan mendidik saya. Dia yang panggil, maka Dia yang akan bertanggung jawab menyempurnakan saya. Dia yang memulai, Dia yang mengakhiri. Jadi, saya tidak perlu takut. Dia Allah yang tahu apa yang Dia lakukan.
Saya mengerti sekarang, bahwa karena begitu besar kasih Kristus terhadap kita, sehingga murka Allah tidak mngenai kita, seperti di perjanjian lama, dikarenakan ketidaksempurnaan kita. Karena ‘Bapa melihat Roh Kristus yang di dalam kita’, maka Dia justru mengasihi dan mengajar kita. Kristus seperti menjadi pelindung kita semua. Ketika saya tidak sempurna, saya ditutupi dengan kesempurnaan Kristus, sehingga yang Allah lihat adalah gambaran-Nya sendiri. Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus, karena begitu besar pengorbanan-Mu bagi kita manusia, yang Kau kasihi. Sampai Bapa pun tidak sampai hati “menyentuh” apa yang menjadi kesayangan AnakNya: kita manusia.Saya tiba-tiba teringat dan dibuat mengerti akan sebuah kalimat, “sembunyikan hamba di balik salibMu”. Ternyata, kalimat itu tidak hanya berartikan biar hanya kemuliaan Allah saja yang nampak. Tetapi, artinya juga “biar hanya kehendakMu yang terjadi atasku dan rancanganMu diatas rancanganku. SalibMu melindungiku” - 23 Agustus 2025. SalibMu melindungiku, artinya Tuhan Yesus bertanggung jawab atasku. Kekuranganku sudah Dia tebus dan Dia sempurnakan.
Karena Tuhan yang memanggil, maka saya yakin Tuhan juga pasti yang mendidik, memampukan dan tidak akan meninggalkan hamba Tuhan lainnya dan saya sedetik pun. Hamba Tuhan, sama seperti jemaat, terus dimurnikan, tidak ada level mana lebih tinggi dan rendah. Hanya perbedaannya, yang tahu banyak, dituntut banyak.
Saya bersyukur, kalau Tuhan yang memanggil saya, pasti Dia juga yang bertanggung jawab atas saya. Kalau Tuhan yang memanggil saya, Tuhan juga yang memegang kendali dan bertanggung jawab atas saya sepenuhnya. Jadi, bila kita berjalan dalam panggilan itu dengan kasih, selama kita tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri, maka kita akan beruntung ke mana pun kita pergi dan hidup kita diberkatiNya (Ulangan 28:14 TB, Yosua 1:7 TB).
Refleksi perbedaan antara :bekerja untuk diri sendiri (melayani pekerjaan Tuhan) Vs bekerja untuk Tuhan (melayani Tuhan).
Saya merenungkan dan berkesimpulan, mungkin itu perbedaan antara dipanggil, bekerja untuk Tuhan, dengan promosi manusia, bekerja untuk diri sendiri (bekerja tapi tanpa menyadari sebagai pelayanan kepada Allah). Ketika dahulu saya menjalani peran saya bekerja di manajemen, saya tidak bisa menghidupi peran itu, karena saya hanya menggunakan kekuatan sendiri, tidak ada yang menjamin dan bertanggung jawab atas saya secara rohani. Kalau pun ada yang bertanggung jawab secara jasmani, tapi manusia tidak memberikan rasa aman. Karena, manusia bisa berubah. Salah satu kecenderungan manusia adalah lebih memilih apa yang menguntungkan dirinya dan mencari aman untuk dirinya sendiri, meskipun harus mengorbankan orang lain pun akan dia lakukan. Hari ini bisa dijadikan kawan, tapi besok bisa dijadikan lawan. Sehingga, tidak bisa mengandalkan manusia dan firman-Nya pun mengatakan, tidak hanya tidak bisa, bahkan tidak boleh.
Tetapi, ketika saya sudah mengerti dan mau menjawab panggilan Tuhan di bidang rohani (berlaku juga untuk mereka yang bekerja untuk Tuhan di sekuler), selalu ada sebuah kepastian yang saya rasakan, yaitu kalau Tuhan yang memanggil dan memilih, tidak ada satu manusia pun yang bisa menjatuhkan. Sekalipun, harus berhadapan dengan sesama dan melewati hal yang kurang enak, misalnya perdebatan, penghakiman, hinaan, fitnahan, dan sebagainya, tapi saya lihat selalu ada sisi positifnya. Sisi positifnya adalah melalui kesiapan rela menderita memikul salib, kerendahan hati kita diasah. Kalau ada salah, cepat minta ampun kepada Tuhan dan minta maaf kepada sesama, dan cepat introspeksi diri. Tidak terpancing dalam perdebatan antar hamba Tuhan, apalagi saling menjelekkan dan membenci.
Dalam 1 Timotius 1:12 NIV, dikatakan “I thank Christ Jesus our Lord, who has given me strength, that he considered me trustworthy, appointing me to his service.” Dan dalam 1 Timotius 1:13-17 TB, dikatakan “aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: ”Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal. Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.”
Dalam kitab 1 Timotius 1:7 TB, juga menjawab kenapa saya tidak perlu takut. Ternyata, Paulus dan Timotius pun kemungkinan besar mengalami rasa takut yang saya alami. Kuncinya adalah mereka pegang kasih Tuhan dan Tuhan yang memberikan kekuatan. Bayangkan, seorang Paulus, pemimpin yang punya pengaruh yang luas saat itu, seorang yahudi yang pintar dan terpandang saja masih bisa berkata sebetulnya dia tidak layak (‘given me strength’ dan ‘considered’), Sebab, dia sadar dia pendosa, bahkan yang paling berdosa yang tidak layak menerima panggilan Rasul. Kalau dia boleh melayani, itu hanya oleh karena kasih karunia Allah yang limpah, dalam iman dan kasih Kristus Yesus, bahkan dipercaya untuk menjadi contoh. Buat Paulus, adalah sebuah kehormatan ketika ditunjuk dan diutus (‘appointing’) melayani Tuhan. Ayat ini juga secara implisit, menunjukkan Paulus tidak menghitung apapun yang dia kerjakan sebelumnya sebagai pelayanan kepada Tuhan, saat dia masih menjadi Saulus. Berarti, pelayanan Paulus sebagai rasul ini sungguh-sungguh bukan didasarkan kepintaran dan pemahaman dia sebelumnya yang membuat dia malah jadi pembunuh. Mungkin kepintaran Saulus saat itu bisa dibilang kalau hari-hari ini mungkin setara teori teologi ya. Tapi, pelayanan Paulus dimulai sejak dan didasari oleh perjumpaan pribadinya dengan Tuhan Yesus dan dalam iman terus berjalan bersama Roh Kudus dan kuasaNya yang menyertai.
Buat saya pribadi, perjalanan Paulus dan juga rasul-rasul lain sebelum Paulus benar-benar menguatkan dan meneguhkan saya, bahwa kita tidak perlu merasa tidak layak dalam melayani kalau Tuhan sendiri yang sudah mengatakan bahwa kau layak, kau sempurna di dalam Dia. Karena, kabar baiknya, kasih karunia Tuhan memang diberikan untuk orang-orang yang tidak layak dan kasih karunia Tuhan itu cukup bagi saya dan saudara/i. Dalam surat Paulus sebetulnya dia mau katakan, bahwa sebetulnya dia pendosa yang paling hina, tapi Tuhan tetap pakai dia. Artinya, panggilan melayani bukan karena siapa kita, tapi tentang siapa Dia yang mengutus kita. Panggilan melayani untuk bekerja bagi Allah adalah sebagai bentuk kemurahan hati dan belas kasihan Allah, serta sebagai tanda kasih karuniaNya Tuhan kepada setiap kita supaya kita dapat beroleh kekekalan di dalam Dia 💜. Sehingga, meskipun kita harus menderita bagi Dia, itu adalah sebuah kehormatan dan Injil Firman-Nya harus tetap diberitakan supaya sebanyak-banyaknya jiwa dapat menerima juga keselamatan oleh karena pemberitaannya. Kalau sampai hari ini saudara/i dan saya masih diberi kesempatan, meski keadaan belum berubah dan masih menghadapi yang tidak enak, siapa yang kita mau tunjukkan? Kristus atau diri kita? Biarlah hanya Kristus saja yang ditinggikan.
Saya pelajari modal penting bekerja untuk Tuhan adalah:1. Kasih, yang muncul dari hati nurani yang murni, iman yang tulus, dan ‘good conscience’ (suara hati yang baik).
Tuhan tidak melihat latar belakang dan kepintaranmu, tetapi Tuhan hanya mencari orang-orang yang mau dipakainya yang memiliki hati seorang hamba, memperhatikan kepentingan orang lain, rendah hati dan lembut hati mau diajar, dan rendah diri dan tunduk kepada Tuhan dan kehendakNya.Firman-Nya,
“As I urged you when I went into Macedonia, stay there in Ephesus so that you may command certain people not to teach false doctrines any longer or to devote themselves to myths and endless genealogies.
Such things promote controversial speculations rather than advancing God’s work—which is by faith. The goal of this command is love, which comes from a pure heart and a good conscience and a sincere faith.
Some have departed from these and have turned to meaningless talk. They want to be teachers of the law, but they do not know what they are talking about or what they so confidently affirm” - (1 Timothy 1:3-7 NIV).2. ‘Fight a good fight of faith’ (Memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman).
Selain apa yang sudah dipaparkan sebelumnya, saya juga takut semakin melayani, saya semakin menjauh dari Tuhan, karena menjadi semakin sibuk. Saya sering melihat manusia tenggelam dalam kesibukannya sampai tidak memiliki waktu dengan Tuhan. Tapi, di saat bersamaan, saya tahu saya salah kalau saya takut dan jadi tidak menjawab panggilanNya, karena sama saja saya tidak mengasihi Tuhan dan sesama, tetapi hanya mengasihi diri sendiri. Ditambah, semakin terbukti kalau saya menolak, berarti justru saya sudah jauh dari Tuhan; karena, saya menyangkal Dia, saya mengkhianati-Nya, karena saya tidak melakukan pengakuan iman di depan banyak saksi atas kasih karunia dan segala yang Dia limpahkan dalam hidup saya.Hal ini gambarannya seperti belum apa-apa, saya sudah ‘kapal karam’ atau ‘shipwrecked’, karena dari takut jadi menyebabkan tawar hati dan kewalahan (‘overwhelmed’). Jadi, saya pahami bahwa saya tidak bisa lari dari panggilan-Nya, karena itu melanggar firman-Nya. Artinya, ini bukan pilihan, tetapi keharusan untuk melakukan kehendakNya, yaitu menjawab panggilanNya. Bukan atas dasar keterpaksaan ataupun karena tidak punya pilihan, tetapi harus atas dasar yang benar bahwa Dia Allah yang mengenal saya, yang memanggil dan memilih saya, dan saya dimeteraikan sebagai milik kepunyaan-Nya. Maka dari itu, saya dikuduskan-Nya, saya dipandang layak untuk dipakaiNya, dan saya disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.Firman-Nya,
“Timothy, my son, I am giving you this command in keeping with the prophecies once made about you, so that by recalling them you may fight the battle well (in other translations: ‘fight the good fight’ / ‘fight like a good soldier’ / ‘good fight of faith’), holding on to faith and a good conscience, which some have rejected and so have suffered shipwreck with regard to the faith” (1 Timothy 1:18-19 NIV).'Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni. Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka,‘ (1 Timotius 1:18-19 TB).“But as for you, O man of God, flee from these things; aim at and pursue righteousness [true goodness, moral conformity to the character of God], godliness [the fear of God], faith, love, steadfastness, and gentleness. [2 Timothy 3:17] Fight the good fight of the faith [in the conflict with evil]; take hold of the eternal life to which you were called, and [for which] you made the good confession [of faith] in the presence of many witnesses” (1 Timothy 6:11-12 AMP).'Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.’ (1 Timotius 6:11-12 TB).
Kita dipilih untuk membawa damai. Kita bisa juga belajar dari apa yang tejadi dari kejadian demontrasi tanggal 27 Agustus - 30 Agustus 2025, semua dimulai dari ada orang-orang yang tidak mau mendengar. Saya katakan ini bukan hanya berlaku untuk pemerintah, tapi kita hamba Tuhan. Semuanya, kembali ke hal paling dasar: refleksi diri sendiri di mana pun kita diutus. Dari kejadian ini saya semakin melihat bahwa ternyata, semakin kita diangkat dan diberi kekuasaan, akan semakin menyatakan apa yang ada di dalam kita, apakah yang “baik” atau yang “buruk”? Mau “sadar” atau mau terus lakukan “pembenaran diri”? Seharusnya…, sadar dan semakin menanggalkan yang buruk. Menyangkal diri dan memikul salib. Seharusnya…, semakin membenahi diri dan berubah. Bukan mengubah mereka yang kita pimpin, tapi dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu.
Kepemimpinan, juga pelayanan, bisa sukses karena pemimpinnya mengerti untuk semakin punya hati hamba. Demikian dalam melayani Tuhan, kita harus menghamba kepada Allah dalam memimpin umatNya. Mereka yang kita layani akan berubah, kalau dimulai dari diri kita sendiri dahulu menjadi contoh yang baik dan benar dalam Tuhan. Kepemimpinan, demikian juga pelayanan, bukan status, melainkan kualitas. Semakin dipercayakan lebih untuk melayani Tuhan, semakin ditaruh di kursi kepemimpinan, semakin diberi kekuasaan, justru kita harus semakin sadar bahwa kita harus mengandalkan Tuhan, supaya kualitas yang benar itu nampak dan berdampak.
Berjalanlah di dalam kebenaran, bukan berjalan atas nama kebenaran. Semuanya kembali ke dasarnya, Firman Tuhan (Alkitab). Kita sungguh membutuhkan Tuhan. Dasar yang tidak sekedar dasar, tetapi dasar dari segala sesuatinya, dampaknya besar dan menjadi pondasi yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan panggilan dan hidup kita. Mari, kita sama-sama berjuang menuntaskan panggilan kita dalam Kristus, sampai kita dapat saksikan Filipi 2:10-11 TB dan seperti lirik pujian With One Voice dari New Wine, terjadi. Surga dan bumi satu suara menyanyikan Haleluya bagi Dia yang duduk di tahta surga. Surga menceritakan kemuliaanNya, seluruh makhluk menyanyikan pujian bagiNya, segala yang bernapas memuji, menghormati dan memuliakan sang Raja.Orang-orang benar pilihannya menjadi imam yang kudus yang melayani hati Raja dengan hati yang tulus.
Filipi 2:10-11 TB
supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ”Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!
Doa:
Kami perlu Engkau, Tuhan dan Allah kami, Yesusku dan Penyelamatku. Berikan kami lebih lagi hikmat dan hati hamba. Kuatkan kami untuk tetap bertahan di dalam kebenaranMu di tengah dunia ini. Biar kami Engkau dapati layak dan berkenan, menjauhi perdebatan, menabur kasih, selesai tuntas mengelola dan melipatgandakan yang Kau percayakan; Yaitu, kasih, keadilan, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, kedamaian dan segala kebenaran-Mu yang Kau ajarkan kepada kami.
Di dalam nama Tuhan Yesus, Emmanuel, Amen.
Sabtu, 27 September 2025
🌸 LoveSeed by Sarah 🌹'PRUNING' : Dipangkas/Dibersihkan.Syalom saudara/i LoveSeed by Sarah yang terkasih di dalam Kristus,
Renungan hari ini saya ambil dari ayat berikut:
📔 John 15:1-2 (AMP)
I am the true Vine, and My Father is the vinedresser. Every branch in Me that does not bear fruit, He takes away; and every branch that continues to bear fruit, He repeatedly prunes, so that it will bear more fruit even richer and finer fruit📖 Yohanes 15:1-2 (TB)
Akulah pokok anggur, yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.
Empat hari yang lalu, saya belajar kebaikan Tuhan dari tanaman. Saya lagi suka aja berkebun belakangan ini dan menikmati keindahan ciptaan Tuhan. Beberapa hari sebelumnya, waktu saya menyiram tanaman dan melihat salah satu tanaman, yang namanya Taiwan beauty, di taman saya, saya berpikir kok sudah tidak ada beauty-nya ya belakangan ini. Awalnya itu cantik, berbunga ungu dan kelihatan segar, sehat, hijau daunnya. Tapi, sekarang bunganya hampir tidak ada. Batangnya tinggi dan cabang rantingnya lebat tetapi tidak elok. Rantingnya kurus kering dan tidak ditumbuhi daun. Daunnya hanya sedikit di ujung saja dan daunnya pun tua, keriput, kuning, serta tidak segar dipandang mata.
Saya “gemas” melihatnya, rasanya ingin saya potong pendek batang dan rantingnya, lalu daun tua dan bunga yang sedikit itu dibuang, supaya bisa tumbuh daun dan bunga yang baru dan harapannya bisa lebih sehat dan lebat. Dalam bayangan saya, saya ingin batang dan rantingnya itu berdaun hijau segar dan lebat dari bawah sampai atas serta banyak bunganya di setiap pucuknya. Tapi kemudian, sebagai tukang kebun saya berpikir, “kok seperti rasanya sayang yah kalau daun dan bunga yang ada saat ini terbuang”. Lalu, “kalau dipotong habis seperti ini, kan jadi jelek yah?”. Mulai muncul keraguan, “bisa tumbuh yang baru yang lebih bagus tidak yah? Apakah akan jadi seperti yang saya harapkan tidak yah, karena saat baru dipangkas pasti jadi pendek, botak dan jelek?”.
Lalu, saya teringat kata ‘Pruning’, seperti yang ada di alkitab. Setelah maju-mundur dari hari-hari sebelumnya, hari itu juga akhirnya saya bulatkan tekad untuk memangkas batang ranting yang kering, tipis, layu, pokoknya yang jelek, botak tidak berdaun dan mati saya buang. Saya memberanikan diri, karena saya pikir saya tidak akan pernah tahu akan tumbuh daun lebat atau tidak, akan tumbuh batang baru yang lebih kuat atau tidak, sampai saya mencobanya. Dan, saya lakukan ‘Pruning’ itu.
Akhirnya, beberapa hari kemudian ternyata dari batang ranting yang saya bersihkan mulai tumbuh daun-daun muda berwarna hijau pada batang rantingnya, mulai dari bawah sampai atas. Hijaunya lebih indah, lebih segar dan lebih lebat dari yang sebelumnya. Saat ini, Taiwan Beauty itu masih belum berbunga, karena membutuhkan waktu. Tapi, saya percaya pasti kalau daunnya yang baru saja tumbuh menjadi lebih lebat dan cantik, pasti bunganya pun demikian.
Saya percaya Tuhan bisa bicara kepada kita dengan cara yang berbeda-beda, tetapi yang mau saya katakan adalah Tuhan bisa bicara lewat apapun dalam hidup kita untuk membuat kita mengerti kehendak-Nya. Dari sini, yang dapat saya pelajari dari praktek dan melihat langsung melalui media tanaman ini, adalah yang pertama, ’Pruning’ atau dibersihkan, perlu dilakukan secara berkala untuk menghilangkan ranting yang mati atau yang tumbuhnya terlalu cepat. Memang setelah baru dipangkas, tanaman itu kelihatannya jelek sejenak, tetapi selanjutnya yang terjadi adalah pertumbuhannya lebih baik. Demikianlah kita, seperti ranting di dalam Tuhan, perlu dibersihkan dan dibentuk ulang di waktu dan pada area yang berbeda dalam hidup kita, supaya kita semakin bertumbuh dan semakin lebat berbuah.
Lalu, yang kedua, hal yang dapat saya pelajari adalah tentang hati Allah, sebagai pengusaha kebun, yang sama sekali tidak jahat. Ketika Dia tahu, bahwa dibersihkan akan menyakitkan kita, tetapi Dia tetap harus lakukan, karena yang Allah lihat adalah pengharapan yang jauh di depan, yaitu pertumbuhan kita yang menjadi lebih sehat, lebih cantik, lebih berbuah/berbunga.
Selanjutnya, yang ketiga, hal yang dapat kita pelajari, bahwa selama Yesus lah pokok anggurnya dan kita lah carangnya, maka pastilah kita akan berbuah.
Kemudian, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan saat dibersihkan. Dimulai dari yang pertama, adalah “jangan berontak kalau dibersihkan”. Jangan marah kalau diproses, kalau harus sakit, dan kalau harus terlihat “jelek” sebentar dalam melewati prosesnya, karena memang belum selesai. Tidak perlu khawatir, percaya saja, selama kita melekat pada Yesus sebagai pokok anggur yang benar, pasti buahnya pun kebenaran.
Lalu, yang kedua, sangat baik jika kita memeriksa diri kita secara berkala dan minta kepada Tuhan untuk ditunjukkan hal-hal apa yang ada dalam diri kita yang perlu dibersihkan. Karena, jika tidak dibersihkan, ranting yang tidak sehat/mati itu dapat menjadi penghambat hubungan kita dengan Tuhan. Tanyakan pada dirimu, apakah selama hidup saya, ke mana pun, membawa ranting yang tidak sehat, ‘kering, tipis, layu, jelek dan botak’, bahkan mati? Ranting yang tidak sehat/mati, adalah sesuatu yang ada di dalam dirimu yang menghalangimu untuk dapat menikmati apa yang terbaik yang sebetulnya sudah Tuhan siapkan, tetapi menjadi belum bisa saudara terima kalau rantingnya tidak dibersihkan terlebih dahulu. Ranting yang tidak sehat/mati, yang perlu dibersihkan, itu mungkin bisa jadi hubungan yang buruk, bisa jadi luka di masa lalu, bisa jadi sifat yang tidak baik yang dapat menghalangimu untuk bisa menikmati hidup yang Tuhan sudah karuniakan, atau bisa jadi segala sesuatu yang saudara utamakan, atau prioritaskan, di atas Tuhan, untuk mendapatkan rasa aman menurut persepsimu. Tuhan menjadi yang nomor 2, entah itu dibandingkan dengan dirimu, keinginanmu, atau apapun yang membuat dirimu merasa aman di luar Tuhan. Seharusnya, rasa amanmu diletakkan di dalam Tuhan. Tetapi, kita mungkin tanpa sadar seringkali menggunakan kekuatan kita sendiri untuk bertahan hidup, sehingga kita hidup di luar pokok anggurNya, yang mana tidak ada kehidupan di luar Yesus. Dia lah pokok anggur dan kitalah carangNya. Seperti lagu, *Yesus pokok dan kitalah carangNya, tinggallah di dalamNya, pastilah kau akan berbuah.
Selanjutnya, yang ketiga, Yesus cintaku, ku cinta kau, kau cinta Dia. Tanpa mau dibersihkanNya dan tinggal di dalamNya, artinya kita tidak mengasihi Tuhan. Tanpa dibersihkanNya dan tinggal di dalamNya serta tanpa mengasihi Tuhan, mustahil kita bisa mengasihi sesama. Tanpa dibersihkanNya dan tinggal di dalamNya, tanpa mengasihi Tuhan, dan tidak bisa mengasihi sesama, maka pertumbuhan kita lama-kelamaan menjadi tidak baik, tidak sehat, menjadi terhambat, dan tidak bisa berbuah. Kalaupun dapat bertumbuh, seperti Taiwan Beauty sebelum dipangkas, tumbuhnya pun tidak sehat dan tidak maksimal. Dan, kalaupun berbunga atau berbuah, bunga atau buahnya tidak maksimal. Jadi, pilihannya hanya ada dua, yaitu:1. kita akan sengsara bila tetap hidup dengan membawa ranting yang tidak sehat/mati itu, atau2. kita biarkan diri kita melewati kesakitan dengan izinkan Tuhan membuang habis ranting yang tidak sehat/mati itu.Lihat dr kacamatanya Tuhan dan katakan, “Ya, Tuhan, saya mau dibersihkan”. Tidak perlu takut dan enggan menyerahkan sesuatu yang kita pikir kita sudah tau dan yang kita pikir kita sudah mengerti, untuk digantikan dengan sesuatu yang belum bisa kita lihat atau belum kita mengerti. Karena, Dia Tuhan yang terlebih melihat dan terlebih mengerti segalanya daripada kita. Meskipun rasanya tidak enak dan tidak nyaman, yang terbaik, adalah izinkan Tuhan membersihkan kita, karena setelah itu semua selesai, kita akan melihat hasil yang terbaik, yaitu kebaikan dan kemuliaan-Nya!
Lalu, bagaimana untuk kita dapat terus bertahan saat dibersihkan-Nya ? Ada dua hal, yaitu yang pertama, tinggal di dalam Yesus untuk berbuah. Niat di dalam hati saya saat menggunting ranting yang tidak baik, adalah tidak ada yg lain selain ingin tanaman itu lebih sehat lagi dan berbuah/berbunga lebih banyak lagi. Demikian terlebih lagi Tuhan, karena kasihNya yang besar, Dia sangat mengasihimu. Dia ingin melakukan banyak hal besar di dalam hidupmu dan melalui hidupmu. Tuhan ingin melihat kita sehat secara rohani, supaya kita bisa berbuah di setiap musim hidup kita, bahkan yang terkeras sekalipun. Tuhan ingin mengajarmu dan melatihmu untuk menjadi baik dan lemah lembut, sabar dan membawa damai sejahtera, mengasihi dan mengampuni, seperti Yesus Kristus. Tetapi, kita tidak dapat berbuah/berbunga dengan usaha kita sendiri, seperti yang terdapat di dalam firman pada kitab Yohanes 15:4 (TB) mengatakan, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku”. Dengan lain kata, kita harus memiliki waktu dengan Tuhan. Hubungan kita dengan Tuhan itu lebih dari sekedar ke gereja setiap hari Minggu dan melakukan rutinitas rohani lainnya, tetapi bangunlah hubungan pribadi denganNya setiap hari, baik lewat membaca firman, mendengar khotbah, memuji menyembah Tuhan, maupun berdoa. Kalau dunia saja bisa memaksa kita merelakan 8 jam waktu kita dalam 5 hari untuk bekerja, untuk memberi makan tubuh jasmanimu, ya masa untuk membangun manusia rohmu dan persembahkan buat Tuhan kita hanya memberikan yang ‘bare minimum’ atau minimal saja, misalnya hanya dengan ke gereja 1 kali seminggu dan itu pun hanya 2 jam? Tidak mungkin cukup. Dunia tidak mungkin memaksa kita ke arah Tuhan, tetapi harus kita sendiri yang melatih dan mendorong, bahkan kalau perlu PAKSA, diri kita meresponi dengan benar ajakan dan uluran tangan Tuhan untuk melatih kita, baik di tengah kesakitan melawan kelemahan kita, ataupun di tengah kesibukan dan berisiknya dunia.
Hal yang kedua, untuk kita dapat terus bertahan saat dibersihkan-Nya, adalah dengan tetap memandang pada hadiah sorgawi. Seperti dalam firman Tuhan pada kitab Filipi 3:13-14 (TB) berkata, “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus”. Buat keputusan sungguh-sungguh untuk melepaskan masa lalu dan terus berjuang melakukan apa yang benar untuk mengalami hidup yang penuh, kaya, dan melimpah di dalam Kristus. Miliki mental pemenang, bukan mental korban. Mental korban adalah sering merasa tidak berdaya, merasa sendiri dan ditinggalkan, menyalahkan keadaan, dan tidak percaya bahwa Tuhan sanggup menolong. Mental pemenang adalah mereka tahu, bahwa mereka menang karena kuasa Tuhan dan bukan karena kekuatan mereka sendiri. Kita diciptakan sungguh amat baik, terlepas kelemahan-kelemahan kita. Tuhan mau ubahkan kita bukan hanya menjadi pemenang, tetapi menjadi lebih dari pemenang. Tuhan izinkan kita melewati proses pembentukan-Nya, supaya waktu kita diangkat naik, kita tidak sombong lagi dan tidak jatuh tergeletak. Kita dapat mempertahankan posisi kita, bahkan terus berprogres. Lewat proses pembentukan-Nya, Tuhan melatih tangan kita untuk berperang supaya mahir berperang, supaya karakter terbentuk, supaya hidup kita tetap bergantung kepada Tuhan. Semuanya Dia lakukan semata-mata hanya untuk kebaikanmu, untuk mempercantikmu, dan membawa kita kepada penggenapan janji-janjiNya di bumi, maupun di surga. Dia hanya ingin kita teguh, tidak tergoncangkan, bahkan Dia ingin membuat hidupmu berbuah lebih banyak, bahkan berkelimpahan, di tengah musim kehidupanmu yang tersulit sekalipun, karena kita aman di dalam Dia. Lupakan apa yang ada di belakangmu, arahkan diri pada apa yang ada di hadapanmu, dan berlari lah kepada tujuan akhir untuk memperoleh kemenangan panggilan sorgawi, yaitu hidup kekal di sorga melalui Kristus Yesus.
Terakhir, kata yang berulang-ulang menggema di hati saya, adalah “perkara yang di atas”. Dalam firmanNya di Kolose 3:2-4 (TB) tertulis, “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan”. Hendaklah kita menaruh pikiran kita pada perkara yang lebih mulia dan agung, yaitu kehendakNya dan rencanaNya atas kita. Hendaklah setiap kita bersunat hati, supaya kita turut dibangkitkan bersama dengan Kristus dan menerima kepastian janji hidup kekal di sorga. Kitab Kolose 2:11-12 (TB) mengatakan, "Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati".
Kolose 2:6-7 TB
Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.


Haleluya puji Tuhan. Kiranya damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu. Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu. Baik dalam perkataan dan perbuatan, maupun segala sesuatunya, lakukanlah dalam nama Tuhan Yesus sambil bersyukur, menyanyikan mazmur, puji-pujian dan nyanyian rohani kepada Allah, Bapa kita, di dalam hatimu.
Yang siap untuk diubahkan hatinya, dilembutkan, boleh taruh tangan kanan di dada, kita berdoa.Doa:
Bapa terima kasih untuk firmanMu. Engkau melihat mereka yang meletakkan tangan di dada, yang siap memberikan dirinya dan hidupnya untuk dibentuk Tuhan, semakin berbuah, utuh dan penuh melimpah di dalamMu. Dengan sungguh kami mau buat komitmen, kami mau sungguh-sungguh mengikut Tuhan, mau diubahkan seturut gambar dan rupa Allah, yang berbuahkan kasih, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, penguasaan diri dan lemah lembut. Urapi dan jamah telinga juga hati setiap kami. Kami yang keras, yang berbantah-bantah, yang selalu punya beribu alasan untuk tidak turut firmanMu, berubah jadi memiliki hati yang penuh kelembutan, kesabaran dan jiwa kami tunduk jadi hamba yang setia. Kami jadi memiliki telinga seorang murid, yang cepat mendengar dan lambat berbicara, sehingga kami dapat menerima rahmatMu, hikmat dan nasihat dari Roh Kudus di tengah proses pembentukan untuk kebaikan kami dan sesuai rencanaMu. Kami ingin Engkau ambil alih seluruh hidup kami, hati kami, pikiran kami, dan biar Roh keperkasaan dariMu yang memimpin, menguatkan, serta memampukan kami untuk dapat menundukkan kelemahan-kelemahan kami di bawah kuasa RohMu dan keluar bukan hanya sebagai pemenang tetapi lebih dari pemenang. Jangan lewatkan satupun dr kami Tuhan. Terjadilah pada kami sesuai kehendakMu. Allah Roh Kudus terjemahkan dan berbicaralah lebih lagi kepada setiap kami, sehingga kami lebih lagi mengerti isi hatiMu. Biarlah benih yang ditabur ini dapat tumbuh di tanah yang subur dan segenap hidup kami dapat menyenangkan dan berkenan di hatiMu.Terima kasih Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus, amen.
Kamis, 2 Oktober 2025
🌸 LoveSeed by Sarah 🌹Allah Pakai yang Paling Kecil, Paling Lemah, Paling Muda.Syalom saudara/i LoveSeed by Sarah yang terkasih di dalam Kristus,
Renungan hari ini saya ambil dari ayat berikut:
📔 Hakim-Hakim 6:13-16 & 7:7 (TB)
Ketika Gideon sampai ke situ, kebetulan ada seorang menceritakan mimpinya kepada temannya, katanya: ”Aku bermimpi: tampak sekeping roti jelai, terguling masuk ke perkemahan orang Midian; setelah sampai ke kemah ini, dilanggarnyalah kemah ini, sehingga roboh, dan dibongkar-bangkirkannya, demikianlah kemah ini habis runtuh.” Lalu temannya menjawab: ”Ini tidak lain dari pedang Gideon bin Yoas, orang Israel itu; Allah telah menyerahkan orang Midian dan seluruh perkemahan ini ke dalam tangannya”.Tetapi jawabnya kepada-Nya: ”Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan aku pun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku”. Berfirmanlah Tuhan kepadanya: ”Tetapi Akulah yang menyertai engkau, sebab itu engkau akan memukul kalah orang Midian itu sampai habis”.Lalu berfirmanlah Tuhan kepada Gideon: ”Dengan ketiga ratus orang yang menghirup itu akan Kuselamatkan kamu: Aku akan menyerahkan orang Midian ke dalam tanganmu; tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya boleh pergi, masing-masing ke tempat kediamannya”.
📖 1 Samuel 9:21 & 10:26-27 (TB)
Tetapi jawab Saul: ”Bukankah aku seorang suku Benyamin, suku yang terkecil di Israel? Dan bukankah kaumku yang paling hina dari segala kaum suku Benyamin? Mengapa bapa berkata demikian kepadaku?”Saul pun pulang ke rumahnya, ke Gibea, dan bersama-sama dengan dia ikut pergi orang-orang gagah perkasa yang hatinya telah digerakkan Allah. Tetapi orang-orang dursila berkata: ”Masakan orang ini dapat menyelamatkan kita!” Mereka menghina dia dan tidak membawa persembahan kepadanya. Tetapi ia pura-pura tuli.
📔 1 Samuel 17:42 (TB)
Ketika orang Filistin itu menujukan pandangnya ke arah Daud serta melihat dia, dihinanya Daud itu karena ia masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya.
Renungan ini sudah saya persiapkan sejak 11 September 2025 yang lalu. Tetapi, kemudian pada hari Rabu, tanggal 30 September 2025, saya menonton sebuah reels di Instagram yang lucu, namun cukup memiliki makna yang dalam yang dapat kita pelajari dan berhubungan dengan yang sudah saya tulis sebelumnya. Di dalam video itu menceritakan seekor burung kecil yang sedang berada di pinggir pantai dan dia memperhatikan dari belakang seekor keong kecil, yang lebih kecil lagi daripada dirinya tentunya, yang sedang mengorek-ngorek cangkang kerang kosong seraya sedang mencari makan atau mungkin mencari rumah baru. Lalu, tiba-tiba keong kecil itu menatap ke depan buru-buru membuang cangkang kerang yang dipegangnya dan dia menguburkan sebagian badannya ke dalam pasir. Burung kecil itu terkejut melihat pergerakan keong kecil yang mendadak dan cepat, tanpa menyadari bahaya apa yang ada di depannya sampai ombak itu mendekat. Begitu dia melihat ombaknya, dia panik karena harus mengambil langkah cepat. Lalu, dia melihat si keong kecil dan mengikuti jejaknya; menguburkan sebagian dirinya ke dalam pasir sampai hanya wajahnya yang terlihat. Dia memejamkan matanya sesaat ombak itu menerpanya, karena dia takut dan tidak mengerti apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya. Sesaat masih terbenam di dalam air dan ombak belum menarik dirinya kembali ke laut, si keong kecil, karena tubuhnya lebih ringan, tersapu keluar melayang dari pasir dan mengetuk-ngetuk paruh si burung kecil, seperti ingin menunjukkan sesuatu. Dilihatnya, yang tadinya pesisir pantai itu terlihat kosong saat sebelum ombak menyisir pantai, tapi sekarang di dalam ombak itu si burung kecil dapat melihat keberadaan kerang-kerang itu. Dia dapat melihat sekarang apa yang tadinya tersembunyi, tidak lagi tersembunyi dan ternyata jumlahnya juga tidak terhitung banyaknya. Itu sebuah pemandangan yang indah dan penuh syukur, terutama bagi si burung kecil. Dari sebelumnya yang dia bingung harus apa, hanya memperhatikan si keong kecil, dan takut ketika ombak datang, tapi kemudian sekarang dia menemukan semangatnya untuk mencari makan untuk dirinya, untuk ibunya, bahkan lebih dari cukup untuk dibagikan kepada koloni mereka. Si burung kecil jadi sangat gembira dan tidak lagi takut ketika ombak datang, bahkan dia tidak segan menghampiri ombak itu. Si burung kecil pun terlihat lebih unggul serta efektif dan efisien dalam mencari makanannya dibandingkan dengan burung-burung yang lebih dewasa darinya. Pasti dapat. Si burung kecil dapat menemukan kerangnya dengan sangat mudah, dalam waktu yang relatif sangat cepat, tangkapannya lebih besar, dan bahkan tangkapannya jauh lebih banyak dalam satu waktu. Tidak hanya ibu si burung kecil yang bangga melihat kemahiran anaknya, tetapi koloninya pun ikut bangga, karena mereka pun merasa terbantu dengan keberadaan dan keterampilan si burung kecil ini.
Lewat reels ini kita bisa belajar, bahwa meskipun berada di dalam ombak yang besar yang Tuhan izinkan untuk terjadi, membuat kita belajar bertahan serta menikmatinya, karena kita dapat melihat keindahan Tuhan dan karya-Nya. Apa yang sebelumnya begitu menakutkan buat kita, tetapi setelah melaluinya kita menjadi orang-orang yang tidak sama lagi. Kita jadi pemberani dan tidak takut lagi. Kita tidak lagi minder dan dapat berdiri tegak tanpa tergoncangkan, seperti orang-orang lainnya yang kita lihat sudah besar dan dewasa. Dari ombak-ombak yang sebelumnya menakutkan buat kita, Tuhan pakai ombak-ombak yang lalu untuk melatih mental kita menjadi mental pemenang di dalam Dia dengan mengenal Pribadi-Nya yang pegang kendali atas semuanya. Lewat ombak itu juga, Tuhan mengubahkan pandangan dan karakter kita, sehingga menghadapi ombak-ombak selanjutnya kita dapat melihatnya sebagai sebuah kesempatan untuk bersukacita, karena setelah ombak itu kita lalui bersama Tuhan pasti selalu akan ada sesuatu yang baik yang memberikan kita sukacita dan merasakan kasih-Nya. Demikianlah Allah kita, Tuhan Yesus Kristus, saat Dia mengajar Petrus, dan kita hari ini, untuk berjalan di atas ombak. Hanya, kita cuma perlu percaya, kita cuma perlu bergantung kepada-Nya, dan arahkan pandangan kita cuma kepada Dia, bukan ombaknya.
Selain itu, kita juga bisa belajar dari masih banyak lagi contoh tokoh dalam alkitab yang lemah, kecil, dan muda tetapi Tuhan pakai secara dahsyat, antara lain Gideon berasal dari kaum yang terkecil dari suku Manasye dan seorang termuda dari kaum keluarganya. Bahkan, sudah kaumnya yang terkecil, yang hanya berjumlah 32.000 orang, tapi ketika dia berperang pun Tuhan semakin mengecilkan jumlah pasukannya lagi hingga tersisa hanya 300 orang untuk melawan 135.000 orang pasukan Midian. Pasukan yang dipimpin Gideon hanya digambarkan sebagai sekeping roti jelai oleh Allah, yang terguling masuk membongkar bangkitkan perkemahan Midian, tapi akhirnya demikian Tuhan menyerahkan orang Midian itu ke tangan Gideon. Gideon dan pasukannya hanya perlu membawa sangkakala di tangan kanannya, dan di tangan kirinya buyung dan suluh di dalam buyung. Mereka tidak menang karena pedang, tapi karena Tuhan. Tuhan buat pedang yang satu menyerang pedang yang lain di antara tentara Midian itu. Lalu, Saul berasal dari suku yang terkecil dan dari kaum yang paling hina. Tetapi, Saul diurapi dan diangkat menjadi raja pertama atas Israel dan berhasil menaklukan musuh-musuh Israel di awal pemerintahannya, sebelum ketidaktaatannya terjadi. Kemudian, Daud yang masih muda dan dari parasnya terlihat bukanlah seseorang yang bisa berperang melawat Goliat. Sama sekali tidak sebanding dengan Saul yang tinggi dan gagah daripada setiap orang sebangsanya. Kemudian Daud, seseorang yang berkenan di hati Tuhan, diurapi, menang melawan Goliat, dan diangkat menjadi raja atas Israel menggantikan Saul.
Kisah selengkapnya dapat kita baca di Alkitab, tetapi yang khususnya saya mau bahas lebih lagi adalah Gideon. Kalau kita perhatikan, tiupan Sangkakala yang ditiupkan pasukan Gideon sudah ditiup sebelum perang, artinya tiupan itu merupakan seruan kemenangan. Kemenangan mereka didasari oleh iman kepada Allah sebab mereka tahu bahwa Allah lah sumber kemenangannya. Hal ini sama seperti tiupan panjang sangkakala yang ditiup sebelum tembok Yerikho diruntuhkan Tuhan.
Kecil itu bukan hanya tentang umur, atau ukuran fisik, tetapi bisa juga, misalnya saudara adalah pribadi yang seringkali tidak dipandang, dikecilkan atau diremehkan manusia. Atau, saudara yang seringkali merasa masa lalunya hina, atau mungkin merasa diri kecil, tidak pantas, tidak mampu untuk dipercayakan hal yang besar dan mulia oleh Tuhan. Tetapi, yang mau saya katakan, bahwa Allah kita Yesus Kristus yang saya kenal adalah Tuhan yang membesarkan orang yang dikecilkan. Tuhan meninggikan orang yang merendahkan diri. Tuhan suka memakai orang yang dipandang hina dan yang dianggap tidak layak oleh manusia untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Bahkan, yang paling kecil, paling lemah, paling muda, seperti Gideon, disebut Allah pahlawan yang gagah berani (Hakim-Hakim 6:11 TB). Rahab, seorang wanita sundal yang karena iman-nya kepada Allah Israel, dipakai Allah. Masa lalunya yang buruk tidak menentukan seperti apa masa depannya. Justru Allah pakai dia menjadi nenek moyang Daud dan Yesus Kristus. Tidak kehinaan manusia yang dapat membatasi kemuliaan dan kebesaran Allah untuk dinyatakan. Justru, lewat kemustahilan lah, kemuliaan-Nya semakin nampak dan kuasa-Nya sempurna.
Ketika Roh Allah menguasai Gideon, seketika dia berubah seperti orang lain, dari seseorang yang penakut berubah menjadi seorang pemberani (Hakim-Hakim 6:34 TB). Demikian apalagi dengan kita, orang-orang percaya yang sudah menerima kasih karuniaNya, yang pengurapan-Nya telah kita terima dan tetap ada dalam kita, yang menyembah Allah dalam roh dan kebenaran, bukankah Roh Allah yang besar itu ada di dalam setiap kita, bila kita hidup dalam kekudusan dan kebenaran? Tidak peduli kita kecil menurut manusia, tidak perlu lagi kita takut dan bimbang, karena kita punya Allah yang besar yang memberi kita kemenangan. Lewat pemilihan dan pengutusan-Nya yang besar kepada Gideon, di tengah ketidakpercayaan Gideon, dia malah bertemu dengan nyata salah satu Pribadi Allah, yaitu Tuhan yang adalah keselamatan (Lord is Peace). Dia tidak dibinasakan, tetapi justru diselamatkan dari murka Allah atas ketidakpercayaannya (Hakim-Hakim 6:24 TB).
Kalau dahulu dalam perjanjian lama Gideon sampai 3 kali meminta tanda bahwa Tuhan akan beserta Dia dan akan memberikan kemenangan, seharusnya kita hari ini terlebih mengucap syukur dan tidak perlu meminta tanda, karena tanda kita cukup satu untuk selamanya, yaitu tanda salib yang adalah kasih karuniaNya yang kekal. Bukan lagi akan menang, tapi kita sudah dimenangkan olehNya. Bukan hyper-grace, tapi kepastian yang Roh-Nya karuniakan, sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita, dan Dia sudah berjalan di depan kita untuk membawa menang. Iman kita bukan karena melihat, tetapi karena percaya (2 Korintus 5:7 TB).
Tetapi, sekalipun kita takut, Allah mengerti dan Dia melatih kita (Hakim-Hakim 7:10-11 TB). Dia tau bagaimana membangkitkan keberanian kita, dan di saat bersamaan juga membangkitkan iman dan kepercayaan kita kepada Dia, serta membukakan mata kita di tengah ketidakpercayaan kita tentang siapa Pribadi-Nya, Allah yang mengutus saudara dan saya. Jadi, Dia adalah komandan yang bertanggung jawab, tidak hanya menyuruh-nyuruh, tapi Dia melayani kita dengan memperlengkapi kita 💜.
Saya simpulkan, bahwa berhadapan dengan ombak atau tantangan yang besar, artinya Tuhan mau nyatakan kemuliaan-nya yang besar juga. Kalau kita baca di alkitab, setiap kali bangsa Israel lupa Tuhan, lalu mereka minta tolong kepada Tuhan, pasti Tuhan selalu tolong, tetapi Dia juga mengulang-ulang kalimat yang mengingatkan mereka, bahwa Dia Allah yg mengeluarkan mereka dari Mesir. Artinya, kita perlu selalu diingatkan untuk bisa akhirnya kita mengerti untuk selalu pandang Tuhan dengan selalu mengingat pertolongan-nya, segala kebaikan dan perbuatanNya yang besar yang sudah pernah Dia lakukan dalam hidup kita, supaya kita tidak lagi gentar setiap kita melihat ombak besar yang baru di depan kita, dibangun imannya, dan jadi pemberani. Tantangan atau ombak tidak selalu bermakna negatif atau bermakna sebagai sebuah masalah ya, tetapi bisa juga ombak itu adalah sesuatu yang kita takutkan tapi sebenarnya itu adalah sebuah kepercayaan besar yang Allah berikan. Hanya, kita belum cukup yakin untuk dapat kerjakan, karena pemahaman kita masih terbatas, masih berpikir dengan kekuatan sendiri, belum sejalan dan menyatu dengan hati dan mata Tuhan.
Selain itu, Dia juga selalu berulang kali mengingatkan kembali perintahNya dan menunjukkan dimana kesalahan kita yang membuat kita jatuh (Hakim-Hakim 6:8-10 TB). Tidak hanya mengingatkan dan menunjukkan, tetapi Dia juga Allah yang mengangkat anak-Nya lagi dan lagi. Artinya, kalau segala sesuatu yang tidak enak terjadi, pasti ada sebab akibatnya, dan sekalipun kita harus menghadapi hal yang mustahil, tapi Tuhan selalu bisa bawa kita melewatinya dan selalu ada makna yang baik juga terkandung di dalamnya. Jadi, jangan fokus hanya kepada ombak atau ‘batu yang besar dan jelek’ yang menghalangi pandangan kita. Tetapi, kalau kita gunakan kacamata Allah, pandangan kita bisa menembus ombak itu dan melihat berlian atau harta karun yang ada di dalamnya. Dia Allah yg selalu memberikan kesempatan, Allah mau kita bangkit dan berbalik, sehingga kita limpah dengan berkat-berkat-Nya, bukan hanya secara jasmani tapi juga secara rohani. Bahkan, ketika Gideon sebagai manusia biasa hanya fokus kepada masalah dan mengeluh, seperti mungkin ada beberapa di antara kita yang pernah dalam hatinya menggerutu, “Kenapa begini? Kenapa begitu? Kok Tuhan begini? Kok Tuhan begitu?”. Saya mau katakan, Tuhan tidak ingat-ingat kesalahan kita, Tuhan tidak mudah tersinggung dengan keluhan kita, tapi Allah yang tetap fokus untuk menjawab doa dan seruan kita meminta tolong. Dan, pasti Tuhan akan tolong dengan cara-Nya. Kenapa Allah tunjuk Gideon, saudara dan saya, untuk hadapi ombak besar itu? Jawabannya karena dengan begitu Dia bisa selamatkan kita, memenangkan jiwa kita, membuat mata kita terbuka dan dapat kembali memandang Dia juga memuliakan Dia (Hakim-Hakim 6:13-14 TB).
Dalam kitab Hakim-Hakim 6:25-27, 31 TB, saya mengerti, kalau ada di antara saudara dan saya yang seperti Gideon. Tantangan atau ombak yang paling meresahkan buat saudara dan saya hadapi biasanya adalah seperti yang di ayat 27, yaitu urusannya dengan keluarga, ayah, dan orang sekampung. Tetapi, yang saya mau tekankan di sini, jelas tertulis kata “tetapi” di ayat 31, artinya malah ayahnya yang melindungi Gideon dari niat pembunuhan oleh orang sekampungnya. Saya yakin ini intervensi Allah. Logikanya, seharusnya ayahnya marah dan ada di pihak yang sama dengan orang-orang sekampungnya untuk membunuh Gideon, karena altar sesembahan yang dihancurkan Gideon adalah altar sesembahan ayahnya dan korban yang Gideon gunakan untuk korban kepada Allah adalah hewan milik ayahnya. Tetapi ayahnya hanya mengatakan, bahwa dewa yang dia sembah tidak perlu dibela, dan dia katakan biarkan dewanya berantem atau menghukum Gideon. Mungkin di pikiran orang sekampungnya, ‘Wah benar juga, biar tahu rasa tuh Gideon’. Pasti, mereka pikir Gideon akan mati berhadapan dengan orang Midian sebagai hukuman dari dewa itu. Di posisi Gideon yang hanya mau dengar-dengaran suara Allah, tapi menghadapi kata-kata ayahnya dan pikiran orang sekampungnya, dia pasti semakin takut dan terintimidasi. Tetapi, justru di tengah semuanya itu, Allah menangkan Gideon dan menunjukkan diri-Nya sebagai Allah di atas segala allah, termasuk allah orang Midian, tidak ada Allah seperti Allah kita. Itulah Allah kita, kalau Dia sudah berkehendak, selamatlah jalanmu, karena Dia Allah yang menjamin rencanaNya terlaksana dan selamat bagi mereka yang mau taat, tidak ada yang mampu menghalanginya untuk terjadi. Pasti terjadi. Jadi, kita tidak perlu panik, tapi bagian kita, hanya taat saja.
Seperti Gideon yang hanya melakukan yang Tuhan suruhkan, demikian juga kita melangkah dalam pelayanan, yang menurut saya, ombaknya juga tidak mudah. Seperti kisah yang sudah saya ulas dalam renungan sebelumnya, pada tanggal 6 September 2025, dengan judul With One Voice, sedikit saya ulangi, bahwa ketika melihat kita mengambil langkah berani untuk menjawab panggilan Tuhan, bisa saja akan ada beberapa kategori manusia:
1. ada yang diberkati lewat pelayanan kita dan ada hal baik yang boleh terjadi, misalnya kita baru bisa mengerti tujuan Tuhan mengutus kita setelah kita melangkah. Kita temukan ternyata ada orang-orang yang memerlukan pelayanan yang kita disuruh lakukan dan untuk itu Tuhan utus kita. Maka dari situ, iman kita pun semakin diteguhkan-Nya untuk terus semakin masuk dalam rencana dan kehendak-Nya. Bahkan, karena ada orang-orang yang melihat keberanian kita yang bermula dari ketakutan yang sama, langkah berani kita bisa menginspirasi orang tersebut, yang tadinya takut menjawab panggilannya karena satu alasan dan lain hal, malah jadi seolah diingatkan kembali oleh Tuhan dan diyakinkan untuk segera melakukannya, untuk tidak takut lagi dan tanpa penundaan lagi.2. ataupun, ada yang memberikan semangat, tapi hanya berhenti sampai di salut dan tetap memilih berdiam di tempatnya, tidak maju dan masih belum berani melangkah. Artinya, ada banyak orang yang jadi enggan melayani, sebetulnya karena kelakuan dan mulut sesama Kristen sendiri, orang yang mengaku Kristen, tapi tidak mau tunduk melakukan firman-Nya yang tertulis dalam alkitab, sehingga menyakiti sesama dan menjadi batu sandungan. Menurut saya, perlakuan yang diterima dari sesama Kristen ini lebih sadis dibandingkan kalau kita diperlakukan demikian oleh yang non-kristen. Tapi, mau saya katakan bahwa, tetaplah kita melayani Tuhan, tetaplah firman Tuhan yang jadi sandaran kita, dan ingat Allah kita itu Allah kasih, maka kita adalah pelayan kasih. Jangan mendebat dan berdebat, seperti yang diajarkan dalam kitab 2 Timotius 2 TB. Jadi, sebesar apapun ombaknya, sesulit apa pun yang kita hadapi, pesan-Nya adalah “Apa pun yang terjadi, injil tetap harus diberitakan” - 30 september 2025.
Kalau kita orang yang suka mendebat dan memulai perdebatan, jangan terus berdebat, tapi baca dan renungkan firmanNya lagi. Apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan? Apa yang Tuhan sudah sampaikan di dalam Firman-Nya? Cek diri, curigai hatimu, dan biar kebenaranNya mengikis ketidakbenaran di dalam dirimu. Atau kalau kita yang didebat, atau siapa pun kita yang menjadi takut melakukan hal yang besar yang Tuhan suruh, it is ok, jangan takut tapi belajar dari dalamnya, apa yang hati Tuhan mau lakukan atau tunjukkan juga ajarkan kepada kita lewat yang Dia suruh. Apa yang Tuhan mau bersihkan di dalam kita yang Dia lihat dapat menghambat pertumbuhanmu atau menghalangi hubunganmu dengan Dia, supaya kita bisa lebih lagi mendekat kepadaNya dan berbuah.
Lewat cerita reels dan sepenggal renungan sebelumnya, With One Voice, sama-sama kita belajar, yang pertama, bahwa bila kita tahu ada ketidaksempurnaan, izinkan ketidaksempurnaan itu nampak, justru supaya Dia yang Sempurna itu dapat menyempurnakan kita. Dengan kuasa Roh-Nya kita diubahkan menjadi segambar dan serupa dengan kesempurnaanNya (2 Korintus 3:17-18 TB). Tidak apa-apa kalau kita kecil dan menurut orang kita lemah atau masa lalu kita hina, serta kita mungkin dipandang tidak mampu karena masih muda. Pertanyaannya, memang kenapa kalau kita kecil, lemah dan muda? Apakah ada orang yang begitu lahir langsung besar? Apakah ada orang yang langsung kuat dari sejak lahir? Apakah ada orang yang langsung menjadi dewasa dan tua tanpa melalui kemudaannya? Tetapi, yang mau saya katakan, jadilah seorang kecil yang terus berjuang melakukan yang benar dan membawa dampak yang besar, karena dibelakang kita ada Allah yang benar dan yang besar. Berdamailah dengan dirimu sendiri dan izinkan ketidaksempurnaanmu nampak, supaya kemuliaan-Nya dinyatakan atasmu dan segala kemuliaan hanya bagi Allah.
Tidak hanya izinkan ketidaksempurnaanmu nampak, tetapi, yang kedua, beresi dan lampaui ketidaksempurnaanmu di dalam kesempurnaan-Nya dengan serahkan ketidaksempurnaan-Mu kepada Yesus Kristus, Allah yang sempurna, yang mampu mengubahkan yang tidak sempurna menjadi sempurna di dalamNya, melalui proses, melalui pembentukan-Nya, dan dengar-dengaran suara serta arahan-Nya. Serahkan ketidaksempurnaanmu kepada Pribadi-Nya yang SELALU, dalam Tangan-Nya, ahli mengubah segala sesuatu yang tidak baik menjadi baik, ahli dalam mengarahkan yang tidak benar menjadi benar, ahli dalam membuat yang tidak indah menjadi indah. Di dalam perbuatan tangan-Nya, tidak ada yang mustahil. Saya bersyukur memiliki Allah seperti Yesus Kristus yang perbuatan-Nya tidak pernah gagal. Dia Allah yang tahu semua kelebihan dan kekuranganmu dan Dia Allah yang mengasihimu melampaui kekuranganmu. Kekudusan-Nya dapat melampui kecemaranmu. Ketidaksempurnaanmu tidak membuatNya untuk tidak mengasihimu. Tidak ada yang bisa lepaskan kita dari kasihNya, itu firmanNya (Roma 8:38-39 TB). Seperti lirik lagu rohani yang berjudul Sejauh Timur dari Barat - “Betapa besar kasih, pengampunanMu Tuhan. Tak Kau pandang hina hati yang hancur”.
Kalau saya mengingat kembali ke belakang, ombak saya dulu adalah depresi. Dan tanpa lewat perjalanan “depresi”, tidak ada saya yang hari ini. Hari ini saya bisa ada disini, di tempat ini, diberikan kesempatan bersaksi, memberikan renungan dan melayani Tuhan, semua karena anugerahi dan kasih karunia-Nya melewati ombak itu. Di rumah tangga juga walau belum sempurna, tapi minimal saya punya arah; bagaimana saya mau menjalani peran saya sebagai istri, kiblatnya hati Tuhan dan firman-Nya. Hari ini saya bisa katakan yang sepenuh hidup saya inginkan, yaitu hanya Dia, tentang Dia dan hanya untuk Dia.
Salah satu ombak saya lainnya, adalah takut masuk terlalu dalam, dalam dunia penatalayanan, seperti yang saya paparkan dalam renungan With One Voice pada 6 September 2025 lalu. Sebagai tambahan, tidak sedikit saya mendengar teman-teman kristen bilang, “ah, kalau papaku, atau suamiku, bilang saya tidak usah masuk terlalu dalam ke dalam dunia pelayanan gereja, nanti sakit hati”. Begitu banyak orang di sekitar saya yang tersakiti dan punya pandangan yang negatif terhadap dunia pelayanan dan tantangannya. Tetapi, saya mengangkat ini biar bukan untuk menjelek-jelekkan tubuh Kristus, melainkan hanya untuk kita berintrospeksi dan mempersiapkan diri sebagai pelayan kasih yang baik dan benar di dalam Tuhan. Kemudian, Tuhan mengajar saya mengerti, bahwa melayani adalah sebuah anugerah dan kehormatan. Melayani adalah baik buat saya. Jadi, saya tidak perlu takut menghadapi semua itu, karena rasul-rasul, bahkan Tuhan Yesus sendiri pun, mengalami itu semua.
Pertanyaannya, apa ombak saudara hari ini? Apapun jawaban saudara bisa beragam ya. Tetapi, saya mau katakan, ombak apa pun yang saudara dan saya hadapi hari ini, meski belum selesai kita lalui, tapi kalau Tuhan yang pegang tangan saudara dan saya, pasti Dia akan jadikan saudara dan saya indah, seperti yang sudah pernah Dia tunjukkan dan lakukan dulu. Seperti indah dan mengagumkan hasilnya yang Dia lakukan dahulu, demikian juga yang Dia mau lakukan untuk sekarang, dan pasti juga untuk selamanya. Dia, Allah, yang tidak pernah berubah, dulu, sekarang dan sampai selamanya.
Suatu hari nanti ketika kita yang tadinya paling kecil, paling lemah, paling muda , dan paling hina sekalipun, kemudian sudah Allah buat kita menjadi besar, kuat dan dewasa, biarlah kita ingat masa kita dahulu dari mana kita diambil dan apa yang Allah kita, Yesus Kristus, lakukan pada kita untuk mengangkat kita. Demikianlah, kita perlakukan yang sama kepada mereka yang masih kecil, lemah dan muda. Berilah topangan kepada mereka seperti yang dahulu Allah perlakukan kepada kita. Jangan merasa paling mengerti dengan apa yang orang lain sedang jalani, karena kita tidak pernah bisa lebih mengerti daripada orang itu sendiri dan Tuhan. Kita tidak tahu rencana Tuhan terhadap orang itu dan mengapa Tuhan izinkan dia lalui prosesnya seperti itu. Tapi, yang bisa kita lakukan adalah melayaninya, menguatkannya, membangunnya dan mendorongnya memenuhi kehendak Allah dalam hidupnya. Jangan hanya karena pengertian kita sendiri, kita berucap sesuatu yang kita tidak pernah tahu ternyata ucapan kita, bukannya menyatakan kesalahan, bukannya membangun dia dalam prosesnya, bukannya mengarahkan dia kepada kehendak Allah, tapi malah jadi batu sandungan, baik bagi orang itu maupun bagi orang lain lagi yang ikut mendengar dan menyaksikan ucapanmu (di ruang publik), seperti yang saya ulas dalam renungan With One Voice. Bukannya tidak boleh menyatakan kesalahan, tapi cek dan curigai dulu hatimu, apakah betul itu suara Tuhan atau suara hatimu sendiri. Dari buahnya lah pohon itu dikenal (Matius 12:33 TB).
Apa ombakmu hari ini? Kemustahilan apa yang kamu hadapi hari ini dan membuatmu takut? Selalu ingat Allah kita, Tuhan Yesus Kristus adalah pembuat mujizat sejati. Dia Allah yang membelah laut dan yang meneduhkan badai, yang mustahil bisa terjadi karena kuasa-Nya. Doa saya, biarlah kita seperti Yohanes Pembaptis yang ada dalam Firman-Nya dalam kitab Yohanes 3:29 TB mengatakan, “Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh”. Jadilah sahabat dari mempelai laki-laki yang dapat ikut bahagia kalau mempelai laki-laki itu bahagia. Sebesar apapun ombaknya, dapat kita hadapi di dalam Tuhan. Menghadapi apa pun yang merintangi, tetap pilih lakukan kehendak-Nya atas setiap kita. Apa pun yang terjadi, injil tetap harus diberitakan. Biar kerinduan kita hanya ingin menyenangkan Tuhan, salah satunya dengan punya kepedulian yang besar dalam memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mendengar injil. Bagikan pengharapan Kristus kepada semua orang, bukan penghakiman dan jadi batu sandungan. Biar dalam hidup ini, kita mengutamakan kepentingan perkara yang di atas, bukan kenyamanan kita, bukan memberi makanan pada ketakutan kita, tapi lawan ketakutan kita dan katakan “biar aku semakin berkurang, tapi Yesus yang semakin bertambah” (Yohanes 3:30 TB).
Yang paling kecil menurut pemandangan manusia dapat Tuhan angkat menjadi kepala (1 Samuel 15:17 TB). Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah, manusia lihat apa yang di depan mata, tapi Tuhan lihat hati (1 Samuel 16:7 TB). Allah adalah Tuhan yang ahli untuk membuat semuanya menjadi indah, terjadi di waktu dan tempat yang tepat. Doa saya juga, biar saudara dan saya sepenuhnya mengikut serta mengiring Yesus Kristus, bahkan itu jadi kesukaan kita, jadi kekuatan hidup kita. Lepaskan hak kita untuk mengenal utuh kehendak-Nya di hidup kita dan biarkan anugerah-Nya yang mampukan kita untuk jadi hamba yang berkenan selalu di hadapan-Nya. Biar keindahan Allah memudarkan ketakutan kita, menghapuskan keinginan duniawi kita, dan mata kita hanya tertuju memandang-Nya. Kerinduan kita menjadi perkakas emas dan selalu mau dipakai-Nya untuk pekerjaan yang mulia (2 Timotius 2:20-21 TB).
Filipi 1:27-29 TB
Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil, dengan tiada digentarkan sedikit pun oleh lawanmu. Bagi mereka semuanya itu adalah tanda kebinasaan, tetapi bagi kamu tanda keselamatan, dan itu datangnya dari Allah. Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,

Kiranya Roh Allah bekerja melalui tulisan ini, yang lemah dikuatkan, yang takut menjadi berani, yang bimbang diteguhkan, yang hatinya keras dilembutkan, dan yang matanya tertutup dibukakan. Roh Kudus yang setia senantiasa menopangmu dan meneguhkan setiap langkahmu serta membawamu sampai keluar sebagai pemenang biar hanya nama Allah, Yesus Kristus, dimuliakan dan ditinggikan di atas segalanya. Tuhan Yesus memberkati.
Sabtu, 1 November 2025
🌸 LoveSeed by Sarah 🌹Segala Sesuatu Ada Waktunya dan Segala Sesuatu Indah Pada Waktu Tuhan.Syalom saudara/i LoveSeed by Sarah yang terkasih di dalam Kristus,
Renungan hari ini saya ambil dari ayat berikut:
📔 Pengkhotbah 3:11 (TB)
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,bahkan Ia telah menaruh kekekalan dalam hati mereka, tetapi manusia tidak dapat memahami pekerjaan yang telah dilakukan Allah dari awal sampai akhir.
Lewat ayat renungan ini, yang mau saya bagikan adalah:🌱 Tuhan tidak pernah terlalu cepat. Tapi, Dia juga Tuhan yang tidak pernah terlambat. Selalu tepat waktu-Nya, bukan waktu kita.
🌱 Tapi karena manusia yang dengan keterbatasannya, tidak dapat memahami cara pikir dan cara kerja Allah. Cara berpikir manusia tidak bisa menyelami cara berpikir Tuhan. Akhirnya, seringkali dalam sebuah keadaan, manusia pikir ini sudah terlambat, jadi panik, khawatir dan stress. Karena kita suka pakai waktunya kita, persepsi kita sendiri untuk memahami rencana, rancangan, dan jalan-jalan Allah. Jelas sangat berbeda.
🌱 Tapi, sekali lagi, Tuhan tidak pernah terlalu cepat, tapi juga tidak pernah terlambat. Selalu tepat waktu-Nya, waktu Tuhan. Seringkali juga, apa yang menurut kita ‘sepertinya’ apa yang Tuhan janjikan bagi kita dan sudah kita doakan, rasanya seharusnya sudah waktunya kita terima, tapi kenyataan : “kok belum juga ada jawaban?”, “kok belum terjadi ya?”, atau kita pikir ‘seolah-olah’ sudah terlambat. Tapi, apa yang sudah terlambat menurut kita, ternyata seringkali justru tepat buat Tuhan. Tuhan tepatkan semuanya pada waktu-Nya, bukan waktu kita, sehingga seringkali ketika kita sudah terima jawaban doa atau penggenapan janji-Nya, kemudian saat kita melihat ke belakang kita bisa bilang, “oh betapa indahnya yang Tuhan kerjakan. Andai kata saya terima ini lebih cepat, hasilnya mungkin tidak akan sama, tidak akan seindah atau semulia ini ceritanya”.
🌱 Tuhan tahu apa yang Dia lakukan, dari awal sampai akhir. Tuhan tahu apa yang Dia rancangkan buat kita. Firman-Nya juga berkata, rancangan-rancangan yang ada pada-Ku adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kita masa depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11 TB).
🌱 Dia Allah kita, Bapa kita yang teramat baik. Kristus sudah memulai segala sesuatu yang baik, kita telah beroleh kasih karuniaNya, dan Dia akan meneruskannya sampai akhir. Untuk melewati segalanya yang menurut kita sulit, berat, mustahil, Tuhan katakan, cukup kasih karunia-Nya bagi kita semua. Di balik segala sesuatu yang berat yang kita hadapi hari ini, Tuhan sedang menulis kesaksian yang baik dan kelak menguatkan banyak hati. Tapi sebelum semuanya itu, kita perlu lewatinya bersama Allah Roh Kudus yang memberi kekuatan dalam prosesnya. Kita hanya mampu untuk tetap berjalan dan bertahan serta menang, jika kita melihat segala sesuatu yang terjadi melalui kacamata Tuhan. Maka, suatu hari kita akan melihat ke belakang dan mengerti, bahwa semuanya yang harus kita lalui tidak sia-sia (Filipi 1:6 TB). Bahkan, kalau kita dapat melihat dari kacamata-Nya, bahwa akan ada kemuliaan yang akan datang, maka kesedihan kita pun diubahkan-Nya menjadi sukacita dan kita bisa lebih lagi bermegah dalam kelemahan, kesukaran, kesesakan yang kita rasakan dalam proses hidup ini oleh karena Kristus. Sebab, jika kita lemah maka kita kuat (2 Korintus 12:10 TB).
🌱Dia Bapa yang teramat baik, yang selalu memberikan yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Semua yang kita pandang ‘tidak baik’, kalau Dia izinkan tetap terjadi untuk kita lewati, semata-mata supaya menghadapi apapun, iman kita bertumbuh, teguh dan teruji. Pengharapan kita tidak tergoyahkan. Kasih kita kepada Allah dan sesama dimurnikan. Bila Tuhan yang berjanji, Dia tidak akan pernah ingkar. Meskipun keadaan belum berubah, tapi janji-Nya selamanya tidak akan pernah gagal terjadi atas kita. Hanya, kita perlu melewati prosesnya sampai janji-Nya menjadi nyata dalam hidup kita. Dalam proses hidup itu, kita diubahkan-Nya semakin segambar dan serupa dengan Allah dalam kemuliaan-Nya (2 Korintus 3:18 TB), untuk menyatakan kemuliaan-Nya.
🌱 Sebagai penutup, berbahagialah jika kita menderita karena nama Kristus, sebab Roh Kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu (1 Petrus 4:14 TB) dan Ia pasti akan membuat segala sesuatunya indah pada waktuNya. In Jesus name, amen.
Pengkhotbah 3:1 TB
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.

Kata Ayin, Lamed, dan Mem, membentuk kata 'olam', yang berarti kekekalan ('eternity')dan Tuhan menempatkan ‘olam' ke dalam hatimu. Ayin mewakili wawasan spiritual yang mendalam, dan keindahan yang sudah seharusnya kita terima dari musim ini (atau pada waktu ini) di hidup kita, dan 'Mem (final)' mewakili rahasia atau misteri tersembunyi Tuhan yang membuatnya indah. Kata Ayin, Lamed dan Mem membentuk kata 'eternity' (kekekalan).Ecclesiastes 3:11
“He hath made everything beautiful in its time (season), also he has set the world (eternity) in their hearts, so that no man can find out the work that God made from beginning to end.”
Rabu, 5 November 2025
🌸 LoveSeed by Sarah 🌹Hidupmu Berharga Bagi Allah.Syalom saudara/i LoveSeed by Sarah yang terkasih di dalam Kristus,
Renungan hari ini saya ambil dari ayat berikut:
📔 Filipi 1:6 (TB)
Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.
Saya mengerti yang saudara dan saya rasa ketika kita berjalan dalam iman dan diajar percaya meski belum bisa melihat. Pasti fokus utama kebanyakan dari kita adalah pada kegelapannya. Fokus kita seringkali pada kekhawatiran yang seringkali muncul dan dirasakan, karena kita belum melihat kepastian ini semua, ‘nanti akhirnya jadi seperti apa’, ‘jawaban dari ini semua apa?’, dan banyak lagi pertanyaan atau ‘what - ifs’ yang muncul.
Tapi saya mau katakan, alihkan pandanganmu sedikit ke samping, lihatlah Tuhan. Carilah dan pandang wajah-Nya. Kalau Dia yang memerintahkan langkah iman yang harus saudara ambil, artinya Dia yang tahu masa depanmu. Masa depanmu terjamin di dalam-Nya dan dalam pimpinan-Nya. Kalau Tuhan yg memulai, Dia jg yg mengakhiri. Kl Tuhan yg suruh, Dia jg yg jamin. Dari perjalanan pribadi saya berjalan dalam setiap perjalanan iman, meski tidak mulus terus dan tidak selalu saya tenang, tapi saya di setiap kebimbangan melanda saya tahu ada kekuatan yang lain, yang bukan dari saya sendiri, di tiap langkah yang Tuhan pimpin. Ada ketenangan, kekuatan, jaminan dan kepastian, yang muncul dan melampaui segala akal sehat, bahwa Tuhan besertaku, maka aku akan bisa tenang kembali dan melanjutkan langkah imanku. Because I know this is His will, maka this is His battle, not mine. Mungkin ini yang bisa jadi panduan buat saudara untuk saudara tanyakan kembali pada diri saudara, ‘apakah saudara merasakan yang saya ungkapkan tadi?’. Cek kembali dari jawaban saudara masing-masing. Bila dalam perjalanan saudara tidak ada kekuatan sama sekali, atau saudara tidak diberi ketenangan sama sekali, atau saudara tidak yakin ada Tuhan bersama dengan saudara dalam perjalanan ini, artinya saudara harus cek kembali dan tanyakan pada diri saudara masing-masing, ‘apakah ini bener kehendak dan hikmat Tuhan untuk saya lakukan?’. Atau, sebetulnya saudara sendiri sebetulnya sudah menyadari selama ini sebenarnya yang saudara jalani, saudara tahu, semuanya atas dasar kehendak, hikmat dan pengertian sendiri, tapi saudara enggan untuk sepakat dengan tuntunan Roh Kudus-Nya, bahwa yang diingini Tuhan tidak sesuai dengan yang saudara inginkan.
Jika memang yang Roh Kudus arahkan saudara untuk percaya, adalah yang bertentangan dengan apa yang saudara mau yakini, misalnya Dia mau saudara untuk keluar dari tempat kerja saudara yang saat ini, atau Dia mau saudara keluar dari tempat ‘aman’-mu dan pergi ke ‘padang gurun’ (sebelum masuk tanah perjanjian), meskipun seluruh dunia menentang sekalipun, maka lakukanlah sesuai kehendak-Nya dan jangan bimbang. Sebab, bila itu kehendak-Nya, maka meskipun sebelum sampai ‘tujuan akhir’ pun, di sepanjang perjalananmu pasti ada saja penyediaan Allah. Karena, knowing perjalanan yang saudara langkahi dimulai oleh dan karena-Nya, maka pasti yang memimpin perjalanan ini dan yang membuat berhasil adalah TUHAN sendiri. Jadi, masa depanmu pasti ada dalam tangan-Nya, dan bukan lagi ada dalam tanganmu sendiri. Bila saudara bersandar pada kekuatan dan pengertian logikamu sendiri, pasti bisa gagal. Tapi Tuhan, dan janji-janji-Nya, tidak akan pernah gagal. Kehendak Allah yang sempurna pasti terjadi, sebab itu berilah tubuhmu (seluruh hidupmu) sebagai persembahan (korban) yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itulah ibadahmu yang sejati (Amsal 19:21 TB, Ayub 42:2 TB, Lukas 1:37 TB, Yeremia 29:11 TB, Roma 12:1-3 TB).
Bila ada dari saudara yang sedang mengalami yang sama, atau yang serupa, dan bisa mengerti yang saya maksudkan, maka lewat perjalanan ini pun saudara bisa melihat ke dirimu sendiri dengan pertanyaan ini : ‘di mana selama ini aku letakkan damai sejahteraku’ ? Apakah jawabannya : ‘di pekerjaanku, karena saya tahu, bahwa setiap bulan pasti ada uang yang cukup untuk bayar sebagian besar tagihan rumah tangga’, atau , ‘di Tuhan yang memberikan pekerjaan itu’ ? Sebetunya, kalau kita mau melihat lebih jauh maksud mulia Allah, melewati perjalanan iman ini akan melatih pribadimu untuk hidup sejalan atau ‘align’ dengan firman Tuhan dan kehendak-Nya atas hidupmu.
Bila di dalam perjalananmu saat ini saudara rasanya ingin menangis, atau pernah merasa bersalah karena dalam perjalanannya saudara tahu saudara tidak mau lagi bersandar pada pengertianmu sendiri lagi, atau saudara mengalami jatuh bangun dalam mempertahankan imanmu dan ingin menyerah untuk tidak taat karena berat yang saudara rasakan, ada dua hal yang bisa saudara pahami. Pertama, bisa jadi Tuhan sedang ajarkan dengan yang namanya : takut akan Tuhan. Atau, kedua, mungkin Tuhan mau saudara belajar dan bisa untuk tidak berjalan sesuai kehendak sendiri, tapi hanya oleh kehendak-Nya. Artinya, saudara sedangan diajarkan untuk peka dan dengar-dengaran akan suara Tuhan.
Ada catatan penting dalam rasa berat yang saudara rasakan ketika saudara tidak melakukan sesuatu itu, untuk membedakan apakah rasa berat yang benar atau malah mengindikasikan ada sesuatu hal yang perlu dibenahi. Jangan sampai saudara pikir yang saudara lakukan adalah kemauan Roh kudus, tapi ternyata itu adalah kemauanmu. Berikut kedua hal yang perlu saudara waspadai:
1. Bila rasa berat yang saudara rasakan itu karena saudara tahu (Roh Kudus yang singkapkan), bahwa yang saudara lakukan sudah benar, misalnya rasa berat itu disebabkan karena ada kedagingan saudara yang dipotong, artinya itu baik. Artinya, saudara sudah berada di jalur yang benar.
2. Tapi, bila rasa berat yang saudara rasakan, ternyata, disebabkan oleh karena ada kepahitan dan trauma di masa lalu yang mungkin tidak disadari, sehingga saudara enggan melakukan A, dan malah kemudian saudara mengklaim, bahwa Roh Kudus yang mau saudara melakukan B, maka tidak bisa dikatakan itu benar.Atau, saudara juga bisa tahu bahwa melakukan yang B itu kemauan saudara, adalah dengan tidak adanya damai sejahtera, rasanya seperti saudara sedang melawan sesuatu tidak bisa jelaskan akal. Itu tandanya Roh Kudus bekerja memberikan sinyal untuk melindungi saudara dari melakukan B atau melakukan yang bukan kehendak Tuhan.Oleh sebab itu, kita perlu tuntunan serta kekuatan dari Roh Kudus-Nya selalu untuk kita dapat rendah hati dan lemah lembut untuk mau diajar, karena tidak ada seorang pun dari kita yang mengenali sepenuhnya diri kita. Tapi, Dia Allah yang Maha Tahu, yang sepenuhnya mengerti juga mengenal kita sejak kita dalam kandungan, dan tidak akan meninggalkan kita. Jalan-jalan kita yang serong pasti akan dibetulkan-Nya, karena tak berkesudahan kasih dan setia-Nya (Mazmur 139 TB).Untuk membedakannya, curigai motivasi hatimu. Hanya firman Allah yang hidup dan kuat, dan lebih tajam, seperti pedang bermata dua yang dapat memisahkan jiwa dan roh, dan yang sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Dalam firman Allah lah terkandung segala kehendak Allah, sehingga kita mengerti mana yang kehendak kita dan mana yang kehendak Allah.
Doa saya, kita senantiasa mau dengar-dengaran akan suara Tuhan dalam perjalanan iman kita kepada-Nya, dipimpin dalam hikmat serta masuk pada kehendak-Nya yang mulia atas hidup kita, yang pasti juga membawa kita pada kemenangan dan masa depan yang gilang gemilang, melebihi dari apa yang bisa kita bayangkan dan pikirkan. Biarlah segala rahasia Allah buat setiap kita tersingkap dengan cara-Nya yang ajaib, yang mulia dan tepat pada waktu-Nya, sehingga setiap kita diubahkan-Nya menjadi baru dan dilimpahi-Nya dengan kekayaan kemuliaan-Nya yang kekal, sehingga melalui hidup kita ada kesaksian yang membawa banyak jiwa kepada dan bagi kemuliaan Allah, karena kita tidak hamba-hamba Allah. Tetapi juga kita dengan bangga mengetahui, bahwa kita tidak hanya dipandang-Nya sebagai hamba, tapi kita semua, yang Allah kasihi dan yang mengasihi Allah, sudah diangkat-Nya menjadi anak-anak-Nya di dalam Yesus Kristus. Sehingga, kita dapat dengan yakin percaya, bahwa hidup kita pastilah dibuat-Nya berharga karena kita sangat berharga di mata-Nya. In Jesus name, amen.
Yesaya 42:3-4 TB
Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.

Jumat, 7 November 2025
🌸 LoveSeed by Sarah 🌹Ada Manna Setiap Hari.Syalom saudara/i LoveSeed by Sarah yang terkasih di dalam Kristus,
Renungan hari ini saya ambil dari ayat berikut:
📔 Keluaran 16:15-18, 26-30, 35 (TB)
Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: ”Apakah ini?” Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: ”Inilah roti yang diberikan Tuhan kepadamu menjadi makananmu. Beginilah perintah Tuhan: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa.” Demikianlah diperbuat orang Israel; mereka mengumpulkan, ada yang banyak, ada yang sedikit. Ketika mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya.Enam hari lamanya kamu memungutnya, tetapi pada hari yang ketujuh ada sabat; maka roti itu tidak ada pada hari itu.Tetapi ketika pada hari ketujuh ada dari bangsa itu yang keluar memungutnya, tidaklah mereka mendapatnya. Sebab itu Tuhan berfirman kepada Musa: ”Berapa lama lagi kamu menolak mengikuti segala perintah-Ku dan hukum-Ku? Perhatikanlah, Tuhan telah memberikan sabat itu kepadamu; itulah sebabnya pada hari keenam Ia memberikan kepadamu roti untuk dua hari. Tinggallah kamu di tempatmu masing-masing, seorang pun tidak boleh keluar dari tempatnya pada hari ketujuh itu.” Lalu beristirahatlah bangsa itu pada hari ketujuh.Orang Israel makan manna empat puluh tahun lamanya, sampai mereka tiba di tanah yang didiami orang; mereka makan manna sampai tiba di perbatasan tanah Kanaan.
Di tengah banyak masalah hidup, di tengah penantian, saya pelajari kita dibawa belajar untuk mengarahkan pandangan kita, bukan hanya kepada mujizat yang kita harapkan dan yang sanggup Tuhan buat, tapi untuk mengarahkan pandangan kita kepada:• bahwa meskipun mujizat yang kita harapkan belum terjadi, atau bahkan mungkin tidak akan terjadi sesuai keinginan kita, tapi di tengah padang gurun sekalipun Allah tetap sediakan manna setiap hari. Tuhan sediakan manna secukupnya setiap hari, sampai kita tiba di perbatasan tanah ‘Kanaan’, yaitu tanah yang Tuhan janjikan bagi masing-masing kita untuk dimasuki dan menjadi bagian kita.
Bukan Tuhan tidak bisa membuat mujizat. Dia tetap membuat mujizat setiap hari dan kalau kita masih hidup sampai hari ini, itu karena karya kasih dan mujizat-Nya yang terbesar bagi kita. Hanya saja, seringkali kita tidak sadar akan mujizat-Nya, karena masalahnya terletak pada mujizat yang Dia buat tidak seperti mujizat yang kita harapkan. Apa yang kita anggap mujizat tidak sama dengan mujizat yang sudah Allah sediakan buat kita. Jadi, kita hanya terfokus dengan apa yang kita inginkan, maka kita tidak bisa melihat mujizat yang sebetulnya sudah ada di depan mata kita, tapi kita tetap berkesimpulan, “belum ada atau belum terjadi mujizat”, karena mujizatNya tidak sesuai dengan mujizat yang kita harapkan. Bukan mujizat Tuhan yang harus menyesuaikan dengan kemauan kita, tapi seharusnya kita lah yang menyesuaikan diri, dan ekspektasi kita akan mujizat, dengan keinginan Allah. Jangan kita mengecilkan dan membatasi arti mujizat Allah dengan pengertian kita, tetapi kita lah yang harus belajar memahami Allah melalui apa saja mujizat yang Ia buat untuk kita, meskipun itu tidak sesuai dengan yang kita harapkan.
📖 Keluaran 16:12 (TB)
“Aku telah mendengar sungut-sungut orang Israel; katakanlah kepada mereka: Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah Tuhan, Allahmu.”
Meskipun terkadang kita begitu ‘menjengkelkan’, dalam artian banyak maunya padahal tidak pernah mengerti maunya, Allah kita tetap baik dan panjang sabar terhadap anak-anak-Nya. Di tengah itu juga Tuhan mengajarkan kita juga untuk mengenal dan mengerti Dia lebih lagi melalui cara kerja dan cara berpikir-Nya. Allah mengajar dan menunggu kita untuk melepaskan segala keinginan-keinginan kita dan kekhawatiran kita, untuk kita mulai berserah penuh pada kedaulatan-Nya atas hidup kita. Kita juga diajar untuk memahami lebih lagi, secara sadar dan mengerti, bahwa hidup orang percaya adalah sepenuhnya milik Tuhan, bukan milik kita lagi. Hidup kita sepenuhnya diatur oleh kehendak-Nya, bukan oleh keinginan kita lagi. Karena, kita bisa berkemenangan hanya kalau kita mengerti dan berjalan dalam kehendak-Nya. Sehingga, kita tahu bahwa Dialah Tuhan, Allah kita. Manna-Nya selalu tersedia setiap pagi bagi kita, tak habis-habisnya rahmat-Nya dan selalu baru tiap pagi, karena tak berkesudahan dan besar kesetiaan Tuhan (Ratapan 3:22-23 TB). Hanya, kita perlu berhenti sejenak dan ingat kebaikan-Nya. Dalam satu minggu ini, sampai hari ini, sudah 3 kali muncul ayat Yeremia 29:11 TB yang berbicara pada saya 💜🌱. Manna-Nya dalam Yeremia 29:11 TB adalah manna-ku selama seminggu ini. Apa manna-mu hari ini? 🙂God bless you and keep you.
Yeremia 29:11 TB
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan , yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Minggu, 9 November 2025
🌸 LoveSeed by Sarah 🌹Di Mana Pun - Ke mana Pun - Sampai Kapan Pun, Asal Ada Yesus Bersamaku.Syalom saudara/i LoveSeed by Sarah yang terkasih di dalam Kristus,
Renungan hari ini saya ambil dari ayat berikut:
📔 Mazmur 139:8 (TB)
Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau.
Salah satu hal yang paling saya suka dari ayat ini ada dalam kalimat “jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau”. Buat saya, ini tentang kesetiaan Tuhan dan anugerah kasih Tuhan buat kita. Di sisi Tuhan, Dia selalu sertai anak-Nya ke mana pun. Karena, tidak ada tempat yang tidak bisa Tuhan masuki. Bahkan, tempat terburuk sekalipun berubah menjadi terbaik buat kita, karena ada Tuhan di sana bersama kita.
Di sisi kita, tidak ada lagi yang perlu kita takuti selama kita punya Tuhan. Hanya Tuhan andalan kita, bukan keadaan atau uang atau koneksi kita. Karena, firman ini jelas menunjukkan, bahwa di dalam dunia orang matipun, di tengah ‘api neraka’ sekalipun kita bisa nyaman di sana, karena ada Tuhan bersama kita. Neraka menjadi bukan lagi neraka, tetapi berubah jadi surga, selama ada Tuhan Yesus bersama kita di sana, karena di mana ada Yesus, di situ ada kehidupan, di situ ada ketentraman, di situ ada kesejukan dan damai sejahtera.
Saya teringat, dulu akan salah satu kesaksian perjalanan pribadi seorang hamba Tuhan yang saya pernah dengar. Ketika semakin naik level dan imannya diuji, Tuhan suatu kali bertanya kepada dia, sebutlah Pak Yusuf, “Yusuf, gimana kalau kamu, Aku masukkan ke neraka?” Pak Yusuf menjawab, “Tidak apa-apa, Tuhan, selama aku di nerakanya bareng Engkau”.
Kalau kita sadari, kebanyakan orang Kristen bukan mencari Tuhan, tapi mencari enaknya. Kalau setiap orang Kristen ditanya seperti itu, saya rasa belum tentu bisa menjawab seperti jawaban Pak Yusuf. Mengapa? Karena, kebanyakan orang Kristen, sadar maupun tidak sadar, mencari Tuhan hanya karena mencari sorga-Nya saja, bukan Pribadi-Nya. Padahal, di dalam PribadiNya itu lah sorganya. Kebanyakan orang Kristen hanya mencari Tuhan karena mencari berkat-Nya, bukan PribadiNya. Padahal, Pribadi-Nya itu sendiri lah berkatnya untuk kita. Fokus dan pandangan mata kebanyakan orang Kristen, mungkin termasuk saudara dan saya, terarah pada arah salah. Ditambah, manusia masa kini lapar dan haus akan mujizat, sehingga banyak orang hari-hari ini belajar tenaga dalam, yoga, dll. Saya mau katakan, kalau mujizat Tuhan bisa terjadi tanpa iman yang dibentuk melalui proses, maka tidak akan ada manusia yang pergi dukun dan menggunakan pesugihan contohnya. Karena, seringkali manusia ingin yang cepat dan mudah, sehingga menyerah dalam prosesnya. Padahal, mujizat Tuhan terjadi, meskipun banyak terjadi secara tiba-tiba atau instan sesuai kedaulatan Tuhan, tapi lebih banyak lagi juga mujizat Tuhan yang dialami anak-anak Tuhan harus melewati proses terlebih dahulu, melalui yang namanya ketaatan. Atau bahkan, tidak sedikit anak-anak Tuhan juga alami mujizat justru saat di tengah prosesnya. Sebenarnya, mujizat Tuhan itu bukan hanya ada di akhir sebuah perjalanan, tetapi mujizat Tuhan sudah ada sejak awal dan selalu ada di tengah proses untuk meneguhkan dan menguatkan langkah kita.
Ketika dalam proses yang melahirkan ketaatan, dan segala nilai dan karakter ilahi lainnya (ketulusan, kerendahan hati, melemah lembutkan, dsb.), di situlah esensi penyembahan kita yang sebenarnya kepada Allah, seperti lagu cinta untuk-Nya. Manusia sejatinya diciptakan sebagai penyembah-Nya, dan tugas kita baik di bumi maupun nanti di sorga, hanya untuk menyembah Allah. Hidup kita bukan milik kita, tapi milik Allah sepenuhnya. Dan hanya melalui penyembahan lah hidup kita menjadi bermakna dalam kekekalan. Dan, lewat proses yang boleh kita lalui bersama-Nya lah yang akan membuat kita sadar, bahwa cerita hidup kita dibuat-Nya menjadi simfoni penyembahan yang indah, yang dapat turut dinikmati oleh diri kita dan orang lain di sekitar kita. Dukun/iblis pun dapat membuat mujizat. Tapi, kalau dukun atau iblis yang membuat mujizat, walau instan tapi pasti menggunakan tumbal, dan buahnya kebinasaan. Tapi, mujizat Tuhan buahnya adalah keselamatan dan kekekalan.
Kalau kita orang-orang Kristen yang benar, seharusnya kita mengerti dan tidak perlu khawatir lagi akan penghidupan dan akan sesulit apapun yang kita hadapi. Karena, di dalam Yesus Kristus tidak ada lagi maut, tapi yang ada hanyalah hidup kekal. Di dalam Kristus tidak ada lagi kekalahan, tapi yang ada adalah kemenangan lepas kemenangan. Karena, semua sudah Dia diletakkan Allah di bawah tumpuan kaki Yesus Kristus. Kalau kita khawatir, itu sama dengan kita tidak percaya kepada Tuhan.
Saya rasa belum banyak orang Kristen betul-betul pahami ini. Baik kalau ada yang belum paham dan akan paham. Tapi, yang jadi persoalan adalah kalau ada yang tidak mau paham, karena terlalu fokus dengan mengejar berkat dan kenyamanan hidup. Padahal, sudah dikatakan, hidup kristen siap menderita dalam Kristus (1 Petrus 4:12-19 TB). Sebab, lewat penderitaan itu pasti akan nampak kemuliaan Allah dan nama Allah baru bisa dimuliakan. Bagaimana Allah dimuliakan tanpa ada yg mau menderita bersama-Nya?
Saya membagikan ini tidak hanya untuk saudara dapat merefleksikan diri, tanpa bermaksud menyinggung siapa pun, tapi juga sebagai sebuah catatan penting, termasuk untuk saya secara pribadi. Karena, bila saya yang menyampaikan hal ini, artinya terlebih saya harus bisa lebih melakukannya daripada orang-orang yang kepadanya saya bagikan renungan ini. Semua karena saya mengasihi anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan Allah. Sebab terlebih Allah mengasihi kita semua, termasuk saudara dan saya, maka saya mau mengasihi saudara dan diri saya seperti Kristus mengasihi kita semua. Happy Sunday and God bless you.
1 Petrus 4:12-13, 19 TB
Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya. Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.

Rabu, 12 November 2025
🌸 LoveSeed by Sarah 🌹Iman & Pengharapan Tidak Bisa Dipisahkan Dengan Kasih, Dan Sebaliknya.Syalom saudara/i LoveSeed by Sarah yang terkasih di dalam Kristus,Renungan yang hari ini ingin saya bagikan terdiri dari beberapa ayat Firman Tuhan dan renungannya berbicara tentang iman, pengharapan dan kasih. Kasih, perbuatan baik, bila dilakukan tanpa iman dan pengharapan yang benar kepada Yesus Kristus, maka itu tidak bisa menyelamatkanmu.
📖🆚
1 Tesalonika 5:8-11 TB
“Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan. Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia. Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.”📖🆚
Yohanes 14:15 TB
”Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”📖🆚
Titus 3:1-11 TSI
“Ingatkanlah juga seluruh anggota jemaat di sana untuk selalu menghormati semua pemimpin dan pemerintah, taat kepada mereka, dan selalu bersedia melakukan yang baik. Sampaikan kepada mereka supaya jangan menjelekkan orang lain, tetapi hidup damai dengan semua orang. Mereka juga harus lemah lembut dan sopan terhadap setiap orang. Karena dulu kita pun adalah orang bodoh yang tidak taat kepada Allah. Kita sesat dan terikat oleh bermacam-macam keinginan yang hanya menyenangkan tubuh jasmani. Kita juga penuh dengan iri hati dan rencana jahat. Orang-orang membenci kita dan kita membenci mereka. Namun, waktu kita dalam keadaan seperti itu, Allah Penyelamat kita menunjukkan kebaikan hati dan kasih-Nya kepada kita semua dengan membuka jalan keselamatan bagi kita. Kita diselamatkan bukan karena perbuatan-perbuatan baik kita, tetapi karena Dia sendiri mengasihani kita. Dia menyelamatkan kita melalui Roh-Nya yang membersihkan kita dari dosa, sehingga kita dilahirkan kembali dan mempunyai hidup yang baru. Dia mencurahkan Roh-Nya dengan sepenuhnya atas kita melalui Kristus Yesus, Penyelamat kita. Hanya karena kebaikan hati Allah saja kita sudah menjadi benar di mata-Nya! Tujuan dari semuanya itu adalah supaya kita menjadi anak-anak Allah yang berhak menerima hidup kekal. Itulah yang kita nantikan dengan yakin. Ajaran itu sungguh benar. Dan saya ingin kamu mengajarkan semuanya itu dengan tegas, sehingga orang-orang yang percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha untuk terus berbuat baik. Cara hidup seperti itulah yang pantas bagi kita sebagai pengikut Kristus dan berguna bagi semua orang. Janganlah melibatkan dirimu ketika ada yang bertengkar tentang ajaran Yahudi, misalnya kalau mereka bertengkar tentang nama-nama nenek moyang atau tentang hukum Taurat. Pertengkaran semacam itu tidak berguna dan hanya membuang waktu. Jadi, kalau ada orang yang membuat perpecahan karena suka bertengkar, kamu harus menegur dia satu sampai dua kali supaya dia berhenti. Kalau dia tetap membuat persoalan, jauhilah dia. Karena kamu tahu bahwa orang-orang seperti itu berdosa dan tidak mengikuti ajaran benar. Dosa-dosa mereka membuktikan bahwa mereka bersalah.”
🔵 Ayat di atas menunjukkan, bahwa iman dan pengharapan tidak bisa berdiri sendiri tanpa kasih yang benar. Demikian juga sebaliknya, kasih tidak bisa tanpa iman dan pengharapan yang benar.🌱 Perbuatan baik saja, tanpa iman dan pengharapan yang benar, tidak bisa menyelamatkanmu. Karena, tidak semua perbuatan baik adalah kasih.
Lantas, di dalam siapakah iman dan pengharapan yang benar itu? Firman Tuhan di Titus 3:7 (TSI), dalam kalimat “Itulah yang kita nantikan dengan yakin”, sedang berbicara tentang iman akan jalan keselamatan dan hidup kekal. Lewat ayat ini jelas dikatakan, bahwa Yesus Kristus lah yang menjadi jalan, dan yang hanya melalui-Nya lah kita bisa sampai kepada Allah Bapa. Jadi, iman dan pengharapan yang benar adalah iman dan pengharapan dalam Kristus.
🌱 Demikian juga sebaliknya, iman dan pengharapan yang benar dalam Kristus saja, tanpa perbuatan nyata kasih (bukan hanya sekedar perbuatan baik), juga tidak bisa menyelamatkanmu.
Kasih itu bukan sekedar pernyataan cinta di mulut dan lewat kata-kata, tapi kasih itu adalah pernyataan dari hati yang tulus dan perbuatan yang benar sesuai Firman Tuhan. Perbuatan baik hanya salah satu bentuk kasih dan tidak bisa mendefinisikan keseluruhan kasih sejati itu sendiri. Yang bisa mendefinisikan kata kasih dengan sempurna, lewat iman dan pengharapan kepada Allah Bapa dan lewat nyata perbuatan, hanya Yesus Kristus di atas kayu salib. Jadi, definisi kasih yang sejati hanya bisa kita mengerti melalui Firman Tuhan dan harus kita lakukan sesuai Firman Tuhan, bukan berdasarkan standar diri sendiri ataupun standar dunia. Karena, kasih versi dunia berbeda dengan kasih versi Allah. Kasih versi dunia bisa berbentuk cinta akan diri sendiri, nafsu, dll. Tapi, kasih versi Allah berbentuk mengasihi musuh, berkorban dan mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri, dsb.
📖🆚
1 Korintus 13:2-10 TB
“Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.”📖🆚
Lukas 18:7-8 TB
“Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: “Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”"
🔵 Dari kedua ayat di atas, kita melihat, bahwa karunia, mujizat, dan nubuat, semua kita terima karena anugerah. Semuanya dapat terjadi dan digunakan didasarkan oleh iman dan pengharapan kepada Tuhan Yesus Kristus. Iman dan pengharapan adanya di bumi dan untuk itu kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, mencari iman di bumi. Tapi, pengertian tentang apa itu kasih yang tertuang dalam ayat 1 Korintus 13:7 (TB), pada kalimat “Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu”, telah menunjukkan bahwa di dalam kasih, pasti ada iman dan pengharapan.
Tapi, iman dan pengharapan kita yang tidak sempurna itu akan lenyap, kelak tidak dibutuhkan lagi, sebab nanti akan langsung terjawab oleh kedatangan Dia, Sang Kasih dan yang Sempurna, yaitu Tuhan Yesus Kristus namaNya, untuk yang kedua kalinya. Hanya kasih yang bersifat kekal yang akan tetap tinggal. Ketika kita menyembah Tuhan, baik saat kita di bumi dan nanti di surga, semua didasarkan oleh kasih. Tanpa kasih, seseorang tidak bisa menyembah. Tanpa kasih, tanpa hati yang tulus, yang lemah lembut dan rendah hati, kita tidak bisa beriman dan berpengharapan dengan benar. Itu kenapa dikatakan dalam iman, pengharapan dan kasih, kasih lah yang terbesar. Dan itu juga menjawab mengapa hukum yang terutama yang dikatakan dan diajarkan Tuhan Yesus, adalah hukum kasih; kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Karena, kasih yang Yesus Kristus genapi (Ia tidak hanya katakan dan ajarkan kepada kita) lewat salib sudah mencakup keseluruhan hukum Taurat dan seluruh kitab para nabi (Matius 22:40 TB). Artinya, Yesus Kristus lah nabi yang terakhir, dan tidak ada lagi nabi Allah setelah Dia, karena yang Dia lakukan sempurna dan telah menyempurnakan nabi-nabi sebelumnya. Namun, kasih tidak dapat dipisahkan dari iman dan pengharapan.
📖🆚
1 Korintus 13:13 TB
“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”📖🆚
Matius 5:43-48 TB
“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”📖🆚
Matius 22:37-40 TB
“Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.””
🔵 Melalui ketiga ayat di atas, kita dapat mengerti, bahwa itu juga alasan mengapa Tuhan Yesus mengajarkan dan mempraktikkan kepada kita kasih yang sempurna, ketika Dia ada di bumi, yaitu supaya kita meneladani-Nya. Bahkan, ketika Dia sudah naik ke sorga pun, dia berikan kita Penolong yang lain, yaitu Roh Kudus-Nya, untuk menuntun kita berjalan dalam kasih yang sempurna yang telah digenapi di dalam Dia. Supaya, kita dimampukan untuk melakukannya dan kita dapat memancarkan kasih Allah yang sempurna itu kepada semua orang. Maka jelas, tidak ada keselamatan di luar Kristus. Dia lah Jalan dan Kebenaran dan Hidup.
📖🆚
Yohanes 14:16-20 TB
“Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.”📖🆚
Yohanes 16:13 TB
“Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia idak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datangt.”
🔵 Hanya Sang Kebenaran lah yang memiliki Roh Kebenaran, dan hanya Kebenaran lah yang dapat memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran. Kita adalah satu dengan Allah Bapa melalui Yesus Kristus, melalui salib-Nya, karena Dia adalah satu dengan Allah Bapa. Karena itu, menjadi satu dengan Allah : itu lah yang kita nantikan, yang hidup kita imani, dan yang kita harapkan.
Dari Firman Tuhan Yohanes 14:20 TB, dalam kalimat “Pada waktu itulah”, mungkin pertanyaan yang muncul adalah, “Kapan waktunya kita menjadi satu dengan Allah?”. Kapan waktunya, adalah waktu Sang Kebenaran itu sendiri, yaitu Tuhan Yesus Kristus, datang untuk yang kedua kalinya, karena hanya oleh Roh-Nya lah kita dapat dituntun dalam seluruh kebenaran. Jelas Yesus katakan, “Aku datang kembali kepadamu”, artinya pasti, dan bukan semoga ataupun mudah-mudahan. Ia tidak mengatakan, misalnya, “Aku mungkin/semoga/mudah-mudahan datang kembali kepadamu”. Maka kita tahu, saat Yesus Kristus datang yang kedua kalinya, pada saat itu genap lah iman dan pengharapanmu, berakhirlah penantianmu, karena kasih-Nya yang sempurna membuktikan, bahwa betul-betul Dia yang datang menjemputmu untuk masuk dalam Kerajaan-Nya yang tidak berzaman.
Perhatikan juga, dalam Yohanes 16:13 TB, pada kalimat “Ia tidak akan berkata-kata dari diri-nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang”, ini menunjukkan Yesus Kristus tidak hanya seorang nabi Allah, tapi juga di dalam Dia lah sempurna Kebenaran Allah, dan Ia lah Kebenaran itu. Maka, ini mengokohkan pernyataan saya sebelumnya, bahwa Yesus Kristus lah nabi yang terakhir, dan tidak ada nabi setelah Dia, karena di dalam Dia lah telah sempurna kebenaran Allah dinyatakan. Maka, tidak perlu ada lagi nabi Allah setelahnya. Dan bersyukurlah bila kita mengenal dan melihat Yesus Kristus penyelamat kita, sebab kita pasti mendapat bagian dalam kesempurnaan kebenaran itu, yaitu keselamatan kekal. Bagikanlah sukacita besar yang saudara dan saya terima ini kepada mereka yang belum mengenal dan belum melihat, karena itulah kerinduan Bapa.
Kesimpulannya, hanya Yesus Kristus lah satu-satunya Allah, Tuhan yang hidup, yang sanggup menyelamatkanmu dan memberikanmu kehidupan kekal di sorga. Saat kita menantikan kedatangan-Nya : bertekunlah dalam iman dan teguhkanlah pengharapanmu di dalam Yesus Kristus. Jagalah dan peliharalah hatimu, serta jadilah teladan dalam kasih seperti Kristus. Kira-Nya pelita injil menerangi hatimu dan menuntunmu pada keseluruhan kebenaran. In Jesus name, amen.
1 Tesalonika 5:8 TB
Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan.

Kamis, 13 November 2025
🌸 LoveSeed by Sarah 🌹Berikan yang Terbaik & Kerjakan dengan Kasih Untuk Perusahaan Terbesar & Terbaik di Alam Semesta.
(Giving Your Best Love for The Best & The Biggest ‘Company’ in The Universe).Syalom saudara/i LoveSeed by Sarah yang terkasih di dalam Kristus,
Renungan ini saya tulis untuk berbagai kalangan dan bagi semua profesi, baik di sekuler maupun di kerohanian.
Ada tiga poin yang ingin saya sampaikan.🌱 1. “Bersyukur karena namamu tercatat dalam kitab kehidupan”.
Biarlah sukacita dan rasa syukur kita bukan karena saudara dan saya melihat kuasa Tuhan terjadi atas seseorang melalui kita (misalnya, dia jadi sembuh, bertobat oleh karena melihat Kristus dalam hidupmu, dilepaskan dari kuasa gelap, dsb.). Biarlah sukacita dan rasa syukur kita juga bukan karena Allah menyatakan kemuliaan-Nya dan menjamah seseorang lewat diri kita. Poin yang terlintas di hati ini mengingatkan saya akan Firman Tuhan di,
📔 Lukas 10:20 (TB)
Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.
🌱 2. “Jangan aku sendiri ditolak”.
Poin kedua ini mengingatkan saya akan ayat yang ternyata ada di bawah perikop “Hak dan Kewajiban Rasul”,
📔 1 Korintus 9:27 (TB)
Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.
🌱 3. “Seharusnya kita merasa bangga dan terhormat sekali, kalau boleh bekerja dan melayani untuk Tuhan dan Kerajaan Sorga, sama seperti dan bahkan melebihi daripada kalau kita diterima bekerja di perusahaan bonafit (sering orang menyebutnya : big 4 companies) atau di sebuah istana kepresidenan/kerajaan”.
Kalau kita mau sadari, sebetulnya bekerja untuk Tuhan dan melayani Kerajaan Sorga itu adalah sebuah kehormatan yang melebihi apa pun. Bayangkan saja, seharusnya kita merasakan euforia yang sama seperti, bahkan melebihi daripada, kita diterima bekerja di suatu perusahaan bonafit dan bergengsi (big 4 companies) atau di sebuah istana kepresidenan/kerajaan. Ibaratnya, bekerja untuk Tuhan kita seharusnya bisa disadari sebagai pekerjaan yang paling diminati, paling dicari atau ‘sought after’, melebihi dari big 4 companies itu. Kalau saya gambarkan, Kerajaan Sorga merupakan the best and the biggest company, not only on earth but, in the universe. Sebab, pekerja-pekerja Tuhan ada di berbagai negara dan memiliki perannya masing-masing yang menghasilkan dampak melampaui batas kepentingan kelompok tertentu, tapi semua bersatu dan bergerak dengan satu tujuan mulia Allah, yaitu keselamatan kekal. How cool is that?
Itu tiga poin perenungan penting hari ini untuk kita semua, baik yang melayani Tuhan di sekuler, maupun yang melayani Tuhan part-time ataupun full-time. Karena, di mana pun saudara dan saya berada, apapun yang dipercayakan kepada kita untuk dikerjakan, ketahui bahwa, semuanya milik Tuhan dan untuk kemuliaan Tuhan. Amen.
Berangkat dari tiga poin di atas, saya mau jelaskan lebih dalam lagi sebagai berikut. Bila kita dipakai Tuhan dan melihat kuasa Tuhan bekerja atas seseorang, misalnya orang yang kita doakan sembuh, orang terdekat kita bertobat karena melihat Kristus dalam hidupmu, seseorang yang kita doakan dilepaskan dari kuasa gelap, dsb. :
🔵 Jangan sombong, karena :
Pertama, kita tidak memiliki kuasa apapun, tapi Allah lah yang memiliki kuasa. Semua terjadi karena kuasa Tuhan yang diberikan kepada kita (Lukas 10:17-20 TB) untuk menyatakan kemuliaan-nya, untuk kita dapat menginjak ular kalajengking dan menahan kekuatan musuh, sehingga roh-roh itu takluk dan tidak ada yang membahayakan kita. Seperti yang dikatakan Tuhan Yesus kepada tujuh puluh murid-Nya, bahwa Dia melihat iblis jatuh seperti kilat dr langit dan mereka semua diberi kuasa itu, demikianlah kita. Manusia tidak bisa mengalahkan iblis dengan kekuatan apa pun, selain Tuhan Yesus. Tuhan Yesus memberikan kuasa dan otoritas-Nya itu kepada kita anak-anak-Nya. Kalau kita bisa menerima kuasa-Nya, itu hanya oleh karena pengorbanan salib dan kuasa darah-Nya. Kalau mujizat Allah boleh dikerjakan-Nya kepada seseorang melalui kita, itu semua karena rencana keselamatan yang mulia harus Allah nyatakan bagi orang itu. Kuasa-Nya diberikan dan dinyatakan melalui kita, bukan untuk menyatakan siapa kita, tetapi untuk menyatakan siapa Dia, dan biar nama Allah dimuliakan di atas segalanya.
Kedua, meskipun tidak selalu, tapi kalau kuasa-Nya dinyatakan melalui kita, bisa jadi, itu menunjukkan bahwa Tuhan beserta kita, dan artinya kita adalah seseorang yang sudah terdaftar namanya sebagai ‘calon’ penerima anugerah keselamatan dan dipercaya oleh Tuhan untuk bekerja bagi Dia. Seperti kata Paulus, bahwa orang-orang yang menerima mujizat Allah melalui kita, mereka adalah meterai kerasulanmu (1 Korintus 9:2 TB). Saya katakan ‘calon’ dalam kalimat “seseorang yang sudah terdaftar namanya sebagai ‘calon’ penerima anugerah keselamatan”, karena memang Tuhan sudah memberikan kepastian keselamatan itu kepada saudara dan saya, namun kita tetap harus bekerja dan berjuang sampai akhir untuk mempertahankan mahkota abadi yang sudah diberikan-Nya.
Saya katakan jangan sombong, juga maksudnya adalah janganlah kita menjadi seperti orang dunia yang belajar ilmu, yang ketika sudah belajar semua dan terbukti bisa mempraktikkan kehebatan ilmu itu, kemudian orang itu menjadi sombong. Misalnya, semua orang mau dilawan dan diancam, karena merasa yang paling besar, atau, karena merasa tidak ada yang tidak bisa dia kalahkan, tidak ada yang tidak bisa dia lakukan. Itu semua adalah bentuk kepercayaan pada diri sendiri serta kesombongan yang dibalut dengan kebanggaan pada Tuhan dan kebesaran nama Tuhan. Padahal, kebahagiaan dan kepuasanmu harusnya berbeda dengan kebahagiaan dan kepuasan dunia.
🔵 Jangan klaim barang yang bukan milik kita, karena kita ini hamba dan semuanya yang kita peroleh dan boleh nikmati di alam semesta ini, semuanya adalah milik Tuhan.📖🆚 1 Korintus 9:7 TB
“Siapakah yang pernah turut dalam peperangan atas biayanya sendiri? Siapakah yang menanami kebun anggur dan tidak memakan buahnya? Atau siapakah yang menggembalakan kawanan domba dan yang tidak minum susu domba itu?”.
Dari ayat di atas, saya tarik kesimpulan bahwa, kita ini seperti prajurit perang, pekerja kebun anggur dan gembala kawanan domba. Kita ini hamba/penanam/pekerja, bukan pemilik. Jangan klaim barang yang bukan milik kita, karena semuanya yang kita peroleh dan nikmati di alam semesta ini (misalnya, pohon dan buah anggur serta domba/bulunya/susunya/dagingnya), semuanya adalah milik Tuhan. Termasuk, karyawan yang atasan kita percayakan untuk kita pimpin, jemaat yang Tuhan percayakan untuk kita gembalakan, anak-anak yang Tuhan titipkan untuk kita rawat, murid-murid yang kita ajar, pekerjaan kita yang Tuhan percayakan untuk menjadi berkat bagi keluarga kita, dsb.
Meskipun semuanya milik Tuhan, namun kita diberi anugerah dan berkat untuk turut menikmatinya bersama Majikan kita, karena Allah kita murah hati. Seperti yang Firman Tuhan terkandung dalam Pengkhotbah 3:9, 12-13 TB, mengatakan “Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah? Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka. Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.”
🔵 Bekerjalah dengan ketulusan hati (Kolose 3:22-23 TB).
📖🆚 Kolose 3:22-23 TB
“Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”📖🆚 1 Korintus 9:12 TB
“Kalau orang lain mempunyai hak untuk mengharapkan hal itu dari pada kamu, bukankah kami mempunyai hak yang lebih besar? Tetapi kami tidak mempergunakan hak itu. Sebaliknya, kami menanggung segala sesuatu, supaya jangan kami mengadakan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus.”
Ayat dalam 1 Korintus 9:12 TB di atas, merupakan perkataan Paulus ketika ia menyatakan bahwa, ia, sebagai seorang rasul, dengan segala yang sudah dilakukan, pengorbanannya, bagi jemaat, maka ia teramat sangat punya hak untuk dilayani dan untuk meminta apa saja. Kalimat “menanggung segala sesuatu” adalah kasih (1 Korintus 13:7 TB). Artinya, jangan merasa berhak atas segala sesuatu, meskipun: betul kita sudah bekerja (1 Korintus 9:9-12 TB); betul kita harus bekerja dalam pengharapan; dan betul kita punya hak untuk menikmati hasil, tapi kita juga punya pilihan seperti Paulus untuk tidak menggunakan hak kita. Supaya, kita tidak menjadi rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus atau menjadi batu sandungan (1 Korintus 9:12 TB). Memberilah tanpa pamrih, atau jangan merasa berhak atas sesuatu, karena seberapapun pengorbanan kita dalam melayani Tuhan, baik dalam sekuler maupun kerohanian, tidak bisa dibandingkan dengan pengorbanan Yesus yang sudah terlebih dahulu berkorban untuk kita pekerja-pekerja-Nya Tuhan. Kita hamba yang melayani Tuhan, bukan melayani pekerjaan Tuhan.
📖🆚 Kolose 3:22-25 TB
“Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang.”
Mengertilah bahwa semuanya milik Tuhan, dan memberi upah adalah bagian Tuhan, bukan kita (Kolose 3:24 TB, Matius 6:1-4 TB). Jangan akhirnya kita jadi sombong, pamrih, dan haus pujian. Bila demikian, artinya kita sudah mendapat upah kita di dunia yang dapat dimakan ngengat dan karat (matius 6:19 TB, baca: tidak kekal), dan Tuhan tidak perlu lagi membayar upahmu. Di atas semuanya itu, dengan bertindak demikian kita menjadi bersalah di mata Tuhan dan kita harus menanggung kesalahan kita, karena Tuhan tidak memandang orang (Kolose 3:22-25 TB). Padahal, kita tidak perlu khawatir soal upah kita. Dalam Matius 6:18 TB dikatakan bahwa, “Allah yang melihat yang tersembunyi dan akan membalas kepadamu”, artinya jangan lewatkan upah yang kekal yang Tuhan sudah sediakan bagimu.
📖🆚 Matius 6:24 TB
“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
Dengan kita pamrih, juga artinya kita tidak mengabdi kepada Tuhan, tapi kepada kedagingan diri kita sendiri (Matius 6:24 TB). Jangan sampai pujian, penerimaan manusia, pencapaian2, yang jadi berhalamu. Tapi, biarlah hanya Tuhan yang menjadi tuanmu satu-satunya.
Jadi, mengapa kita harus bekerja dengan ketulusan hati? Karena, bila kita melayani di mezbah, penghidupan jasmani kita datangnya dari Allah sendiri (1 Korintus 9:13 TB). Penghidupan rohani kita datangnya dari pemberitaan Injil itu sendiri (1 Korintus 9:14 TB). Upah kita adalah melayani Raja di atas segala raja. Kalau kita boleh diberi kesempatan melayani-Nya, itu adalah anugerah terbesar (1 Korintus 9:18 TB). Upah atau bagian kita yang terbesar, dan yang seharusnya menjadi tujuan kita paling utama, adalah Allah sendiri. Bukan harta duniawi, bukan pujian, bukan kebesaran diri sendiri, bukan kemegahan diri. Karena, kita bukan seseorang yang berlari tanpa tujuan dan bukan seorang petinju yang sembarang memukul (1 Korintus 9:26 TB). Tapi, tujuan utama pekerja Sorga adalah untuk memperoleh mahkota abadi.
🍎 Pesan Tuhan :
“Jangan bimbang, jangan takut, karena Aku tahu yang akan kamu lakukan, katakan, pikirkan nanti. Aku pun juga terlebih tahu kalau kamu bisa jatuh, akan melewati kegagalan, bisa sombong, dan lainnya. Tapi, Aku percaya kepadamu, karena Aku tahu Aku ada di dalam kamu.”
Artinya, Tuhan selalu memberi kesempatan kepada kita, yang sebetulnya kalau secara dunia tidak pantas. Tapi, itulah kasih karunia, anugerah, kebaikan, kemurahan, kedaulatan serta otoritas Allah yang Ia nyatakan bagi kita semua anak-anak-Nya. Kasih menutupi segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, dan percaya segala sesuatu. Tidak ada dosa yang terlalu besar yang tidak dapat ditutupi oleh kasih Allah.
Maka dari itu, mari kita sama-sama menjawab-Nya:
“Yes Lord, Roh-Mu yang ada dalamku lebih besar daripada roh yang ada di dunia ini. Dan justru karena Engkau begitu percaya padaku, aku perlu Allah Roh Kudus lebih lagi daripada segalanya dan daripada sebelumnya. Biar apapun yang aku lalukan, aku ingat untuk: “bersyukur karena namaku tercatat dalam kitab kehidupan”, “jangan aku sendiri ditolak”, “bangga dan merasa terhormat melebihi apapun, bila masih diberikan kesempatan dan anugerah melayani Tuhan dan Kerajaan Sorga”. Biar semua yang aku lakukan hanyalah yang berkenan kepada Allah dan yang menyenangkan hati Tuhan. Semakin aku dipercayakan lebih, semakin aku tahu aku harus bergantung lebih lagi kepada-Mu. Aku perlu Engkau, Allah Roh Kudus, lebih lagi untuk jadi penasehatku yang ajaib di setiap saat. Pegang erat lebih lagi tanganku, karena semua hanya bisa jadi bukan karena kuatku, tapi kuat-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus, amin.”
1 Korintus 13:4-5,7 TB
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Selasa, 2 Desember 2025
🌸 LoveSeed by Sarah 🌹Secukupnya.
Syalom saudara/i LoveSeed by Sarah yang terkasih di dalam Kristus, sebelum membaca renungan ini, saya mengajak saudara sekalian untuk mengangkat pujian berikut selagi, maupun setelah, membaca renungan ini :
Setiap hari berjalan bersama Yesus Kristus, pertumbuhan iman kita pasti tidak bisa lepas dari kasih karunia-Nya dan kuasa kebangkitan-Nya, dari lahir-Nya sampai kenaikan-Nya, yang hidup sampai hari ini. Tidak terasa setahun berlalu lagi dan sebentar lagi kita merayakan natal 2025 untuk memperingati hari lahirnya Sang Juruselamat kita semua. Ada pesan natal yang ingin saya bagikan di akhir renungan ini, namun sebelumnya izinkan saya membagikan Firman Tuhan tentang kata “secukupnya”, yang datang saat saya memanen seledri dari kebun sendiri.
Awal benih seledri ini dari sampah dapur saja, yang saya tancapkan sisa akarnya ke tanah, daripada dibuang. Saya pikir, mana tahu tumbuh? Ternyata benar tumbuh, meski memang setelah beberapa kali percobaan dan gagal, tidak mudah, karena rentan busuk. Tapi yang terakhir ternyata berhasil, hanya perlu dibersihkan (pruning) supaya tumbuhnya lebih baik, lebih banyak batang dan daunnya.
Singkat cerita, hari ini saya panen seledrinya. Saya tidak menyangka ternyata wangi nya sangat segar dan semerbak, berbeda dengan yang kalau kita beli di pasar. Batangnya juga kokoh, tidak selembek seperti yang tersedia di pasar. Kekurangan hasil panen kebun sendiri yang natural ini, memang tidak sepanjang dan selebat kalau kita beli di pasar. Tapi, dari panen seledri dan hasil panen lainnya (cabai), saya mendengar kata “secukupnya”.
Tumbuhan di kebun saya semuanya dirawat secara natural: tidak pakai pupuk, tidak pakai perangsang, atau bahan kimia lainnya. Bahan kimia yang dijual di tukang kebun biasanya beragam, ada yang untuk pertumbuhan akar, daun, maupun buah, yang biasanya bertujuan untuk akarnya jadi lebih banyak, ukuran daun serta buahnya lebih besar, lebih lebat, dan warna daun serta buahnya lebih menarik. Karena perawatan tumbuhan saya tanpa bahan kimia, maka hasil panen kebun saya pun secukupnya, sesuai yang secara naturalnya Tuhan tumbuhkan di lahan sisa depan rumah. Awalnya saya tidak yakin apakah ada tumbuhan yang bisa tumbuh subur di sana, tapi hari ini di kebun saya tumbuh pohon cabai, seledri, pohon alpukat, dan tanaman hias lainnya. Setiap hari cabai dan seledri juga terus tumbuh dan berbuah. Meski tidak bisa setiap hari panen, dan sekali panen cabai mungkin hanya beberapa buah. Terlihatnya sedikit, tapi saya sadari kalau saya tidak pernah kekurangan cabai. Seledri pun bisa petik secukupnya untuk memasak ketika diperlukan, tidak kekurangan. Hanya saja, karena lahannya tidak besar dan pertumbuhannya alami apa adanya, saya tidak bisa menimbun karena sekali panen tidak bisa mengumpulkan sekaligus banyak dan semudah seperti tinggal beli dipasar. Saya harus menunggu beberapa bulan dan beberapa tahun sebelum terus berbuah dan saya harus menunggu beberapa hari sekali untuk memanen.
Dari secukupnya hasil berkebun ini, saya belajar jahatnya dunia ini dengan konsumerisme dan kapitalisme yang ditawarkan. Pendekatan sistem kapitalisme dalam bisnis dan perekonomian telah membuat praktek konsumerisme menjadi hal yang tidak disadari oleh kebanyakan manusia dan memengaruhi perilaku manusia dalam segala aspek kehidupannya. Sebagai bukti dari akibatnya, manusia sekarang mau segala sesuatunya serba cepat dan banyak dari mereka menakar ukuran baik dari seberapa banyak mereka mendapatkan sesuatu. Seolah, kalau serba cepat, maka kebutuhan hidup mereka aman terpenuhi dan tidak akan pernah kekurangan, sehingga hidup manusia sekarang seperti dikejar-kejar waktu. 24 jam sehari terasa kurang waktunya untuk bekerja, bahkan tidak sedikit jadi mengorbankan hubungan dengan Tuhan dan keluarga. Seolah, kalau serba banyak, baru artinya sukses dan berkelimpahan.
Perhatikan Firman Tuhan dalam Keluaran 16:2-3 TB, ‘Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun; dan berkata kepada mereka: ”Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan Tuhan ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.”’ Tabiat manusia yang buruk karena kapitalisme dan konsumerisme sebetulnya sudah tercermin sejak jauh dahulu kala. Bangsa Israel pada saat itu, dan manusia sekarang, sangat mudah hilang harapan dan berprasangka buruk kepada Tuhan. Jemaah Israel berpikir bahwa Tuhan mau membunuh dan membiarkan mereka mati kelaparan dengan tangan Tuhan. Padahal Firman Tuhan dalam Yeremia 29:11 TB jelas mengatakan, bahwa tidak ada satupun rancangan kejahatan maupun kecelakaan yang lahir dari Tuhan, tapi yang ada pada-Nya hanyalah rancangan damai sejahtera dan masa depan yang penuh dengan harapan bagi kita. Dan, Firman-Nya dalam Ibrani 16:9 TB pun mengatakan, bahwa Yesus Kristus menganugerahkan keamanan bagi jiwa kita, karena pengharapan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus adalah sauh yang kuat. Sebaliknya, kembali kepada Firman Tuhan dalam Keluaran 16:2-3 TB kita dapat melihat yang sepatutnya disangkakan hal yang buruk adalah manusia itu sendiri. Jemaah Israel hanya mementingkan urusan jasmani perutnya saja dan yang mereka pikir yang terbaik adalah mati dalam keadaan kenyang. Namun, meskipun dengan segala ketidaksempurnaan manusia menyakiti Allah dengan berbuat tidak setia, Allah tetap selalu setia dan mengasihi kita. Karena kasih Allah, maka Roh Kudus dicurahkan-Nya dan kuasa-Nya sanggup melepaskan manusia belenggu dosa. Roh Kudus-Nya juga selalu sabar menuntun kita sampai kita mengerti kebenaran yang sesungguhnya di dalam Kristus. Sampai-sampai, Paulus dalam Filipi 1:21 TB dapat berkata, “hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan-keuntungannya”, yang artinya hidup orang-orang benar dipersembahkan hanya bagi Allah dan tidak ada ketakutan akan kematian oleh sebab apapun lagi, oleh sebab maut sudah dikalahkan oleh Kristus dan digantikan-Nya dengan hidup kekal bagi semua manusia.
Alih-alih kenyamanan hidup yang ditawarkan dunia melalui kapitalisme dan konsumerisme, saya bangga Allah kita Yesus Kristus mengajarkan kita berdoa untuk meminta makanan yang secukupnya. Firman Tuhan dalam Matius 6:11 TB mengajarkan Doa Bapa Kami, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”. Lalu, Amsal Salomo juga membagikan hikmat Allah dalam Amsal 25:16 TB, “Kalau engkau mendapat madu, makanlah secukupnya, jangan sampai engkau terlalu kenyang dengan itu, lalu memuntahkannya.” Rasul Paulus dalam 1 Timotius 6:8-10 TB mengatakan, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” Bahkan, jauh dalam perjanjian lama pun, saat bangsa Israel berada di perjalanan selama 40 tahun menuju tanah perjanjian, Allah menyediakan manna setiap hari. Dalam Keluaran 16:16 TB mengatak, “Beginilah perintah Tuhan : Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa.” Setiap orang diperintahkan Allah untuk memungut manna hanya sesuai keperluannya, tidak kurang dan tidak lebih. Meskipun mereka mengumpulkan ada yang banyak dan ada yang sedikit, tapi ketika mereka menakarnya, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Jadi, tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya untuk pagi hari itu saja (Keluaran 16:17-18 TB). Pun bila mereka mengambil lebih dari yang diperlukan hari itu, maka besok pagi manna itu berulat dan berbau busuk. Kecuali pada hari keenam, sebab Allah peduli, Allah tahu, Allah mengerti, bahwa hari ketujuh adalah hari sabat yang kudus buat Tuhan, hari perhentian penuh, sehingga mereka diperbolehkan mengumpulkan dua kali lipat pada hari yang keenam dan manna itu tidak berulat dan berbau busuk pada hari ketujuhnya (Keluaran 16:21-24 TB). Selain itu, Tuhan pun menyediakan manna itu secukupnya saja bagi mereka, yaitu hanya sampai matahari panas, maka setelahnya manna itu pun mencair dan bangsa Israel tidak dapat memungutnya lagi. Mereka harus menunggu manna disediakan kembali esok paginya. Manna itu pun diberikan Tuhan untuk memelihara bangsa Israel tepat selama 40 tahun di padang gurun, tidak kurang dan tidak lebih, dan manna berhenti disediakan begitu mereka sampai tanah yang didiami orang, yaitu di perbatasan tanah Kanaan yang dijanjikan (Keluaran 16:35 TB). Coba bandingkan bobot kata “cukup” menurut bangsa Israel saat itu dan kita hari ini, dengan bobot kata “cukup” yang dikatakan Firman-Nya dalam 2 Korintus 12:9-10 TB, ’Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.’ Bobot kata “cukup” menurut bangsa Israel saat itu dan kita hari ini, tentang jasmani dan kesementaraan. Tapi, bobot kata “cukup” menurut Allah bagi kita adalah tentang rohani dan kekekalan. Betapa ajaibnya kasih Tuhan buat kita, bukan?
Maka itu, janganlah kamu khawatir untuk apa yang hendak kamu makan, minum, dan pakai, sebab Bapamu di sorga memelihara kamu. Kalau orang jahat tahu memberi yang baik kepada anaknya, apalagi Bapamu yang di sorga! Dalam Matius 6:26-34 TB Yesus mengajarkan, “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Di sini bukan berarti kita tidak usah susah-susah bekerja, berjuang, dan mengusahakan. Jangan seenaknya mempermainkan kasih anugerah Tuhan. Tapi, yang saya mau katakan Firman-nya berkata, bahwa sekalipun kita berada dalam keadaan, yang sepertinya, antara hidup dan mati, Dia Allah yang tetap pegang kendali hidup dan matimu, lambang pemerintahan ada di atas bahu Tuhan Yesus Kristus, Sang Raja Damai kita, langit takhta-Nya dan bumi lah tumpuan kaki-Nya, Dia Allah yang memeliharamu dan memperhatikanmu (Ayub 12:10 TB, Yesaya 9:5, 66:1 TB).
Kita khawatir bukan karena berkat Tuhan itu kurang buat kita, tapi karena kita kurang percaya, tapi karena kita belum mengenal Allah. Rasa cukup dan rasa syukur kita yang kurang, karena rasa aman kita digantungkan pada kenyataan keadaan yang terlihat depan mata, bukan kepada Pribadi Allah dan kasih kuasa-Nya. Padahal, kita yang mengerti identitas kita sebagai anak Allah, seharusnya apa kata Firman lah yang menjadi landasan percaya kita atas realita yang akan menjadi bagian kita. Masalahnya, bukan Firman-Nya yang tidak terbukti, tapi masalahnya manusia selalu mau yang cepat, padahal Allah suka membentuk kita dalam proses, yang artinya tangan Tuhan sedang merenda suatu karya yang agung dan mulia melalui proses itu dan itu membutuhkan waktu sampai firman-Nya termanifestasikan dalam realita kehidupan kita. Bila mau jujur, hidup manusia sekarang cenderung semakin mau hasil yang banyak dengan usaha yang sedikit, atau mau untung sebanyak-banyaknya dengan usaha seminim-minimnya. Padahal, Firman Tuhan sudah bilang, bahwa yang menabur banyak akan menuai banyak (2 Korintus 6:9 TB). Menabur yang saya bicarakan di sini bukan soal uang, tapi soal kerelaan hati dalam memberi kepada Tuhan. Mengasihi Tuhan, sebab Ia sudah terlebih dahulu setia mengasihi kita (1 Yohanes 4:19 TB).
Ketika awal saya mulai mempercantik rumah ini dengan kebun itu sebetulnya hanya karena ingin mengucap syukur kepada Tuhan, dengan merawat rumah kontrakan ini yang saya percaya di mana saya ditetapkan untuk tinggal di situ lah rumahnya Tuhan. Meski, ucapan syukur itu saya naikkan bukan dalam keadaan yang baik-baik saja, tapi justru saat saya dan suami sedang berada di tengah ujian dan keadaan sangat berat yang menyita hati dan pikiran, penuh tangisan, kekesalan dan kekecewaan. Saat itu, kami berada pada titik habis-habisan, masalah datang bertubi tidak berhenti, pengeluaran tidak terprediksi dan menguras tabungan, pusing ditipu teman sendiri yang menawarkan rumah kontrakan ini, ditambah diperhadapkan juga dengan pemilik kontrakan ini yang tidak memberi solusi. Jadi, di tengah keadaan yang sangat berat itu, saya rasa saya tidak bisa berbuat apa-apa selain mengucap syukur, tetap mengembalikan kebaikan Tuhan yang sudah saya rasakan sepanjang hidup saya, yaitu dengan cara membuat kebun ini. Sebab, saya sadari tantangan hidup yang saya lalui tidak akan pernah sebanding dengan kebaikan yang Tuhan sudah berikan kepada saya. kerelaan hati dalam memberi kepada Tuhan yang saya maksud di paragraf sebelumnya dan yang saya lakukan saat memulai kebun ini, adalah dengan memberikan segala pikiran saya, pengertian saya, kekhawatiran saya kepada Tuhan, membiarkan Tuhan menunjukkan pribadi-Nya sebagai Allah saya, dan membiarkan Dia yang bertindak menyelesaikan atas segala sesuatunya sebagai pemilik kedaulatan penuh dan pemelihara atas hidup saya. Dengan menaruh semuanya kepada Allah, saya menerima semuanya dari Dia, dan di dalam Dia saya senantiasa mendapatkan kekuatan melewati semuanya. Salah satunya, saya diberkati dengan keberadaan kebun ini dan dengan apa yang saya lihat dari hasil kebun hari ini, yang membuat saya berkesimpulan, bahwa Dia Allah yang selalu melakukan multiplikasi. Dia Allah yang selalu memberi yang terbaik, bahkan lebih dari apa yang saya doakan. Saya tidak hanya berkecukupan, tapi berkelebihan di dalam segalanya, dalam pelbagai kebajikan (2 korintus 9:6-15 TB). Bagaimana saya bisa berkata demikian?
Pertama, selain sebagai persembahan ucapan syukur kepada Tuhan, awalnya saya juga berpikir berkebun ini baik juga untuk saya latihan menanam, mengelola semua yang Tuhan berikan dengan sebaik-baiknya buat keluarga kami sebelum suatu hari nanti, kalau Tuhan berkehendak, dipercayakan rumah sendiri dengan kebun yang besar. Saya dan suami punya mimpi untuk bisa punya rumah dengan kebun buah-sayur dan hidup dari hasil kebun sendiri. Tapi, karena kami amatir, jadi konsep di logika kami itu kami pikir harus punya lahan yang besar, tidak mungkin lahan kecil. Supaya, kalau satu bagian kebun habis dipanen, masih ada bagian lainnya yang akan digilir untuk dipanen pada masa berikutnya, dan begitu seterusnya untuk produksi berkelanjutan. Selain itu, logika kami kenapa harus lahan besar, karena kalau lahannya kecil nanti hasil tanamannya hanya sedikit dan tidak mungkin bisa memenuhi kebutuhan pangan kami sehari-hari. Tapi ternyata, dari berkebun di lahan sisa ini mengajarkan saya cara Tuhan mencukupkan.
Hasil panen cabai pertama saya itu sedikit. Karena, saya pernah gagal menanam pohon cabai, mati pohonnya habis berbuah sekali, jadi saya pikir habis panen ini cabainya akan mati. Jadi, saat itu saya dilema, antara mau menikmati hasil pertama sendiri atau mau saya bagikan ke tetangga sebagai bentuk ucapan syukur kepada Tuhan atas berkat panen pertama. Tapi, akhirnya saya memutuskan untuk memberikan kepada tetangga sebelah rumah, karena kesempatan berbagi hasil panen itu tidak akan selalu ada. Saya berpikir itu akan jadi kesempatan yang pertama dan terakhir. Tapi, ternyata yang saya tidak pernah menyangka, bahwa hari ini di kulkas saya ada dua kotak cabai hasil panen, yang saya sendiri bingung mengolahnya dan bingung mau dibagikan kepada siapa lagi. Meskipun lahannya kecil dengan hasil panen yang sedikit-sedikit dan tidak selalu panen setiap hari, tapi ternyata hasilnya tetap dapat memenuhi kebutuhan cabai untuk rumah tangga kami. Malah lama-lama, perlahan tapi pasti, jadi melimpah juga, yang saya sendiri sampai tidak bisa menampungnya. Dari yang sebelumnya saya bingung antara mau konsumsi sendiri atau dibagikan, tapi ternyata sekarang malah saya yang bingung mau bagi ke siapa lagi, karena tidak mungkin bagi ke tetangga itu-itu lagi 🤣.
Kedua, ketika saya membagikan hasil panen itu pertama kali, tetangga kami senang sekali, karena kebetulannya anaknya suka sekali sambal dan mereka bisa langsung nyambel tanpa membeli dan pasti langsung habis. Saya percaya semuanya karena Tuhan baik yang memberkati saya dengan cukup, sehingga saya pun berkelimpahan bisa berbagi berkat itu ke orang di sekitar saya. Tidak hanya berbagi berkat dari hasil panen, tapi juga berbagi berkat lainnya yang boleh dirasakan mereka. Seperti contohnya, tetangga senang memandangi kebun saya setiap kali lewat untuk mereka “cuci mata”, karena menurut mereka lebat sekali, hijau, dan asri. Sejenak mereka bisa keluar dari hiruk-pikuk kesibukan hari-hari mereka dan mendapatkan ketenangan. Mereka juga senang serta turut mendukung yang saya lakukan, karena menurut mereka kebun saya turut menyumbang oksigen dan membuat udara bersih untuk sekitar.
Ketiga, tetangga saya pernah bilang, bahwa tangan saya adalah “tangan adem”. Awalnya saya tidak mengerti apa artinya, tapi kemudian dia menjelaskan, bahwa dia sudah mencoba menanam di lahan rumah dia, tapi tidak ada satu pun yang bertahan hidup. Sampai dia pun tidak berani ketika saya tawari bibit pohon saya untuk dia tanam di rumahnya, karena katanya sayang dan takut mati di tangan dia, jadi biar saya saja yang pelihara dan dia bisa menikmati pemandangan hijau di rumah saya. Jadi, saya pun baru mengerti, bahwa “tangan adem”, artinya apapun yang dipegang tangan saya itu tumbuh. Karena mereka sempat bertanya sama saya dengan heran, bagaimana saya cara menanamnya, pakai pupuk apa, dan mereka heran kok saya cuma pakai sampah dapur dan tanah, tidak ada yang lain. Mereka saja coba pakai kimia, beli bibit unggul, bikin pupuk kompos sendiri, dan pakai metode menanam macam-macam, tapi kok tidak tumbuh juga atau tidak bertahan. Sempat saya berikan satu anakan pohon cabainya, tapi dia bingung kok tumbuh subur seperti saya punya. Padahal, komplek yang sama, tanah yang sama, matahari dan air yang sama, anakan pohonnya juga dari saya, tapi hasilnya kenapa berbeda? Bahkan, karena mereka percaya saya memiliki “tangan adem”, sampai-sampai saya dikasih benih-benih yang dia punya di rumah untuk saya tanami. Puji Tuhan kalau kami dipercayakan dengan "anak-anak" dan kesaksian-kesaksian baru nanti, dari benih selada, benih bayam, dan benih kangkung 🪴.
Semua pujian yang mereka beri saya hanya katakan “Puji Tuhan”. Karena buat saya tidak pernah karena saya, tapi saya percaya semua ini semata-mata karena berkat Tuhan dan karya besar tangan Tuhan saja. Lewat testimoni tetangga, nyata buat saya, benarlah firman-Nya yang berkata, bahwa diberkatilah tangan orang yang mengasihi-Nya, apa pun yang dibuatnya berhasil. Bukan karena saya yang sudah benar, sudah sempurna mengasihi Dia, tapi buat saya terlebih nyata lah Dia Allah yang selama ini saya sembah adalah Allah yang benar, Allah yang hidup, dan apapun yang difirmankan-Nya jadi. Bukan tangan saya adem, tapi semua karena tangan Tuhan, karena anugerah berkat Tuhan, karena Allah yang menyertai, karena Allah sendiri yang berjanji dan karena firman-Nya sendiri yang dapat kita temukan dalam beberapa ayat berikut. Seperti dalam Mazmur 1:1-3 TB berkata, ’Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.’ Juga dalam Mazmur 5:12-13 TB berkata, ’Tetapi semua orang yang berlindung pada-Mu akan bersukacita, mereka akan bersorak-sorai selama-lamanya, karena Engkau menaungi mereka; dan karena Engkau akan bersukaria orang-orang yang mengasihi nama-Mu. Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya Tuhan ; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai.’ Dalam Kejadian 1:11-12, 29 TB berkata, 'Berfirmanlah Allah: ”Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.” Dan jadilah demikian. Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Berfirmanlah Allah: ”Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.’ Dalam Kejadian 26:12-13 TB berkata, 'Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati Tuhan. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.’ Dalam Kejadian 39:3, 41:49 TB berkata, ’Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai Tuhan dan bahwa Tuhan membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya,’ ‘Demikianlah Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut, sangat banyak, sehingga orang berhenti menghitungnya, karena memang tidak terhitung.’
Tuhan Yesus Kristus tidak pernah berjanji langit selalu biru, tetapi Dia, Allah Imanuel, Allah yang berjanji selalu menyertai kita. Ibrani 13:5 berkata, ’Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ”Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.’ Matius 1:23 TB berkata, ”Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” – yang berarti: Allah menyertai kita.'
Keempat, cara Tuhan melindungi dan memelihara kita belum tentu seturut logika kita. Tuhan itu ajaib, karena yang saya tidak tahu, Dia sudah terlebih dahulu tahu. Yeremia 29:11 TB berkata, 'Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.‘ Sejak awal kami berumah tangga, saya biasakan untuk selalu berdoa dan meminta tuntunan Tuhan terkait di mana kami tinggal. Dan, di tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya, suami saya menangkap, bahwa di mana pun tempat yang kami pilih, Tuhan sertai. Kami gelisah saat itu, karena kami takut salah memilih dan sebetulnya keinginan kami hanya apa yang Tuhan inginkan untuk kami pilih. Tapi, dengan keyakinan akan janji penyertaan-Nya, kami melangkah dan memilih pindah. Pertimbangan nya saat itu adalah kami ingin ukuran rumah yang lebih kecil supaya lebih mudah membersihkannya. Berjalannya waktu, kami menyadari ternyata kepindahan kami tidak luput dari izin-Nya. Dia tahu tahun ini gejolak ekonomi akan semakin tinggi dan tidak menentu, maka dengan pindahnya kami ke kontrakan baru ini, yang harga sewanya lebih murah, bukanlah sebuah kebetulan. Mustahil sebenarnya kalau kami bisa dapat harga sewa setahun yang setengahnya harga sewa kontrakan sebelumnya. Tapi, kami bersyukur tidak ada yang mustahil bagi Allah. Ditambah, masih ada kebunnya juga di kontrakan yang baru ini. Padahal, ada biayanya kalau mau mengontrak setahun lagi (setara harga kontrak 2 tahun di tempat yang baru) di tempat yang lama, mengingat pindahan pun memerlukan biaya, waktu dan tenaga. Tapi, pemeliharaan-Nya melihat panjang dan jauh ke depan melebihi dari apa yang saya dan suami dapat lihat. Kami percaya itu cara Tuhan memelihara kami untuk dua tahun ke depan, supaya meskipun tetap masih harus ada tantangan di kontrakan baru ini, tapi kami tidak sepusing kalau harga sewa kontrakan ini setinggi harga sewa kontrakan yang sebelumnya. Ditambah, saya bisa berkebun, yang mana kelimpahan Allah lebih dari sekedar harga sewa yang lebih murah dan apa yang dihasilkan kebun itu saja, tapi kelimpahan-nya adalah saya bertemu Pribadi-Nya di kebun saya ini. Jadi, ada saja sukacita, ada saja hikmat-hikmat Allah, yang menghidupkan saya di tengah tantangan-tantangan hidup ini.
Kesimpulannya, pengertian “secukupnya” kita itu terbatas dan tidak sama dengan makna “secukupnya” yang dari Tuhan yang Dia mau untuk kita pahami. Hidup berkelimpahan di dalam Tuhan, artinya hidup yang menjadi berkelimpahan KARENA secukupnya, DALAM secukupnya, dan kita jadi semakin berkelimpahan DARI secukupnya itu sendiri. Sadari, pahami, dan hargailah arti kata “secukupnya” dalam Firman Tuhan dengan hikmat Allah. Di dalam Tuhan, penyediaan-Nya itu secukupnya; mengumpulkan secukupnya, yang Tuhan sediakan secukupnya, dan disediakan dalam kurun waktu yang secukupnya. Penyediaan Tuhan itu secukupnya, tetapi secukupnya yang Tuhan sediakan untuk kita itu sebetulnya terukur dan sudah berkelimpahan untuk kita. Tapi masalahnya, kita tetap bisa khawatir dan takut, karena kita belum memahaminya melalui pikiran Kristus. Hal itu lah yang membuat kita sulit tunduk dan menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Kalau kita memahami kepenuhan, kelimpahan, “secukupnya” berdasarkan pengertian kita, itulah yang buat kita kehilangan segalanya. Kehilangan damai sejahtera, kehilangan sukacita, pikiran kita akan masa depan terasa gelap dan buntu, karena kita mengandalkan pengertian dan kekuatan kita sendiri untuk memahami perkara-perkara yang di atas. Tapi, apabila kita mau memahaminya melalui pikiran Kristus, dan apabila kita mengenal Pribadi Allah kita, maka pasti kita kaya akan segala sesuatunya. Kaya akan sukacita dan damai sejahtera, kaya akan hikmat dan pengetahuan, serta dapat menyaksikan pertolongan dan perbuatan-Nya yang ajaib, agung dan mulia, yang memikat hati kita dan yang membuat mata kita tertuju hanya kepada-Nya, sehingga kita menjadi selalu punya pengharapan akan hari depan di tengah masalah. Yang Allah ingin kita miliki adalah kepenuhan Allah, sehingga kita kaya akan segala sesuatunya (Kolose 1:17-23, 27-29 TB, Kolose 2:3, 9-12 TB). Kalau kita berjalan bersama Tuhan dan di dalam Tuhan, maka kita bisa mengerti, bahwa sesungguhnya dalam “secukupnya” itu kita sudah berkelimpahan. Cukup bukan kurang, dan berkelimpahan bukan berkelebihan atau bukan tentang jumlahnya banyak, tapi hati yang penuh syukur dan percaya penuh kepada Allah kita. Miliki rasa cukup dan jadilah berkelimpahan untuk siap dipakai dan dipercayakan perkara-perkara yang lebih besar.
Saya menutup renungan ini dengan pesan di musim Natal tahun 2025 ini, yang dapat kita renungkan hingga kita menyambut Natal lagi di tahun depan, sebagai berikut:Tuhan mau kita semakin mempunyai hubungan yang intim dengan-Nya, semakin terhubung, semakin terkoneksi, semakin menyatu dengan-Nya. Layaknya keintiman sebuah hubungan antara suami dan istri, demikianlah hubungan yang Tuhan rindukan dengan kita, yaitu saling percaya, saling mengasihi, saling mengerti, saling melayani. Tuhan Yesus sudah melakukan bagian-Nya selalu setia mengasihi kita, bagaimana dengan kita kepada-Nya? Kerinduan-Nya adalah supaya kita, mempelai perempuan-Nya semakin dilayakkan, semakin disempurnakan, semakin dikenan Allah, serta semakin siap untuk menyongsong Sang Mempelai Laki-Laki. Tuhan Yesus Kristus telah lahir, mati, bangkit dan naik ke sorga. Tuhan Yesus Kristus sudah terlebih dahulu mengasihi kita, di akhir dari zaman akhir ini, sambutlah ajakan-Nya dan jangan biarkan cinta dan kasih-Nya untukmu bertepuk sebelah tangan.
When you're down, you praise.
When you're sad, you praise.
When you're angry, you praise.
When you worry, you praise.
In any situations of your life, you praise the Lord.Worship Him on the mountain.
Worship Him in the valley.
Worshipping Him isn't about singing the songs, but you worship Him with all of your heart,
with all you are.Wait for the Lord.
Bless the Lord oh my soul,
worship His holy name and sing like never before.
Emmanuel and God bless you all.
Matius 6:34 TB
Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.

Accumsan orci faucibus id eu lorem semper. Eu ac iaculis ac nunc nisi lorem vulputate lorem neque cubilia ac in adipiscing in curae lobortis tortor primis integer massa adipiscing id nisi accumsan pellentesque commodo blandit enim arcu magna.
© Untitled. All rights reserved.
Text
Text
Text